Surabaya – Hilirisasi riset akademis di sektor riil perdesaan memerlukan keselarasan antara inovasi teknologi dan kesiapan kelembagaan lokal. Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur melaksanakan program penguatan institusional bertajuk “Penguatan Ekonomi Kelembagaan dan Optimalisasi Solar Dome Dryer dalam Pengembangan Unit Usaha Simplisia Bio-farmaka Bumdesma Sari Bumi” di Kabupaten Trenggalek yang berlangsung pada 20 juni 2026. Kegiatan yang sepenuhnya merupakan bagian dari pelaksanaan program pengabdian masyarakat oleh perguruan tinggi ini mengandalkan pendekatan Ekonomi Kelembagaan (Institutional Economics) untuk membenahi tata kelola (governance), memitigasi risiko pasar, dan menekan biaya transaksi (transaction costs) di tingkat perdesaan.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UPN “Veteran” Jatim, Wirya Wardaya, S.E., M.Sc., menegaskan bahwa implementasi alat pengering Solar Dome Dryer yang mampu memangkas durasi pengeringan komoditas dari 10 hari menjadi hanya 3 hari tidak akan mencapai efisiensi maksimum jika tidak didukung struktur kelembagaan yang matang. Menurutnya, kendala atau kegagalan program optimalisasi di tingkat desa sering kali bukan disebabkan oleh kualitas teknologinya, melainkan belum siapnya aturan pelaksanaan di tingkat daerah. Oleh karena itu, program pengabdian masyarakat ini diarahkan untuk merancang instrumen kontrak formal yang adaptif dan berkekuatan hukum, sehingga insentif ekonomi dapat terdistribusi secara adil dari tingkat petani di hulu hingga pengelola di hilir. Guna memastikan rekonstruksi berjalan komprehensif, pak Wirya didampingi oleh tim dosen ahli dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN “Veteran” Jawa Timur yang merancang Standard Operating Procedure (SOP) internal serta memperkuat transparansi laporan keuangan Bumdesma.
“Bumdesma Sari Bumi ini memiliki potensi komoditas yang sangat besar, namun penguatannya tidak bisa hanya berhenti pada bantuan alih teknologi semata. Agar Bumdesma dapat tumbuh sebagai entitas bisnis perdesaan yang mandiri dan profesional, kunci utamanya terletak pada penataan tata kelola kelembagaan, baik dalam memitigasi risiko pasar di eksternal maupun membenahi manajemen internal organisasi,” tegas Pak Wirya Wardaya mengenai fokus utama pembenahan Bumdesma. Guna memastikan rekonstruksi berjalan komprehensif, pak Wirya didampingi oleh tim dosen ahli dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN “Veteran” Jawa Timur yang merancang Standard Operating Procedure (SOP) internal serta memperkuat transparansi laporan keuangan Bumdesma.
Guna mendukung transformasi tersebut di lapangan, program pengabdian masyarakat ini juga menerjunkan tim mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UPN “Veteran” Jatim sebagai fasilitator.
“Program pengabdian masyarakat ini juga sengaja kami kolaborasikan dengan tim mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UPN ‘Veteran’ Jatim sebagai fasilitator lapangan. Para mahasiswa memiliki peran yang sangat krusial dalam menjembatani transformasi ini, mulai dari melakukan edukasi perubahan sistem kerja kepada masyarakat, membantu pencatatan logistik berbasis digital pada operasional Solar Dome Dryer, hingga memetakan data pasokan lahan secara periodik. Melalui kolaborasi lintas generasi ini, intervensi kelembagaan yang didorong oleh tim FEB UPN ‘Veteran’ Jatim pada Bumdesma Sari Bumi secara konkret berhasil menyasar dua dimensi utama, yaitu kelembagaan eksternal dan kelembagaan internal organisasi,” komentar Pak Wirya Wardaya menjelaskan keterlibatan mahasiswa.

Pada dimensi kelembagaan eksternal untuk mitigasi risiko pasar, Bumdesma berhasil membangun struktur pasar formal melalui kontrak eksklusif dengan off-taker tunggal, PT Bintang Toedjoe. Kontrak ini mengunci harga jual nominal simplisia kering sebesar Rp160.000 per kg dengan komitmen pasokan 6 ton per tahun dari lahan seluas 6 hektar, sehingga efektif mengeliminasi ketidakpastian pasar (market uncertainty). Sementara di tingkat hulu, ditetapkan aturan harga beli dasar (floor price) sebesar Rp7.000 per kg untuk jahe segar demi menjaga hak kepemilikan petani sekaligus melindunginya dari kerugian akibat permainan harga oleh tengkulak.
Sementara itu, pada dimensi kelembagaan internal, dilakukan reformasi struktur insentif melalui amandemen aturan pengupahan di dalam tubuh Bumdesma. Sistem lama yang berbasis output diubah menjadi sistem upah harian tetap (fixed daily wage) sebesar Rp70.000 per hari guna memberikan kepastian pendapatan yang lebih stabil bagi tenaga kerja lokal yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan buruh tani. Selain itu, pembagian kerja (division of labor) juga diformalkan melalui rotasi sistematis pada empat kelompok kerja perempuan demi menjaga stabilitas produktivitas operasional secara berkelanjutan.
Melalui penguatan aturan main dan kontrak formal tersebut, program pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh UPN “Veteran” Jawa Timur ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian beberapa target dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Penerapan sistem upah harian tetap mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui kepastian kesejahteraan buruh tani perempuan, sedangkan optimalisasi teknologi Solar Dome Dryer merealisasikan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) sebagai bentuk modernisasi pascapanen pertanian. Di sisi lain, manajemen pasokan berbasis data mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) demi keberlanjutan produksi, yang keseluruhannya dibingkai dalam SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi kokoh antara akademisi, sektor privat, kelembagaan lokal, dan pemerintah daerah.
Meskipun kemitraan dengan sektor swasta berjalan progresif, riset lapangan tim UPN menangkap adanya hambatan dari sisi lingkungan kelembagaan formal, seperti minimnya pendampingan berkala dari instansi pertanian terkait di tingkat lokal. Menyiasati tantangan tersebut, Bumdesma melakukan strategi adaptasi kelembagaan lewat diversifikasi produk horizontal dengan memproduksi produk turunan bernilai tambah secara mandiri, seperti jahe cair, jahe celup, dan jahe bubuk. Langkah strategis ini sekaligus diintegrasikan sebagai komponen pelaporan kinerja kepada Bupati Trenggalek untuk mendorong lahirnya kebijakan makro daerah yang lebih adaptif. Melalui sinergi keilmuan ini, FEB UPN “Veteran” Jawa Timur optimis bahwa penguatan aturan main, kejelasan kontrak, dan kolaborasi lintas generasi ini mampu mengubah Bumdesma Sari Bumi menjadi jangkar ekonomi perdesaan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan di Jawa Timur.
(Penulis: Dr. Wahyu Santoso S.P., M.Agr., Wirya Wardaya,S.E.,M.Sc., dan Muhammd Dinov Putra Andoyo adalah Dosen dan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UPN “Veteran” Jawa Timur)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































