Kita pasti pernah berdiri di depan baliho raksasa di pinggir jalan yang memamerkan wajah tersenyum para politisi, lengkap dengan jargon mentereng seperti “Menuju Indonesia Makmur”, “Kesejahteraan Merata”, atau deretan angka statistik klaim keberhasilan ekonomi? Di saat yang sama, tepat di bawah baliho tersebut, seorang ibu sedang menghitung recehan di dompetnya, bimbang apakah uangnya cukup untuk membeli satu liter beras yang harganya kembali melonjak naik.
Kontras yang getir ini bukanlah fenomena baru hasil algoritma media sosial abad ke-21. Lebih dari 80 tahun yang lalu, sastrawan Idrus sudah menangkap ironi serupa lewat sebuah coretan sinis bin sakti bertajuk “Jawa Baru”, sebuah bagian dalam kumpulan tulisan legendarisnya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Melalui mata Idrus, kita diajak menolak lupa bahwa di negeri ini, antara janji penguasa dan kenyataan di piring rakyat sering kali membentang jurang yang sangat dalam.
Mari kita mundurkan mesin waktu ke era 1940-an. Saat itu, bala tentara Jepang datang menduduki Indonesia dengan membawa mesin propaganda raksasa. Jargon “Jawa Baru” didengungkan di mana-mana sebuah janji tentang tatanan masyarakat baru yang mandiri, makmur, dan sejahtera di bawah payung Asia Timur Raya. Di atas kertas dan di corong-corong radio, semuanya terdengar begitu indah dan menjanjikan.
Namun, Idrus yang dikenal dengan gaya realisme kritisnya menolak ikut terbuai. Alih-alih menulis puisi pujian, ia justru memotret realita di kawasan Noordwijk (sekarang daerah Juanda, Jakarta) dengan sangat telanjang.
Idrus menggambarkan pemandangan sehari-hari yang memilukan: barisan anak-anak miskin berkulit pucat, bermata cekung, dengan badan kurus kering kelaparan akibat kekurangan makan. Mengapa mereka lapar di tanah yang subur? Jawabannya sederhana: beras dan hasil bumi diangkut secara besar-besaran untuk mendanai ambisi perang dan kemewahan para elit militer Jepang. Slogan “Jawa Baru” ternyata hanyalah kosmetika bahasa untuk menyembunyikan eksploitasi sistemik yang mengosongkan isi piring rakyat jelata.
Jika hari ini kita membaca ulang karya Idrus tersebut, rasanya ada rasa “deja vu” yang menyengat. Jepang mungkin sudah lama angkat kaki, tetapi penyakit “sloganisme” tampaknya masih subur dan dipelihara.
Di era digital, propaganda tidak lagi lewat selebaran kertas, melainkan lewat konten infografis, video sinematik di TikTok, atau tren flexing gaya hidup mewah yang dipamerkan oleh oknum elit penguasa dan keluarganya. Narasi yang dibangun selalu serba indah: ekonomi tumbuh, swasembada aman, dan kesejahteraan di depan mata.
Namun, mari kita tengok realita di lapangan. Kita masih menyaksikan antrean panjang warga demi mendapatkan sembako murah, berita tentang anak-anak yang mengalami stunting karena buruknya gizi, hingga fenomena kelas pekerja bawah yang harus bertahan hidup hanya dengan mengandalkan mi instan di akhir bulan. Ketika “Slogan Kesejahteraan” diproduksi massal di ruang-ruang rapat ber-AC, isi piring rakyat di akar rumput justru makin menyusut kualitasnya.
Bagian paling menyakitkan dari cerpen Jawa Baru berada di bagian penutupnya. Idrus menulis sebuah kalimat satir yang menampar kesadaran kita:
“Semua orang menengadahkan tangan ke langit, minta rezeki dari Tuhan… Setiap tahun padi menguning juga, beras digiling juga. Tuhankah yang salah?”
Lewat kalimat ini, Idrus sedang menyentil perilaku kita yang gemar melakukan eskapisme spiritual atau romantisasi penderitaan. Ketika hidup makin sulit, kemiskinan merajalela, dan harga kebutuhan pokok tak terjangkau, masyarakat sering kali dipandu untuk “pasrah pada takdir”, menganggapnya sebagai ujian iman, atau sekadar cobaan hidup dari Yang Maha Kuasa.
Padahal, Idrus mengingatkan bahwa alam sudah menjalankan tugasnya dengan baik padi tetap menguning dan bumi tetap subur. Kelaparan dan penderitaan itu ada bukan karena Tuhan pelit memberi rezeki, melainkan karena ada keserakahan sistemik, regulasi yang salah urus, serta kebijakan yang timpang dari mereka yang memegang kekuasaan. Menyalahkan takdir atas kemiskinan struktural adalah bentuk kepasrahan keliru yang dipelihara agar kaum elit tetap bisa tidur nyenyak.
Membaca kembali cerpen Jawa Baru di masa sekarang bukan sekadar urusan bernostalgia dengan sastra masa lalu. Ini adalah sebuah upaya untuk merawat kewarasan publik dan bersikap kritis.
Kita harus menolak lupa bahwa tolok ukur kesuksesan sebuah bangsa tidak boleh hanya dinilai dari seberapa megah dan puitis slogan-slogan yang diproduksi oleh pemerintahnya. Kesejahteraan yang hakiki tidak diukur dari angka statistik di atas kertas atau kosmetika politik di media sosial, melainkan dari seberapa penuh, bergizi, dan terjangkaunya isi piring yang tersaji di meja makan setiap rakyatnya.
Selama isi piring rakyat masih sering kosong atau didapat dengan cara mengemis di tanah sendiri, maka selama itu pula kita wajib bersikap skeptis dan menolak kenyang hanya dengan suapan janji-janji manis politik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































