Di balik ritme pekerjaan administrasi yang padat, ada suasana kekeluargaan yang selama ini tumbuh di ruang Tata Usaha MAN 1 Yogyakarta. Salah satu yang kerap menghadirkannya adalah Bahar Rozak, S.H. Dengan pembawaan yang santai dan sesekali diselingi humor ringan, sosok yang akrab disapa Pak Bahar itu dikenal sebagai pribadi yang hangat, bersahaja, dan mudah bergaul.
Tak banyak yang tahu, di luar pekerjaannya sebagai Kepala Tata Usaha, Bahar memiliki kegemaran berolahraga dan bernyanyi. Bukan di atas panggung besar, melainkan untuk dirinya sendiri. Baginya, bernyanyi adalah cara sederhana untuk menikmati hidup setelah menjalani hari-hari yang penuh dengan berkas, laporan, dan berbagai urusan administrasi madrasah.
Kini, setelah lebih dari tiga tahun menjadi bagian dari keluarga besar MAN 1 Yogyakarta, Bahar akan mengemban amanah baru sebagai Kepala Tata Usaha MAN 2 Bantul. Sebuah perjalanan baru yang sekaligus menandai berakhirnya salah satu bab penting dalam pengabdiannya di MAN 1 Yogyakarta.
Ketika ditanya siapa sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya, Bahar tidak menyebut tokoh terkenal, pejabat, ataupun guru besar. Jawabannya sederhana. “Ibu saya.” Ia mengenang almarhumah ibunya sebagai seorang janda yang membesarkan sepuluh anak dengan segala keterbatasan yang ada. Dari perempuan sederhana itulah ia belajar tentang kerja keras, keteguhan, dan ketulusan dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai itu pula yang kemudian membentuk dirinya hingga menjadi seperti sekarang.
Sebagai ayah dari tiga putri, Bahar mengaku selalu berusaha menanamkan semangat yang sama kepada anak-anaknya: bahwa keberhasilan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga tentang ketekunan dan tanggung jawab.
Karier Bahar di lingkungan madrasah bukanlah perjalanan yang singkat. Selama bertugas sebagai aparatur sipil negara, ia telah mengabdi di lima madrasah berbeda dan bekerja bersama sepuluh Kepala Madrasah. Pengalaman itu memberinya kesempatan melihat berbagai karakter kepemimpinan, budaya kerja, dan dinamika lembaga pendidikan.
Di MAN 1 Yogyakarta sendiri, ia mulai bertugas berdasarkan Surat Keputusan tertanggal September 2022 dan aktif bekerja sejak 1 Oktober 2022. Sejak saat itu, berbagai agenda besar, kunjungan penting, hingga perubahan sistem administrasi menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun, pengalaman panjang justru membuatnya semakin yakin bahwa setiap madrasah memiliki keunikan tersendiri. Menurutnya, MAN 1 Yogyakarta memiliki sesuatu yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. “Input muridnya memang sudah bagus. Anak-anaknya juga berbeda. Mereka punya semangat dan potensi yang luar biasa,” ujarnya.

Di balik sikapnya yang tenang, Bahar termasuk sosok yang memiliki perhatian besar terhadap kesejahteraan pegawai. Salah satu kebijakan yang paling ia syukuri selama bertugas di MAN 1 Yogyakarta adalah upaya menstandarkan gaji Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan Guru Tidak Tetap (GTT) agar mendekati standar Upah Minimum Regional (UMR). Bagi sebagian orang, kebijakan itu mungkin terlihat sebagai angka dalam laporan keuangan. Namun bagi para penerimanya, kebijakan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap kerja keras dan dedikasi yang selama ini mereka berikan kepada madrasah.
Menjadi Kepala Tata Usaha di madrasah besar seperti MAN 1 Yogyakarta juga menghadirkan pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahar pernah mendapat kesempatan duduk semeja dan makan berdampingan dengan mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Ada pula pengalaman menjemput langsung Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, di bandara. “Alhamdulillah bisa bertemu dan satu mobil dari bandara bersama beliau,” kenangnya.
Namun tidak semua pengalaman berjalan sesuai rencana. Suatu ketika, ia menunggu seorang ustaz yang dijadwalkan datang melalui bandara. Setelah menunggu cukup lama, ternyata sang tamu tidak jadi hadir. Pengalaman itu kini justru menjadi cerita yang sering dikenang dan ditertawakan bersama rekan-rekan kerja.
Ketika ditanya apa yang paling akan dirindukan dari MAN 1 Yogyakarta, jawabannya jauh dari urusan jabatan atau prestasi besar. Ia justru menyebut hal-hal sederhana. Makan bersama masakan rekan-rekan Tata Usaha. Berkumpul dan bercengkerama saat memilah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Momen-momen yang mungkin terlihat biasa, tetapi justru menjadi perekat hubungan kekeluargaan di lingkungan kerja. Sebab pada akhirnya, sebuah tempat kerja tidak hanya dibangun oleh gedung dan sistem, melainkan oleh orang-orang yang menghidupkannya setiap hari.
Sebentar lagi, Bahar akan memulai perjalanan baru di MAN 2 Bantul. Meski berpindah tempat tugas, harapannya untuk MAN 1 Yogyakarta tetap sama. Ia ingin madrasah ini terus berkembang, semakin berprestasi, dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah terbaik di Yogyakarta. Ia juga berharap semakin banyak murid MAN 1 Yogyakarta yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui berbagai jalur, baik SNBP, UTBK-SNBT, maupun seleksi mandiri. Harapan yang sederhana, tetapi lahir dari seseorang yang selama ini menyaksikan perjalanan madrasah dari dekat.
Mungkin nama Bahar tidak selalu muncul dalam berita-berita prestasi murid. Ia juga jarang berdiri di depan panggung saat acara besar berlangsung. Namun selama lebih dari tiga tahun terakhir, ada banyak pekerjaan yang berjalan baik karena ketelitian tangannya. Ada banyak urusan yang selesai karena kesabarannya. Ada banyak orang yang terbantu karena kesediaannya untuk mendengarkan. Dan seperti banyak pengabdian lainnya, jejak itu mungkin tidak selalu terlihat. Tetapi akan tetap tinggal dalam ingatan mereka yang pernah bekerja, belajar, dan tumbuh bersama sosok bernama Bahar Rozak.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































