Tidak semua orang di jagat digital memiliki hak atas kebenaran informasi, dan tidak semua pembuat konten punya integritas. Persoalan kebenaran publik kini bukan lagi sekadar urusan viral atau tenggelam. Dalam cerpen Jalan Lain ke Roma karya Idrus, tokoh Open menghalalkan segala cara dengan memproduksi berita bohong demi keluar dari impitan ekonomi. Melalui potret tersebut, esai ini menunjukkan bahwa komodifikasi informasi dan manipulasi hoaks demi keuntungan finansial justru meruntuhkan moralitas serta tatanan sosial masyarakat modern.
Di era kapitalisme digital, rekayasa informasi kian masif. Banyak individu sengaja menciptakan hoaks dan gimmick semata-mata agar menghasilkan duit dari sirkulasi berita palsu tersebut. Fenomena ini kian diperparah oleh munculnya produsen hoaks profesional yang digaji untuk menyusun kebohongan terstruktur, serta para provokator iseng yang sekadar ingin memanas-manasi netizen Indonesia agar saling serang. Ketika pembodohan publik dilegitimasi demi perputaran uang, keadilan informasi telah runtuh menjadi transaksi yang manipulatif.
Idrus secara jeli memotret bagaimana disinformasi bermula dari hilangnya nalar kritis akibat desakan hidup. Setelah dipecat sebagai guru, Open memilih menjadi penulis berita karena dianggap lebih menghasilkan uang. Ia pun berubah menjadi mesin pembuat berita rekayasa yang menulis hanya berdasarkan apa yang dilihat sekilas mata, tanpa memedulikan kedalaman fakta, asalkan informasi tersebut laku dijual. Karakter Open ini adalah cermin kembar dari para pembuat hoaks modern yang malas melakukan verifikasi, sebagaimana digambarkan oleh Idrus:
“Sebenarnya memaksa Open tidak perlu sama sekali, karena ia toh akan mengatakan dengan terus terang, bahwa karangan itu memang dimaksudkannya begitu. Akan tetapi, Open mengatakan bahwa dongeng itu bukan dibuatnya begitu saja, namun betul-betul pernah didengarnya dan mungkin sekali betul-betul pernah terjadi.” (Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Balai Pustaka, hlm. 165)
Jika dalam cerpen penyingkiran fakta dilakukan Open melalui lembaran koran zaman perang, hari ini hal itu terjadi lewat layar ponsel pintar dengan iming-iming cuan dari berita setingan. Dampaknya merusak tatanan berpikir masyarakat; ruang publik yang mestinya sehat berganti menjadi arena perdebatan netizen yang saling caci akibat dipanas-panasi. Konsumen informasi pada akhirnya menjadi korban yang konsisten dirugikan dan terombang-ambing oleh berita yang tidak jelas asal-usulnya.
Masyarakat kini dipaksa hidup di tengah kepungan berita bohong karena ruang komunikasi telah digusur oleh kepentingan pemburu taktik komersial dan pelaku keisengan digital. Oleh karena itu, pesan moral Idrus sangat tegas: kita harus menyaring dan mencari bukti nyata suatu informasi, bukan langsung memercayai karangan oportunis yang sekadar ingin mengeruk keuntungan materi seperti tokoh Open.
Secara keseluruhan, Jalan Lain ke Roma adalah gugatan moral yang tajam bagi manusia modern. Melalui kisah Open, Idrus mengingatkan bahwa selama masyarakat masih menghalalkan segala cara demi uang dan ruang publik masih dihuni oleh provokator yang gemar memanas-manasi suasana, kita akan terus menyaksikan manusia modern yang dipaksa menjadi asing dan tersesat di dalam rumah informasinya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































