Di sepanjang pesisir utara Jawa Timur, cangkang kerang kerap dibuang begitu saja sebagai limbah hasil tangkapan nelayan dan industri pengolahan hasil laut. Padahal, di tangan yang tepat, cangkang yang dianggap tak bernilai itu bisa menjelma menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi, bahkan menembus pasar mancanegara.
Salah satu contohnya adalah Delimabali, usaha kerajinan kulit kerang simping (capiz) yang dirintis oleh Atho’ul Khasib sejak 2013 di Desa Purwodadi, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Dari bahan yang sebagian besar diperoleh dari hasil alam, Delimabali memproduksi beragam produk dekorasi dan interior, mulai dari pigura, tempat tisu, hingga lampu gantung, yang produknya telah menembus pasar Bali, Jakarta, hingga mancanegara seperti Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat.
Namun, di balik capaian tersebut, tersimpan persoalan struktural yang tidak kalah penting. Produksi Delimabali masih terkonsentrasi pada kategori dekorasi interior yang itu-itu saja, sehingga segmentasi pasarnya relatif sempit. Sistem produksi yang seluruhnya bersifat make-to-order membuat usaha ini tidak memiliki stok siap jual untuk merespons permintaan pasar yang muncul secara mendadak. Ditambah lagi, kerang simping merupakan komoditas hasil alam yang tidak dibudidayakan, sehingga ketersediaannya kian terbatas dan mendorong naiknya biaya produksi.
Persoalan semacam ini sesungguhnya bukan hanya dialami Delimabali. Banyak UMKM kerajinan berbasis bahan alam di wilayah pesisir menghadapi kondisi yang serupa: kualitas produk sudah teruji dan diterima pasar, tetapi pertumbuhan usahanya stagnan karena minim diversifikasi kategori produk. Variasi desain dalam kategori yang sama, misalnya membuat pigura dengan motif baru, tidak cukup untuk membuka segmen pasar baru. Yang dibutuhkan adalah lompatan ke kategori produk yang benar-benar berbeda.
Berangkat dari pemikiran itu, Tim Sub Kelompok 4 program Pengabdian Masyarakat R22 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, yang beranggotakan Tyas Indrayanti (Akuntansi), Dinda Ramadhania (Ilmu Administrasi Niaga), Leandro Latham Pramana (Arsitektur), dan Abimanyu Yasa Alamsyah (Psikologi), mendampingi Delimabali merancang dan memproduksi prototipe produk baru pada 7 Juli 2026. Tiga produk baru yang dihasilkan adalah bros, asbak, dan tempat lilin, sebuah langkah diversifikasi lintas kategori yang sekaligus memanfaatkan potongan kulit kerang berukuran kecil yang selama ini kurang optimal digunakan pada produk dekorasi berukuran besar.
Langkah kecil ini menggambarkan sesuatu yang lebih besar: keberlanjutan UMKM berbasis sumber daya alam tidak cukup ditopang oleh keterampilan produksi semata, tetapi juga oleh kemampuan berinovasi merespons perubahan pasar. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pelaku usaha kecil semacam ini perlu terus didorong, sebab justru dari skala kecil seperti inilah ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal pesisir dapat tumbuh dan bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan konsumen memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlangsungan UMKM seperti Delimabali. Dengan dukungan yang berkesinambungan, bukan tidak mungkin limbah kerang pesisir Gresik terus menjelma menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat sekitarnya, bukan sekadar tumpukan cangkang di tepi pantai.
Persoalan diversifikasi produk semacam ini sebenarnya juga menjadi tantangan klasik bagi banyak UMKM berbasis kerajinan tangan di Indonesia. Ketergantungan pada satu lini produk membuat usaha rentan terhadap perubahan selera pasar maupun tren musiman. Ketika permintaan terhadap kategori produk tertentu menurun, tidak ada lini produk lain yang dapat menopang keberlangsungan omzet usaha. Kondisi ini menegaskan pentingnya UMKM memiliki portofolio produk yang lebih beragam, bukan hanya sebagai strategi bertahan, tetapi juga sebagai strategi bertumbuh.
Di sisi lain, pendampingan semacam ini juga memberi manfaat timbal balik bagi mahasiswa yang terlibat. Mereka tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga berhadapan langsung dengan kompleksitas persoalan riil yang dihadapi pelaku usaha kecil, mulai dari keterbatasan bahan baku, pola produksi, hingga strategi pemasaran. Pengalaman lapangan semacam ini turut membentuk kepekaan sosial dan kemampuan pemecahan masalah yang tidak selalu bisa diperoleh dari bangku perkuliahan semata.
Ke depan, keberhasilan diversifikasi produk seperti yang dirintis Delimabali perlu terus dikawal, bukan berhenti pada tahap prototipe semata. Pendampingan lanjutan dalam hal pemetaan sumber bahan baku yang lebih stabil dan penguatan kanal pemasaran digital menjadi dua agenda penting yang perlu segera ditindaklanjuti, agar inovasi produk yang telah dirintis benar-benar dapat memberi dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi mitra maupun masyarakat pesisir di sekitarnya.
Tyas Indrayanti,
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Tim Sub Kelompok 4, Pengabdian Masyarakat R22,
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































