“Kesuksesan bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang seberapa konsisten kita melangkah dan seberapa kuat kita bertahan ketika menghadapi tantangan.”
~ Muhammad Fatih El-Haq~
Bagi sebagian remaja, bahasa Arab mungkin hanya identik dengan mata pelajaran di kelas atau kitab-kitab keagamaan. Namun bagi Muhammad Fatih El-Haq, murid XII PK 1 MAN 1 Yogyakarta, bahasa Arab adalah jendela yang membuka cakrawala dunia. Dengan belajar bahasa Arab, Fatih serasa mendapat insight tentang budaya, cara berpikir masyarakat, hingga sejarah panjang peradaban yang membentuk kehidupan manusia saat ini.
Ketertarikan Fatih pada bahasa Arab mengantarkannya meraih kesempatan melanjutkan studi di Program Studi Sastra Arab Universitas Padjadjaran. Sebuah capaian yang lahir bukan dari keberuntungan semata, melainkan dari rasa ingin tahu yang terus dipelihara dan kebiasaan belajar yang dijalani dengan disiplin setiap hari.
Putra pasangan Ahmad Fauzi dan Nurhikmah ini memiliki hobi yang mungkin berbeda jauh dengan temannya. Fatih gemar mengenal budaya dari berbagai negara, khususnya kawasan Timur Tengah. Baginya, memahami sebuah budaya tidak cukup hanya dengan melihat tradisinya. Ia memilih menyelami berbagai sumber seperti buku, artikel, jurnal, hingga berita untuk memahami kehidupan masyarakat secara lebih mendalam. “Saya memperhatikan penggunaan bahasa, tradisi, kebiasaan sehari-hari, dan nilai-nilai yang mereka pegang. Setelah itu saya membandingkannya dengan budaya Indonesia untuk melihat persamaan dan perbedaannya,” ungkap Fatih.
Kegemaran Fatih mengulik budaya Timur Tengah tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika mempelajari bahasa Arab, ia juga berusaha memahami masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Dari sanalah ia belajar mengapa suatu tradisi muncul, bagaimana cara berpikir suatu bangsa terbentuk, dan bagaimana budaya berkembang dari masa ke masa.
Ketertarikan terhadap bahasa Arab sebenarnya telah tumbuh sejak ia masih bersekolah di madrasah. Menurutnya, bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga kunci untuk memahami sumber-sumber ajaran Islam secara lebih mendalam. Fatih melihat bahasa Arab memiliki peran penting dalam memahami ilmu-ilmu keislaman. “Karena itulah saya memilih Sastra Arab agar dapat memperdalam kemampuan bahasa sekaligus membuka peluang karier yang sesuai dengan minat dan cita-cita saya,” jelas Fatih.
Di balik keberhasilannya menembus perguruan tinggi ternama, Fatih memiliki prinsip belajar yang sederhana namun kuat: konsistensi. Ia tidak percaya pada kesuksesan instan. Sebaliknya, ia membiasakan diri mengulang materi setelah sekolah, membuat catatan sederhana, serta mencari referensi tambahan dari buku maupun internet. Lebih dari itu, ia meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Organisasi, diskusi, dan pengalaman sehari-hari juga menjadi ruang belajar yang berharga untuk mengembangkan diri. “Bagi saya, kunci keberhasilan bukanlah kecerdasan semata, tetapi disiplin, kemauan untuk terus belajar, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan,” tutur Fatih.
Prinsip tersebut pula yang membawa Fatih terus melangkah menuju cita-cita yang lebih besar. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sastra Arab, Fatih bercita-cita menjadi pembimbing jamaah haji dan umrah. Ia ingin membantu masyarakat Indonesia menjalankan ibadah dengan baik, nyaman, dan penuh pemahaman. Tidak hanya itu, ia juga bercita-cita berkontribusi di bidang penyelenggaraan haji dan umrah melalui Kementerian Agama.
Baginya, ilmu yang dipelajari harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui profesi yang ia impikan, Fatih berharap dapat ikut meningkatkan kualitas pelayanan jamaah Indonesia sekaligus mengamalkan ilmu yang diperolehnya selama kuliah. Sebuah keinginan yang mulia.
Kepada adik-adik kelas di MAN 1 Yogyakarta, Fatih berpesan agar tidak takut memiliki mimpi besar. Fatih memotivasi adik-adik kelasnya untuk tidak takut bermimpi besar meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana. “Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, mengembangkan diri, dan mencari pengalaman. Jangan menunggu sempurna untuk memulai, tetapi mulailah dari apa yang bisa dilakukan sekarang. Tetap hormati orang tua, perbanyak doa, dan jangan mudah menyerah,” pesan Fatih.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, perjalanan Fatih menunjukkan bahwa mimpi besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dari ketertarikan pada bahasa Arab, kecintaan terhadap budaya, hingga cita-cita melayani jamaah haji Indonesia, Fatih membuktikan bahwa kesuksesan bukan tentang siapa yang berlari paling cepat, melainkan siapa yang terus melangkah tanpa berhenti.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































