foto masyarakat sedang bermusyawarah
Malam di Desa Paya Lhok, Aceh, biasanya diselimuti kesunyian yang dalam. Namun,
tidak demikian jika salah satu warga sedang mempersiapkan sebuah hajatan besar. Di sebuah
teras rumah yang diterangi lampu kuning temaram, kepulan asap kopi hitam beradu dengan
aroma penganan ringan yang tersaji di atas meja kayu. Puluhan pria duduk bersila melingkar,
menciptakan sebuah forum hangat yang jauh dari kesan kaku.
Suara jangkrik di kejauhan sesekali kalah oleh riuh rendah tawa dan diskusi serius mengenai
logistik desa. Inilah momen Duk Pakat, sebuah institusi musyawarah adat yang menjadi fondasi
kerukunan masyarakat setempat sebelum menggelar perhelatan penting. Di sini, ego individu
dilebur menjadi satu visi kolektif: menyukseskan acara sang tetangga.
Ritual Musyawarah: Lebih dari Sekadar Rapat, bagi masyarakat luar, menyiapkan pesta
pernikahan mungkin cukup dengan menyewa jasa Event Organizer (EO). Namun bagi warga
Aceh , khususnya Paya Lhok, mengandalkan jasa komersial dianggap “kering” secara sosial.
Mereka memiliki mekanisme sendiri yang jauh lebih humanis.
Foto pertama: Bapak Ruslan (60), saat menjelaskan pentingnya menjaga tradisi Duk
Pakat di Aceh, khususnya Paya Lhok.
“Tradisi ini sangat penting untuk membantu tuan rumah dalam mempermudah jalannya
acara,” ujar Ruslan (60), seorang warga Paya Lhok yang telah puluhan tahun menyaksikan
pasang surut tradisi ini. Sebagai sosok yang sering terlibat dalam urusan tata usaha dan sosial
di desanya, Ruslan memahami bahwa Duk Pakat adalah jembatan yang menghubungkan niat
baik tuan rumah dengan kesediaan warga untuk mengulurkan tangan secara sukarela.
Secara prosedural, Duk Pakat dilaksanakan sekitar sepuluh atau tujuh hari sebelum hari puncak
acara, baik itu Walimatul Urush (pernikahan) maupun sunat rasul. Forum ini adalah bentuk
nyata dari demokrasi akar rumput. Di sana, Geuchik (kepala desa) duduk sejajar dengan
perangkat desa, barisan pemuda kampung, hingga keluarga besar si pemilik rumah. Semuanya
hadir dengan satu tujuan, memastikan beban tuan rumah terbagi habis ke pundak orang
banyak.
Membagi Beban, Mengikat Persaudaraan. Dalam forum Duk Pakat, rencana matang
disusun layaknya operasi militer namun dengan pendekatan hati. Siapa yang akan bertanggung
jawab memegang kuali besar di dapur umum? Siapa yang akan menyambut tamu di depan
pintu? Hingga bagaimana pengaturan parkir agar tidak mengganggu ketertiban jalan desa?Semua detail ini diputuskan melalui mufakat. Uniknya, tradisi ini tidak mengenal kemewahan
dalam pelaksanaannya. Tidak ada dekorasi khusus atau kursi-kursi empuk. “Tidak ada
perlengkapan khusus, paling hanya ada pengeras suara agar suara mufakat terdengar jelas oleh
semua,” jelas Ruslan. Kesederhanaan ini justru mempertegas pesan utama tradisi ini, yakni
nilai “bantu-membantu”. Legitimasi sebuah keputusan tidak lahir dari kemegahan tempat
pertemuan, melainkan dari kehadiran dan persetujuan lisan para warga.
Ruslan menekankan bahwa inti dari Duk Pakat adalah “membersamai” satu sama lain. Di
forum ini, konflik-konflik kecil antar tetangga yang mungkin terjadi sehari-hari biasanya
mencair karena ada kepentingan yang lebih besar: menjaga martabat desa melalui kesuksesan
acara warganya.
Foto kedua: Acara Duk Pakat pada malam hari
Menepis Kekhawatiran di Era Digital di era di mana komunikasi sering kali hanya
berujung pada grup WhatsApp, muncul kekhawatiran bahwa tradisi tatap muka seperti Duk
Pakat akan ditinggalkan oleh generasi muda. Namun, realita di Paya Lhok berkata lain. Ruslan
mencatat dengan bangga bahwa minat generasi muda di daerahnya terhadap tradisi ini justru
tetap tinggi.
Para pemuda desa tidak hanya hadir sebagai pengamat atau pembawa baki kopi.
Mereka menjadi motor penggerak yang aktif memberikan pendapat, terutama terkait teknis
pelaksanaan yang membutuhkan tenaga fisik dan pemikiran modern. Hal ini menjadi bukti
bahwa Duk Pakat bukanlah fosil masa lalu yang dipaksakan untuk bertahan, melainkan
organisme hidup yang terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Hingga saat ini, belum ada perubahan signifikan dalam tata cara pelaksanaannya.
Keaslian prosesi ini tetap terjaga bukan karena masyarakat menutup diri dari perubahan, tetapi
karena mereka merasa tidak ada sistem modern yang mampu menggantikan rasa kepuasan
batin saat melihat tetangga terbantu melalui keringat bersama. Harapan untuk masa depan.
Menjelang tengah malam, saat gelas-gelas kopi mulai mengosong dan keputusan akhir telah
disepakati, forum Duk Pakat pun perlahan bubar. Tuan rumah kini bisa bernapas lega. Ia tidak
lagi memikul beban rencana sendirian. Rasa cemas akan kekurangan makanan atau kacaunya
parkir tamu telah luntur, berganti dengan rasa percaya diri karena ada “benteng” warga di
belakangnya.”Semoga tradisi ini tetap lestari sampai kapan pun,” harap Ruslan menutup
pembicaraan dengan senyum tulus. Harapan Ruslan adalah cerminan kegelisahan sekaligus
optimisme banyak tokoh masyarakat di Aceh. Mereka ingin memastikan bahwa di masa depan,
ketika teknologi mungkin sudah mengubah banyak aspek kehidupan, orang-orang di Paya
Lhok masih tetap mau duduk melingkar di teras rumah, menyeduh kopi, dan berkata, “Apa
yang bisa kami bantu?”, pada akhirnya, Duk Pakat mengajarkan kita bahwa kekayaan sebuah
masyarakat tidak diukur dari seberapa mewah pesta yang digelar, melainkan dari seberapa erat
ikatan persaudaraan yang terjalin di balik layarnya. Di tengah dunia yang semakin individualis,
Paya Lhok tetap berdiri teguh dengan pesan sederhananya: bahwa berat sama dipikul, ringan
sama dijinjing.
Narasumber:
Ruslan, 60 tahun ( salah satu masyarakat Paya Lhok)
Biodata Penulis:
Nama : Ulfa Mahira
Profesi dan Asal: Mahasiswi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































