Provinsi Banten sebagai penyangga Jakarta sekaligus kawasan industri dan jasa yang tumbuh pesat menghadapi tantangan demografi yang kompleks. Pertumbuhan penduduknya tinggi akibat angka kelahiran dan arus urbanisasi dari dalam maupun
luar Jawa, sehingga kepadatannya terus meningkat. Posisi strategis yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta membuat Banten menjadi tujuan utama pencari kerja. Namun, lonjakan penduduk yang tidak diimbangi perluasan lapangan kerja secara merata justru memicu kenaikan angka pengangguran. Mayoritas pendatang adalah usia produktif yang menargetkan sektor industri, perdagangan, dan jasa di Tangerang,
Cilegon, dan Serang, tetapi daya serap tenaga kerja kalah cepat dengan pertambahan angkatan kerja. Ditambah lagi, terjadi ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan industri modern yang berbasis teknologi. Dampaknya terlihat dari meningkatnya pengangguran terbuka pada lulusan SMA dan perguruan tinggi. Banyak yang terpaksa masuk sektor informal dengan upah rendah tanpa jaminan sosial, atau menjadi pengangguran terselubung. Hal ini menurunkan produktivitas daerah, meningkatkan beban subsidi, dan melemahkan posisi tawar
pekerja karena persaingan kerja yang ketat. Masalah ini diperparah oleh kualitas SDM yang belum sesuai kebutuhan pasar kerja akibat kurikulum pendidikan yang belum selaras dengan industri, serta layanan
pendidikan dan kesehatan yang belum merata di daerah penyangga. Jika tidak dikelola melalui pengendalian penduduk, pemerataan ekonomi, dan transformasi pendidikan vokasi yang terhubung dengan industri, pertumbuhan penduduk yang seharusnya jadi bonus demografi justru akan menjadi beban bagi ekonomi Banten.
Provinsi Banten mengalami pertumbuhan penduduk sangat cepat dalam dua dekade
terakhir karena tingginya angka kelahiran di daerah seperti Pandeglang dan Lebak,
serta urbanisasi besar-besaran ke Tangerang Raya yang berbatasan dengan Jakarta. Daya tariknya adalah akses ke pusat ekonomi, industri, dan biaya hidup yang lebih murah dari Jakarta, sehingga tiap tahun puluhan ribu pendatang datang. Akibatnya kepadatan di Tangerang Selatan, Cilegon, dan sekitarnya melonjak, menekan lahan, perumahan, transportasi, dan lapangan kerja. Jika tidak dikelola, bonus demografi bisa berubah jadi beban. Ketimpangan antara Banten utara yang maju dan selatan yangtertinggal juga mendorong migrasi internal, sehingga menumpuk angkatan kerja di kawasan industri. Dari sisi ketenagakerjaan, TPT di Banten paling tinggi pada kelompok usia muda, khususnya lulusan SMK dan sarjana muda.
Pertumbuhan penduduk Banten yang cepat akibat tingginya kelahiran dan urbanisasi tak terkendali menekan pasar kerja, sehingga pengangguran terbuka naik, terutama pada usia muda dan lulusan SMK. Hal ini terjadi karena jumlah angkatan kerja melebihi lapangan kerja, ditambah kesenjangan keterampilan dengan industri modern yang
makin otomatis. Hambatannya ada pada faktor demografis, pendidikan yang tidak relevan, ekonomi yang bertumpu pada padat modal, koordinasi lemah, dan budaya seperti stigma terhadap vokasi serta banyak anak. Solusinya butuh strategi terpadu: kendalikan kelahiran dan migrasi secara persuasif, reformasi vokasi sesuai industri, diversifikasi ekonomi ke pertanian modern, pariwisata, dan ekonomi kreatif, perkuat data serta anggaran, dan ubah pola pikir
melalui komunitas. Jika ada komitmen pemerintah, anggaran berkelanjutan, dan
dukungan semua pihak, ledakan penduduk bisa diubah jadi bonus demografi
Opini: Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Pengangguran di Banten
Oleh: Matswa Nuruzzahra
Prodi: Ilmu Pemerintahan
Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































