Pada 2019, seorang remaja asal Tegal berdiri di depan gerbang SMK YPT Kota Tegal dengan perasaan campur aduk. Ia mendaftar jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) tanpa benar-benar memahami dunia coding. Nyaris saja ia tidak diterima — bukan karena nilai atau kedisiplinan, melainkan karena kondisi matanya yang rabun. Kekhawatiran muncul bahwa keterbatasan penglihatan akan menghambatnya di industri teknologi. Namun sekolah memberi kesempatan sederhana yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
Remaja itu, Raihan Nafis Zuraiq, memanfaatkan kesempatan itu menjadi titik awal perjalanan belajar yang intens. Saat memulai di bangku SMK, istilah HTML, CSS, PHP, atau JavaScript terasa asing; yang dimilikinya hanyalah rasa ingin tahu. Memasuki 2020, ia belajar pemrograman secara otodidak: membaca dokumentasi, menonton tutorial, membuat website sederhana, menghadapi error, memperbaikinya, lalu mengulang proses itu setiap malam. Ia tidak mengejar nilai di rapor, melainkan kemampuan nyata yang bisa diterapkan di dunia kerja.
Sebuah kalimat sederhana pernah melukai — “Kamu bisanya apa sih, Nafis?” — namun bukannya membalas dengan emosi, Nafis memilih membalas lewat kerja. Jawabannya kemudian lahir dalam bentuk brand Codexus. Nama itu bukan sekadar label; ia menjadi simbol pembuktian. Dengan konsistensi dan kerja keras, Nafis mulai membangun portofolio digital, terutama saat pandemi ketika banyak orang berhenti atau sekadar menggunakan media sosial untuk hiburan. Ia justru aktif mengunggah proses pembuatan website di TikTok, meski awalnya tak langsung membawa popularitas atau klien.
Momentum penting datang saat praktik kerja lapangan: dari puluhan siswa, Nafis terpilih magang enam bulan di PT Ajaro. Ironisnya, ia yang dulu hampir tak diterima sekolah kini dipercaya perusahaan karena kemampuan yang dibentuk sendiri. Pengalaman magang itu mempertegas bahwa kemampuan praktis selalu dicari. Pada 2021–2022, akun portofolionya berganti nama menjadi Codexus. Tanpa modal besar, investor, atau tim besar, Codexus mulai mendapatkan klien satu per satu — dari UMKM hingga perusahaan swasta, bahkan proyek lintas negara.
Hingga kini Codexus telah menyelesaikan lebih dari 800 proyek yang mencakup sektor pemerintahan desa hingga layanan kesehatan dan startup. Pendapatan bisnis yang kini mencapai ratusan juta rupiah adalah bukti keberhasilan, namun bagi Nafis pencapaian terbesar bukan angka omzet. Lebih bermakna ketika klien kembali memakai jasanya atau merekomendasikan Codexus ke pihak lain. Bagi Nafis, reputasi dan kepercayaan adalah aset terpenting dalam dunia digital.
Kisah Raihan juga menggarisbawahi nilai kesempatan. Ia memilih untuk terus belajar karena menyadari teknologi berkembang cepat: artificial intelligence, automasi, dan cloud computing membuka peluang baru setiap hari. Dari seorang anak yang hampir ditolak karena rabun, kini lahir seorang founder yang dipercaya ratusan klien. “Saya percaya kemampuan bisa dipelajari. Yang tidak bisa diajarkan adalah kemauan untuk terus mencoba,” ujar Raihan. Perjalanan Codexus masih panjang, tetapi cerita ini sudah memberi pesan jelas: satu kesempatan kecil bisa merubah seluruh hidup.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































