PADANG – Nilai rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat banyak masyarakat mulai khawatir karena dampaknya perlahan mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Harga barang naik, biaya kebutuhan semakin besar, dan kondisi ekonomi terasa semakin berat. Di tengah situasi tersebut, Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan ini dilakukan agar nilai rupiah tidak terus turun. Namun, muncul pertanyaan atas kebijakan ini, apakah kenaikan BI Rate benar-benar bisa memperbaiki keadaan, atau justru malah menambah beban ekonomi masyarakat yang saat ini sudah cukup sulit.
Banyak orang sebenarnya belum terlalu memahami apa itu BI Rate. Secara sederhana, BI Rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Ketika BI Rate naik, bunga pinjaman di bank biasanya ikut naik. Tujuan utamanya adalah menarik investor agar menyimpan uang mereka di Indonesia sehingga nilai rupiah bisa kembali stabil. Pemerintah berharap dengan naiknya suku bunga, investor asing tidak menarik modal mereka keluar dari Indonesia. Karena itu, kebijakan ini dianggap penting untuk menjaga kondisi ekonomi negara.
Jika dilihat dari sisi teori ekonomi, langkah Bank Indonesia memang masuk akal. Saat ini kondisi ekonomi dunia sedang tidak stabil. Amerika Serikat masih memiliki suku bunga tinggi sehingga dolar menjadi semakin kuat. Akibatnya, banyak investor lebih memilih menyimpan uang mereka dalam bentuk dolar dibanding menanamkan modal di negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi inilah yang membuat nilai rupiah ikut tertekan. Dalam keadaan seperti ini, Bank Indonesia tentu tidak bisa tinggal diam melihat rupiah terus melemah.
Namun masalahnya, dampak kenaikan BI Rate tidak hanya dirasakan oleh investor atau pelaku pasar saja. Masyarakat biasa justru menjadi pihak yang paling cepat merasakan akibatnya. Ketika suku bunga naik, cicilan rumah bisa ikut naik, bunga pinjaman kendaraan bertambah, dan pinjaman usaha kecil menjadi lebih mahal. Orang yang memiliki usaha kecil tentu akan berpikir dua kali jika ingin meminjam modal ke bank. Begitu juga masyarakat yang masih memiliki cicilan bulanan, mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar dari sebelumnya.
Kondisi ini menjadi semakin sulit karena ekonomi masyarakat sebenarnya belum sepenuhnya stabil. Harga kebutuhan pokok masih sering naik, sementara pendapatan banyak masyarakat tetap sama. Di beberapa daerah, masyarakat mulai mengurangi pengeluaran karena kebutuhan hidup semakin mahal. Belum lagi kondisi lapangan kerja yang masih sulit. Banyak anak muda yang sudah lulus kuliah tetapi belum mendapatkan pekerjaan tetap. Dalam situasi seperti ini, kenaikan BI Rate justru membuat masyarakat semakin berhati-hati menggunakan uang mereka.
Jika masyarakat mulai mengurangi pengeluaran, perputaran ekonomi juga bisa melambat. Pedagang menjadi lebih sepi, usaha kecil sulit berkembang, dan daya beli masyarakat semakin turun. Padahal selama ini konsumsi masyarakat menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia. Artinya, kebijakan menaikkan BI Rate memang bisa membantu menjaga rupiah, tetapi di sisi lain juga berisiko membuat ekonomi masyarakat ikut melemah. Dampak seperti ini biasanya paling terasa bagi masyarakat kelas menengah dan bawah yang penghasilannya pas-pasan. Ketika harga kebutuhan naik dan cicilan bertambah mahal, ruang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lain menjadi semakin sempit.
Di sinilah muncul kritik terhadap kebijakan tersebut. Pemerintah dan Bank Indonesia terlihat lebih fokus menjaga stabilitas pasar dan nilai rupiah, tetapi kurang melihat kondisi nyata yang sedang dihadapi masyarakat. Bagi pemerintah, menjaga rupiah memang penting agar ekonomi negara tetap stabil. Namun bagi masyarakat kecil, yang lebih penting adalah harga kebutuhan tetap terjangkau dan kondisi ekonomi mereka tidak semakin sulit. Sebab pada akhirnya, masyarakatlah yang paling merasakan dampak dari setiap kebijakan ekonomi yang dibuat pemerintah.
Selain itu, kenaikan BI Rate juga belum tentu langsung membuat rupiah kembali kuat. Penyebab melemahnya rupiah saat ini bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga karena faktor global yang sulit dikendalikan Indonesia. Selama dolar Amerika masih kuat dan kondisi dunia belum stabil, tekanan terhadap rupiah kemungkinan tetap akan terjadi. Jadi, kenaikan BI Rate sebenarnya lebih banyak menjadi cara untuk menahan agar rupiah tidak jatuh lebih dalam, bukan benar-benar menyelesaikan masalah utama.
Jika dilihat lebih jauh, Indonesia juga masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap barang impor dan investasi asing. Ketika kondisi global terganggu, rupiah menjadi mudah ikut terkena dampaknya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ekonomi Indonesia bukan hanya soal naik atau turunnya BI Rate, tetapi juga soal bagaimana memperkuat ekonomi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada kondisi luar negeri.
Karena itu, pemerintah seharusnya tidak hanya bergantung pada kebijakan menaikkan suku bunga. Pemerintah juga perlu memperkuat ekonomi dalam negeri. Lapangan kerja harus diperbanyak, produksi dalam negeri perlu diperkuat, dan ketergantungan terhadap barang impor harus dikurangi. Selama Indonesia masih terlalu bergantung pada impor, permintaan dolar akan tetap tinggi dan rupiah akan terus mudah melemah ketika kondisi global sedang buruk. Kebijakan ekonomi seharusnya tidak hanya memikirkan stabilitas angka dan pasar keuangan saja. Pemerintah juga perlu melihat bagaimana kondisi masyarakat di lapangan. Kenaikan BI Rate mungkin memang diperlukan untuk menjaga rupiah, tetapi pemerintah juga harus memastikan bahwa masyarakat tidak menjadi pihak yang paling dirugikan. Sebab percuma jika nilai rupiah berhasil dijaga, tetapi kehidupan masyarakat justru semakin berat dari hari ke hari.
Oleh: Gilbran Muhammad Syahzwa, 2410843029 – Universitas Andalas
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































