DENPASAR — Tren pariwisata di Bali bergeser dari sekadar menikmati pemandangan menjadi pengalaman interaktif yang memungkinkan wisatawan membuat suvenir sendiri. Aktivitas do-it-yourself (DIY) yang memadukan workshop kreatif dan elemen wisata kini marak, menawarkan kenang-kenangan personal sekaligus pengalaman berkesan.
Peralihan preferensi wisatawan ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap kelas-kelas kreatif seperti pembuatan perhiasan, kerajinan anyaman, hingga desain aksesori ponsel. Salah satu pelaku usaha yang mengadopsi konsep tersebut adalah Tropicase, yang menghadirkan layanan pembuatan phone case custom secara langsung di lokasi. Pengunjung dapat memilih berbagai ornamen seperti charms, stiker, dan bahan dekoratif lain untuk merangkai desain sesuai selera.
Founder Tropicase, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa wisata modern menuntut lebih dari sekadar lokasi foto yang indah. “Wisatawan sekarang ingin mengalami sesuatu yang personal dan interaktif. Ketika mereka membuat suvenir sendiri, barang itu menjadi pembawa cerita—bukan hanya oleh-oleh biasa,” ujarnya saat ditemui, Jumat (21/8).
Praktisi pariwisata lokal menyambut positif perkembangan ini. Ketua Asosiasi Pelaku Wisata Kreatif Bali, Ida Ayu Kartini, menyatakan bahwa pengalaman DIY mampu memperpanjang durasi kunjungan dan meningkatkan kepuasan wisatawan. “Workshop singkat bisa membuat pengunjung menghabiskan lebih banyak waktu dan uang di destinasi—dari membeli material hingga menikmati fasilitas kafe di sekitar lokasi,” katanya.
Selain memberi nilai emosional, model bisnis pop-up DIY juga dinilai fleksibel dan mudah diadopsi oleh pelaku usaha kecil. Konsep pop-up store memungkinkan pengusaha mencoba pasar di lokasi-lokasi strategis tanpa investasi besar pada infrastruktur tetap. Di sisi lain, pemerintah daerah melihat potensi ini sebagai peluang untuk diversifikasi produk pariwisata.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, I Made Sulendra, menyampaikan bahwa pihaknya akan mendorong pelatihan keterampilan kreatif bagi UMKM agar mampu memanfaatkan tren ini. “Kita ingin produk suvenir Bali tidak lagi sekadar massal; nilai cerita dan kearifan lokal harus terwakili dalam setiap barang yang dihasilkan,” ujar Sulendra.
Namun, ada tantangan yang perlu diperhatikan. Praktisi lingkungan mengingatkan agar bahan-bahan yang digunakan pada suvenir DIY ramah lingkungan. Aktivitas yang tidak mempertimbangkan jejak sampah dapat bertentangan dengan upaya pelestarian lingkungan pantai dan kawasan wisata. Selain itu, pelatihan untuk standar kualitas dan sanitasi menjadi penting agar pengalaman yang ditawarkan aman dan profesional.
Mengamati perkembangan permintaan, beberapa pelaku usaha berinovasi dengan memasukkan elemen lokal—misalnya motif tradisional, penggunaan bahan alami, atau cerita budaya pada setiap workshop. Hal ini dianggap makin memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus mengangkat identitas Bali.
Dengan berubahnya preferensi wisatawan global menuju pengalaman yang autentik dan partisipatif, DIY souvenir menjadi salah satu jawaban bagi destinasi yang ingin mempertahankan daya tariknya tanpa semata mengandalkan pemandangan. Aktivitas ini diharapkan tidak hanya memperkaya pilihan bagi pengunjung, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan kapasitas UMKM kreatif di Bali.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































