JAKARTA – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menyambut hangat gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut dinilai menjadi momentum strategis untuk merumuskan respons umat Islam terhadap berbagai tantangan kebangsaan dan dinamika global.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa kompleksitas persoalan umat saat ini tidak lagi dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor antarorganisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
”Tantangan yang dihadapi umat hari ini bersifat lintas sektor dan berkelindan dengan perkembangan teknologi, ekonomi, hingga perubahan iklim. Umat Islam membutuhkan agenda bersama yang tidak berhenti pada persoalan internal organisasi. Karena itu, hasil Muktamar NU sangat kami nantikan sebagai solusi persoalan kebangsaan sekaligus penguat kontribusi Islam bagi peradaban,” ujar Dody dalam keterangan resminya.
Dalam pandangan LDII, terdapat lima persoalan strategis yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, menguatnya polarisasi sosial akibat perbedaaan politik. Dody mengingatkan agar kontestasi politik tidak menggerus persaudaraan kebangsaan.
”Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Yang harus dijaga adalah jangan sampai perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan sosial. Islam memiliki tradisi musyawarah dan adab dalam menyikapi perbedaan,” tegas Dody.
Kedua, derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Dody menekankan pentingnya adab dalam pemanfaatan teknologi untuk dakwah dan pendidikan agar terhindar dari disinformasi.
”Dakwah tidak boleh gagap teknologi, tetapi penguasaan teknologi harus disertai akhlak. Jangan sampai teknologi yang seharusnya mencerdaskan justru digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, dan kebencian,” katanya.
Ketiga, ketimpangan ekonomi dan pentingnya kemandirian umat. LDII mendorong agar arus utama ekonomi Islam tidak hanya berfokus pada konsumsi produk halal, melainkan juga penguatan kapasitas produksi.
”Ekonomi umat harus naik kelas. UMKM jangan hanya menjadi objek pemberdayaan, tetapi harus didorong menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional,” jelas Dody.
Keempat, pengelolaan bonus demografi melalui pengintegrasian ilmu agama, sains, dan keterampilan kewirausahaan pada lembaga pendidikan Islam guna melahirkan generasi muda yang adaptif. Kelima, krisis lingkungan hidup yang kian mendesak.
”Menjaga lingkungan bukan sekadar agenda pemerintah atau aktivis lingkungan. Ini adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Kami mendorong gerakan konkret seperti pesantren dan masjid hijau serta konservasi air berbasis masyarakat,” tambah Dody.
Mengakhiri keterangannya, LDII menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya serta harapan agar forum tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut membuahkan hasil yang membawa kemaslahatan luas.
”Muktamar adalah saat yang tepat untuk melihat persoalan umat dalam perspektif yang lebih luas. Kami berharap keputusan-keputusan yang lahir dapat memperkuat persaudaraan sesama umat Islam, menjaga persatuan Indonesia, sekaligus memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia. Selamat bermuktamar untuk saudara tua kami, Nahdlatul Ulama,” pungkas Dody.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































