Di akhir abad ke-19, saat Nusantara masih terbelenggu adat feodal dan kolonialisme Belanda, lahir seorang perempuan yang mengubah sejarah bukan dengan senjata, melainkan dengan pena dan kata-kata. Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, lahir pada 21 April 1879 di tengah keluarga bangsawan Jawa yang terpandang namun terperangkap dalam tradisi yang mengekang kaum perempuan.
Kartini tumbuh sebagai gadis yang haus ilmu. Beruntung, ayahnya termasuk bangsawan progresif yang menyekolahkan Kartini di ELS (Europeesche Lagere School), sekolah dasar Belanda yang menjadi kesempatan langka bagi perempuan pribumi saat itu. Di sanalah Kartini menguasai bahasa Belanda dengan fasih, yang kelak menjadi kunci bagi seluruh perjuangannya. Namun saat usianya menginjak 12 tahun, pintu dunia itu tertutup rapat. Ia harus menjalani pingitan, tradisi mengurung gadis bangsawan di dalam rumah, menjauhkannya dari dunia luar, menunggunya dipersunting.
Di balik tembok itulah Kartini menemukan senjata terampuhnya: surat. Sejak 1899 hingga menjelang wafatnya, ia menjalin persahabatan melalui surat-menyurat dengan sejumlah tokoh Belanda berpikiran maju, di antaranya Rosa Abendanon-Mandri, istri Direktur Departemen Pendidikan Hindia Belanda, serta Estelle “Stella” Zeehandelaar, seorang feminis muda dari Amsterdam. Kepada merekalah Kartini mencurahkan seluruh isi hatinya, kecerdasan, amarah, harapan, dan impian-impiannya tentang kebebasan perempuan Jawa.
Surat-surat itu bukan sekadar catatan harian. Mereka adalah manifesto. Kartini menulis dengan berani tentang betapa menyiksanya sistem kasta dan feodalisme, tentang perempuan-perempuan Jawa yang dipaksa menikah muda tanpa hak bersuara. Dalam salah satu suratnya ia menulis:
“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”
Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah diagnosis tajam atas kondisi perempuan Jawa dan sekaligus pengakuan bahwa pendidikan, sekali diberikan, tidak bisa ditarik kembali. Kartini memahami bahwa ilmu pengetahuan adalah pembebasan yang tak bisa dibelenggu kembali oleh adat seberapa pun kuatnya.
Ia juga menulis tentang kesetaraan dengan kejernihan yang jauh melampaui zamannya:
“Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat yang usang.”
Di sini terlihat kematangan berpikir Kartini yang luar biasa. Ia tidak memposisikan perjuangannya sebagai perang antara perempuan dan laki-laki, melainkan melawan sistem tradisi dan cara berpikir yang membelenggu semua pihak. Pemikiran ini bahkan terasa segar dibaca di abad ke-21, di tengah perdebatan kesetaraan gender yang masih terus berlangsung.
Kartini juga tidak hanya bermimpi, ia punya tekad yang membaja. Semboyannya yang terkenal berbunyi:
“Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan.”
Pada November 1903, Kartini dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang. Pernikahan ini bukan tanpa dilema. Kartini awalnya menolak gagasan perjodohan secara prinsip. Namun Singgih bukanlah sosok sembarangan, ia adalah bupati berpendidikan yang memahami visi Kartini dan berjanji mendukung cita-citanya mendirikan sekolah perempuan. Janji itu menjadi penentu. Kartini menerima pernikahan itu bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai kompromi strategis: ia menukar satu pintu yang tertutup dengan pintu lain yang mungkin bisa ia buka sendiri.
Dan janji itu ditepati. Di Rembang, dengan dukungan suaminya, Kartini mendirikan sekolah perempuan di samping kantor kabupaten, salah satu sekolah perempuan pertama yang didirikan oleh perempuan pribumi di Hindia Belanda. Murid-muridnya belajar membaca, menulis, dan berbagai keterampilan yang selama ini dianggap bukan hak perempuan.
Namun takdir berkata lain. Pada 13 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya Soesalit Djojoadhiningrat, Kartini wafat. Usianya baru 25 tahun. Namun jauh sebelum wafat, ia sudah menyadari bahwa perjuangannya mungkin tak akan ia saksikan hingga tuntas. Ia pernah menulis:
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya turut membantu mengadakan jalan menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”
Kalimat itu kini terasa seperti surat wasiat sekaligus nubuat yang terbukti benar.
Warisan Kartini tidak ikut terkubur. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya dan menerbitkannya pada 1911 dalam bahasa Belanda dengan judul Door Duisternis tot Licht. Pada 1922, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dan pada 1938, sastrawan Armijn Pane menerbitkan terjemahan bahasa Indonesia yang ia beri judul Habis Gelap Terbitlah Terang yang kemudian menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah pergerakan perempuan Asia.
Kisah Kartini bukan kisah seorang perempuan yang kalah. Ia adalah kisah tentang seseorang yang menolak diam, yang menjadikan keterbatasannya sebagai bahan bakar perlawanan. Di balik tembok pingitan yang mencoba mengungkungnya, Kartini menulis jalan keluarnya sendiri dan membukakan jalan itu bagi jutaan perempuan Indonesia sesudahnya. Dalam kata-katanya sendiri, habis gelap, terbitlah terang.
Daftar Pustaka
Kartini, R.A. (1938). Habis Gelap Terbitlah Terang (terjemahan Armijn Pane). Jakarta: Balai Pustaka.
Abendanon, J.H. (Ed.). (1911). Door Duisternis tot Licht: Gedachten over en voor het Javaansche Volk. Amsterdam: Uitgeverij Luctor et Emergo.
Sutrisno, S. (1979). Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya. Jakarta: Djambatan.
Isnawati, N. (2011). Gelap Terang Kartini: Sisi Lain Hidup dan Karya Sang Perempuan Perkasa. Yogyakarta: Pustaka Salomon.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































