Ada masa ketika Aisha Fitri Shakira Faladin mulai bertanya-tanya, berapa kali seseorang harus gagal sebelum akhirnya menemukan jalan yang memang ditakdirkan untuknya. Pertanyaan itu tidak muncul sekali. Ia datang berulang kali.
Saat kesempatan Golden Ticket IPB lepas dari genggaman. Saat namanya tidak tercantum dalam daftar murid yang lolos SNBP. Saat harapan yang sempat tumbuh kembali melalui jalur SPAN-PTKIN kembali runtuh. Tiga pintu tertutup dalam waktu yang berdekatan.
Namun justru di sanalah kisah Aish, begitu ia biasa dipanggil, menemukan bentuknya. 25 Mei 2026 kemarin, murid XII PK 2 MAN 1 Yogyakarta itu diterima di Program Studi Sastra Arab Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBT. Sebuah hasil yang mungkin terlihat sebagai akhir yang membahagiakan. Padahal, bagi Aish, cerita ini sesungguhnya dimulai jauh sebelum pengumuman kelulusan.
Ketertarikannya pada bahasa Arab tumbuh ketika ia mulai mendalami ilmu agama dan mempersiapkan diri masuk Program Keagamaan MAN 1 Yogyakarta. Saat itulah ia menyadari satu hal penting: sebagian besar khazanah keilmuan Islam yang selama ini ia kagumi tersimpan dalam kitab-kitab berbahasa Arab. Kekaguman itu perlahan berubah menjadi cita-cita.
Ketika mulai mencari berbagai pilihan perguruan tinggi, Aish menghabiskan banyak waktu membaca kurikulum dan mata kuliah dari berbagai program studi Sastra Arab di Indonesia. Dari seluruh pilihan yang ada, Sastra Arab Universitas Padjadjaran menjadi tempat yang paling membuatnya merasa “pulang”. Ia menemukan banyak hal yang selama ini ingin dipelajarinya.
Jika banyak orang mengira tantangan terbesar murid kelas XII adalah materi pelajaran yang sulit, Aish justru menemukan musuh terbesarnya di dalam diri sendiri, rasa malas. Ia mengaku tidak mengikuti bimbingan belajar apa pun. Bahkan persiapan serius menghadapi SNBT baru benar-benar dimulai kurang dari satu bulan sebelum ujian, tepat setelah kegagalan di jalur SNBP dan SPAN-PTKIN.
Bagi sebagian orang, situasi itu mungkin sudah cukup untuk menyerah. Namun bagi Aish, kegagalan justru menjadi alarm yang membangunkannya. Ia mulai melihat dirinya dengan lebih jujur. Selama ini, tanpa disadari, ia terlalu cepat merasa puas.
Golden Ticket IPB yang gagal diraih, kegagalan di SNBP, hingga hasil SPAN-PTKIN yang tidak sesuai harapan perlahan mengikis rasa nyaman yang selama ini dimilikinya. Sebagai gantinya, tumbuh sesuatu yang baru, daya juang.
Sejak saat itu, Aish mendisiplinkan dirinya untuk mengerjakan minimal satu paket latihan soal setiap hari. Tidak peduli sedang semangat ataupun tidak. Ia percaya bahwa keberhasilan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

Selain memperkuat ikhtiar akademik, ia juga memperkuat apa yang sering disebut para santri sebagai “jalur langit”. Ia meminta doa orang tua, eyang, dan keluarga. Ia memperbanyak amalan-amalan sunnah dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Di tengah semua proses itu, ada satu ayat yang selalu ia genggam kuat.
“Fa inna ma’al usri yusrā. Inna ma’al usri yusrā.”
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ayat itu bukan sekadar pengingat. Ia menjadi tempat Aish berpulang setiap kali rasa lelah datang dan harapan mulai menipis.
Ketika motivasi menurun, ia tidak membayangkan kampus impian atau gelar yang akan diraih kelak. Ia justru membayangkan orang-orang yang paling dicintainya; orang tua, eyang, dan keluarga. Ia ingin membahagiakan mereka. Keinginan sederhana itu sering kali cukup untuk membuatnya kembali membuka buku dan melanjutkan perjuangan.
Yang tidak banyak diketahui orang lain, proses memilih jurusan pun menjadi fase yang cukup menguras emosi. Ada banyak diskusi panjang dengan orang tua. Ada perbedaan pendapat yang harus diselesaikan dengan kepala dingin. Ada keraguan yang harus dijawab satu per satu.
Namun dari proses itulah Aish belajar bahwa kedewasaan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan mampu mencari titik temu antara mimpi pribadi dan nasihat orang-orang yang menyayangi kita.
Di MAN 1 Yogyakarta, Aish dikenal aktif dalam berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Sekretaris OSAKA (Organisasi Murid Agama MAN PK), aktif di Romansa El-Hakim, dan juga terlibat dalam Forum Rohis Kota Yogyakarta (Farohis). Kesibukan itu membuatnya belajar mengatur waktu, berkomunikasi, sekaligus memahami bahwa ilmu tidak hanya ditemukan di ruang kelas.
Kini, setelah diterima di Sastra Arab UNPAD, Aish masih menyimpan mimpi yang lebih besar. Suatu hari nanti, ia ingin melanjutkan studi ke Timur Tengah. Bagi sebagian orang, mimpi itu mungkin terdengar jauh.
Namun jika ada satu hal yang dipelajari Aish dari seluruh perjalanan ini, maka itu adalah bahwa jalan menuju mimpi tidak selalu dibangun oleh keberhasilan. Kadang-kadang justru dibangun oleh kegagalan yang datang bertubi-tubi.
Kepada adik-adik MAN 1 Yogyakarta yang saat ini sedang berjuang mengejar kampus impian, Aish berpesan agar tidak pernah lelah berusaha. “Percayalah bahwa Allah tidak akan membawamu melangkah sejauh ini hanya untuk gagal.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Aish, kalimat itulah yang membuatnya tetap berdiri ketika satu per satu harapan yang dibangun harus runtuh.
Karena pada akhirnya, ia memahami bahwa kegagalan bukanlah lawan dari kesuksesan. Kegagalan adalah bagian dari jalan menuju kesuksesan itu sendiri. Dan kadang, jalan terbaik memang baru terlihat setelah seseorang cukup sabar melewati semua pintu yang tertutup di depannya.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































