Media sosial saat ini sangat dipengaruhi oleh budaya viral. Semakin menarik, unik, atau menghibur sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan perhatian publik. Akibatnya, banyak konten dinilai berhasil hanya berdasarkan jumlah penonton, likes, komentar, atau jumlah dibagikan oleh pengguna lain.
Tidak mengherankan jika konten yang mampu mengundang emosi dan tawa lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang bersifat informatif. Namun, ketika perhatian hanya tertuju pada angka dan popularitas, kita sering kali lupa mempertanyakan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh konten tersebut. Tidak semua hal yang dianggap lucu dan diterima banyak orang otomatis bebas dari persoalan. Justru ketika suatu praktik terlihat biasa dan dianggap wajar, penting bagi kita untuk melihat lebih jauh nilai-nilai apa yang sedang dibentuk dan dinormalisasi melalui media sosial.
Cara Media Membentuk Cara Pandang Publik
Fenomena ini dapat dipahami dengan Teori komunikasi massa yaitu Teori Framing yang dikemukakan oleh Robert Entman. Teori ini menjelaskan bahwa media tidak hanya menampilkan suatu peristiwa, tetapi juga memilih bagian mana yang akan lebih ditonjolkan kepada publik. Pilihan tersebut kemudian memengaruhi cara orang memahami dan menilai suatu peristiwa.
Dalam banyak konten disabilitas di media sosial, yang sering ditonjolkan adalah sisi yang dianggap lucu, unik, atau menghibur. Karena fokus utama diarahkan pada aspek tersebut, penonton cenderung melihat konten itu sebagai hiburan biasa. Sementara itu, aspek lain seperti martabat penyandang disabilitas, posisi mereka dalam konten, atau dampak tayangan terhadap cara pandang masyarakat sering kali tidak mendapat perhatian yang sama.
Melalui proses framing inilah media berperan dalam membentuk persepsi publik. Apa yang ditampilkan berulang kali akan lebih mudah dianggap sebagai gambaran yang normal dan wajar oleh masyarakat.
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas
Media sosial bekerja berdasarkan perhatian pengguna. Semakin banyak orang yang menonton, menyukai, membagikan, dan berkomentar, semakin besar pula jangkauan sebuah konten. Dalam kondisi seperti ini, pengalaman hidup seseorang berisiko diperlakukan sebagai bahan yang dapat menarik perhatian publik.
Persoalannya menjadi lebih kompleks ketika kondisi disabilitas itu sendiri dijadikan daya tarik utama dalam sebuah konten. Fokus audiens tidak lagi tertuju pada individu sebagai manusia yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang beragam, tetapi pada aspek yang dianggap berbeda atau mengundang reaksi emosional.
Tidak jarang, tawa penonton atau persetujuan dari individu yang direkam dijadikan alasan bahwa tidak ada masalah dalam konten tersebut. Padahal, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya soal ada atau tidaknya tawa, tetapi juga bagaimana seseorang ditempatkan dan direpresentasikan di dalam konten tersebut.
Ketika seseorang lebih dikenal karena keterbatasannya dibandingkan kemampuan, pengalaman, atau identitas dirinya secara utuh, ada risiko bahwa dirinya hanya dilihat sebagai objek hiburan, bukan sebagai individu yang setara dengan orang lain.
Peran Audiens dalam Menentukan Konten yang Viral
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa pengguna media sosial bukan sekadar penonton pasif. Setiap tanda suka, komentar, dan bagikan yang diberikan ikut menentukan konten seperti apa yang akan terus muncul dan mendapatkan perhatian lebih luas.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam mengonsumsi konten digital. Popularitas sebuah video tidak selalu menunjukkan bahwa konten tersebut membawa dampak positif. Banyak konten menjadi viral karena mampu menarik perhatian dan memancing reaksi, bukan karena membantu publik memahami suatu isu secara lebih mendalam.
Sebagai pengguna media sosial, kita perlu mulai bertanya bukan hanya apakah sebuah konten menarik untuk ditonton, tetapi juga pesan apa yang dibawa oleh konten tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap cara kita memandang orang lain.
Membangun Media Sosial yang Lebih Inklusif
Pada akhirnya, pembahasan ini bukan bertujuan untuk melarang orang tertawa atau membatasi kreativitas para kreator konten. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap konten memiliki pengaruh dalam membentuk cara berpikir masyarakat.
Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang yang mampu memperluas pemahaman kita tentang keberagaman pengalaman manusia. Ketika melihat konten yang melibatkan penyandang disabilitas, kita perlu melihat mereka sebagai individu yang memiliki kehidupan, kemampuan, dan cerita yang beragam, bukan sekadar tokoh dalam video viral.
Dengan lebih bijak dalam membuat, menyebarkan, dan mengkonsumsi konten, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih inklusif, menghargai martabat setiap individu, serta memperkuat rasa saling menghormati di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































