Di zaman serba digital seperti sekarang, segala informasi bisa didapatkan dengan sangat mudah. Begitu pula untuk memperoleh ilmu. Di zaman sekarang memperoleh ilmu bukan lagi hal yang sulit. Kita bisa menemukannya di media sosial manapun hanya dengan sebuah ponsel dan koneksi internet. Baik itu berupa ribuan koleksi buku elektronik, video pembelajaran, jurnal ilmiah, hingga kajian keislaman dari berbagai belahan dunia. Hal ini menyebabkan ilmu pendidikan tidak lagi hanya sebatas pembelajaran di lingkungan formal dan informal melainkan juga melalui media digital. Kemudahan ini tentunya menjadi nikmat yang harus kita syukuri. Namun dibalik itu semua, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah semakin banyaknya ilmu yang dimiliki seseorang selalu diiringi dengan semakin baiknya adab?
Fenomena di media sosial menunjukkan fakta yang berbeda. Tidak sedikit orang yang memiliki pengetahuan luas tetapi justru malah menghina, menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya, atau terlibat dalam perdebatan di sosial media yang penuh serangan kebencian. Hal ini menunjukan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Pendidikan juga harus membentuk karakter dan akhlak yang baik untuk direalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Maka disinilah peran pendidikan islam diperlukan dimana adab harus didahulukan sebelum ilmu. Hal ini tentunya menjadi nilai yang tetap relevan sepanjang zaman mengingat zaman yang serba digital seperti sekarang bisa memberikan pengaruh buruk untuk kehidupan.
Sebelum membahas lebih jauh, kita harus tahu dulu apa itu adab. Dalam bahasa Arab adab berasal dari kata Addaba Yu’addibu Ta’dib berarti suatu proses mendidik atau pendidikan. Sedangkan menurut KBBI, adab berarti kesopanan, tingkah laku dan akhlak.[1] Adab dan akhlak sangat berkaitan dengan pribadi manusia dalam kehidupannya sehari-hari karena berkaitan dengan karakter manusia dan sikap manusia baik terhadap dirinya sendiri, orang sekitarnya, maupun terhadap agamanya.
Dalam perspektif Pendidikan Islam, tujuan belajar bukan sekedar memperoleh pengetahuan saja, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Hal yang penting bagi seseorang dalam menuntut ilmu adalah memiliki adab dan etika agar ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itulah ilmu dipandang sebagai cahaya yang dapat memberikan manfaat untuk banyak orang. Sebaliknya, jika ilmu tidak disertai adab hanya akan menjadi sumber kesombongan, penyalahgunaan kekuasaan, bahkan kerusakan di tengah kerusakan.
Meskipun sekarang segala sesuatu menjadi serba digital, agama Islam memiliki ajarannya sendiri dalam menuntut ilmu yang tersusun dalam konsep al-adabu fauqa al-‘ilmi artinya adab lebih utama daripada ilmu. Maknanya bukan berarti ilmu tidak penting melainkan ilmu akan bermanfaat apabila dibangun dengan pondasi akhlak yang baik. Seseorang yang memiliki ilmu tanpa adab berpotensi menggunakan ilmunya untuk merugikan orang lain.
Al-Qur’an juga menjanjikan derajat tinggi bagi orang yang menuntut ilmu. Janji Allah ini tercantum dalam surah Q.S Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَـٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti atas apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Mujadalah: 11).
Dengan memiliki ilmu, seseorang menggunakan akal pikirannya untuk berpikir. Dengan ilmu, manusia bisa menyaring informasi yang sumbernya tidak terbatas terutama di era digital sekarang ini dengan sikap kritis. Lalu dengan adab dalam menuntut ilmu, seseorang bisa menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Di era digital, adab memiliki makna yang semakin luas. Bukan hanya melalui cara bicara seseorang melainkan juga melalui cara seseorang dalam menggunakan media sosialnya dengan bijak. Hal itu bisa dilakukan dengan menghargai karya orang lain, menyampaikan pendapat dengan baik tanpa menyudutkan pihak manapun, serta menggunakan teknologi dengan bertanggungjawab. Misalnya saat seorang peserta didik menggunakan kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk memahami materi pelajaran tertentu berbeda dengan peserta didik yang menggunakannya untuk menyalin tugas tanpa memahami isi materi tersebut. Teknologi pada dasarnya bersifat netral namun manusia yang menggunakannya yang menentukan pengaruh baik buruknya dengan nilai dan adab yang dimiliki.
Pendidikan Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam membimbing generasi muda agar mampu menggunakan teknologi dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Pendidik bukan hanya berperan sebagai penyampai informasi saja tetapi juga sebagai contoh teladan peserta didik dalam membentuk karakter mereka. Demikian juga orang tua yang memiliki peran utama dalam pembentukan karakter peserta didik sejak dini agar membentuk peserta didik yang memiliki adab yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya kesadaran bahwa adab lebih utama dibandingkan nilai juga perlu dimiliki oleh peserta didik. Keberhasilan sejati bukanlah mendapatkan nilai tertinggi dalam pendidikan melainkan memiliki akhlak yang baik untuk kehidupan sosial. Semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya menjadi semakin rendah hati, menghargai perbedaan, serta berhati-hati baik dalam tindakan maupun ucapan. Seperti peribahasa ilmu padi kian berisi kian merunduk. Semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya.
Pada akhirnya manusia tidak akan pernah bisa menghentikan teknologi. Dunia digital akan terus berjalan dan berkembang termasuk kecerdasan buatan yang perlahan menggantikan peran manusia. Namun secanggih apapun teknologi, tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai adab yang menjadi fondasi kehidupan. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa Ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan, sedangkan adab adalah penuntun agar ilmu membawa keberkahan.
Oleh karena itu, di tengah derasnya informasi dan kemajuan teknologi digital, sudah saatnya kita kembali menerapkan keutamaan adab baik dalam kehidupan sosial maupun dalam media sosial. Karena masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar tetapi juga membutuhkan pribadi yang beradab dan berakhlak mulia yang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan bersama.
[1] Ramadhan, S. A., & Sucipto, H. (2024). Adab Terhadap Ilmu Perspektif Imam Al-Ghazali. AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman, 10(2), 1-11.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































