Perkembangan teknologi membuat cara manusia membangun hubungan berubah. Saat ini, kita dapat terhubung dengan orang lain melalui LinkedIn, webinar, komunitas daring, dan berbagai media sosial. Kemudahan tersebut memberikan banyak peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan informasi mengenai magang, beasiswa, pekerjaan, maupun kegiatan pengembangan diri. Namun, networking tidak seharusnya hanya dipahami sebagai kegiatan menambah koneksi atau followers.
Menurut saya, hal yang lebih penting dalam networking adalah kualitas hubungan. Memiliki banyak koneksi belum tentu berarti memiliki jaringan yang kuat jika tidak disertai komunikasi, kepercayaan, dan kepedulian. Relasi yang baik membutuhkan waktu untuk dibangun dan dijaga. Hal sederhana seperti menyapa teman, berdiskusi dengan mahasiswa dari program studi lain, berkomunikasi dengan alumni, atau mengucapkan terima kasih setelah mendapat bantuan dapat menjadi langkah kecil untuk menjaga hubungan.
Pandangan tersebut sejalan dengan materi Building Networking dalam mata kuliah Estetika Humanisme. Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk belajar, bekerja, dan berkembang. Karena itu, networking bukan hanya tentang mencari keuntungan pribadi, tetapi juga tentang membangun hubungan yang dilandasi rasa saling menghargai, percaya, dan memberikan manfaat. Teknologi memang dapat mempercepat komunikasi, tetapi tidak dapat menggantikan ketulusan dan empati dalam hubungan antarmanusia.
Networking juga memiliki peran penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang dengan kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga individu yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi. Kemampuan tersebut dapat berkembang melalui berbagai pengalaman, seperti mengikuti organisasi, kepanitiaan, seminar, pelatihan, kegiatan sukarela, maupun diskusi di kelas.
Hal ini juga berkaitan dengan teori The Strength of Weak Ties dari Mark Granovetter. Relasi yang tidak terlalu dekat, seperti alumni, teman organisasi, atau kenalan dari seminar, dapat menjadi sumber informasi mengenai peluang kerja, beasiswa, dan kolaborasi. Artinya, kesempatan tidak selalu datang dari teman dekat, tetapi bisa berasal dari hubungan yang tetap kita jaga dengan baik.
Di era digital, personal branding juga semakin penting. Namun, menurut saya, membangun citra diri saja tidak cukup. Reputasi seseorang lebih banyak terbentuk dari bagaimana ia bersikap, bekerja sama, menghargai orang lain, dan menjalankan tanggung jawab. Karena itu, networking dan karakter harus berjalan bersama. Hubungan yang baik tidak dibangun melalui pencitraan, tetapi melalui sikap yang konsisten, jujur, dan dapat dipercaya.
Networking juga bukan berarti kita harus mengenal sebanyak mungkin orang. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam membangun hubungan. Ada yang mudah berkomunikasi, tetapi ada juga yang lebih pendiam. Hal tersebut bukan penghalang. Yang terpenting adalah mampu membangun beberapa hubungan yang berkualitas dan menjaganya dengan baik.
Menurut saya, lingkungan kampus merupakan tempat yang tepat untuk mulai membangun networking. Setiap tugas kelompok mengajarkan kerja sama, organisasi melatih komunikasi, dan seminar membuka kesempatan untuk bertemu orang baru. Pengalaman tersebut bukan hanya bermanfaat untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membantu kita belajar memahami perbedaan dan berkembang sebagai pribadi.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kemampuan menggunakan teknologi memang penting. Namun, kemampuan untuk memahami dan menghargai manusia tetap tidak dapat digantikan. AI dapat membantu membuat CV atau mencari informasi pekerjaan, tetapi kepercayaan, empati, dan hubungan emosional tetap terbentuk melalui interaksi antarmanusia.
Pada akhirnya, networking bukan sekadar tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tetapi seberapa baik kita menjaga hubungan dengan mereka. Relasi yang dibangun dengan tulus dapat menjadi sumber pembelajaran, dukungan, dan peluang di masa depan. Karena itu, generasi muda sebaiknya mulai membangun networking sejak masa kuliah dengan sikap terbuka, menghargai orang lain, dan tidak hanya datang ketika membutuhkan sesuatu.
Bagi saya, inilah makna Building Networking dalam Estetika Humanisme: menjadikan hubungan antarmanusia sebagai ruang untuk saling belajar, saling mendukung, dan tumbuh bersama. Teknologi dapat membuat kita lebih mudah terhubung, tetapi ketulusan, kepercayaan, dan empati tetap menjadi dasar dari relasi yang benar-benar bermakna. Karena itu, relasi yang dibangun dengan tulus akan selalu menjadi investasi yang berharga bagi generasi muda, baik dalam kehidupan akademik, dunia kerja, maupun kehidupan sehari-hari.
Penulis: Selli Marwah, Mahasiswa Universitas Siber Asia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































