SUKOHARJO – Semangat kepedulian dan pemberdayaan terhadap kelompok rentan terus dikobarkan di Kabupaten Sukoharjo. Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, yang sebelumnya sukses menyelenggarakan Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan 1447 H, kini kembali berkolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia melalui skema Program Layanan Publik Dakwah. Kolaborasi strategis ini akan diwujudkan melalui perhelatan program lanjutan bertajuk “Bina Cahaya Abinaya: Pendampingan Spiritual Berkelanjutan dan Edutainment Inklusif bagi Kelompok Marjinal Sukoharjo” yang siap digelar pada hari Ahad, 27 September 2026, bertempat di ruang terbuka hijau Taman Banyu Gemblinding.
Acara yang dijadwalkan berlangsung secara padat sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi biasa. Kegiatan ini secara khusus dirancang sebagai ruang aman (safe space) dan lokakarya interaktif yang menyasar 50 orang mustahik prioritas. Para peserta yang diundang merupakan representasi dari kelompok masyarakat marjinal yang terdiri dari penyandang disabilitas (Tuna Daksa, Tuna Grahita, dan Tuna Rungu Wicara), anak jalanan, mantan preman, serta keluarga prasejahtera yang sebelumnya telah merasakan dampak positif dari program pembinaan di bulan suci Ramadan lalu.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, dalam keterangan persnya menyampaikan bahwa program “Bina Cahaya Abinaya” lahir dari sebuah evaluasi lapangan yang mendalam. Pihaknya berkomitmen untuk memastikan bahwa nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan kepercayaan diri yang telah tertanam tidak memudar begitu saja saat para peserta kembali ke realitas kehidupan keras di jalanan maupun di tengah masyarakat.
“Kami menyadari sepenuhnya bahwa ruang aman dan ikatan emosional yang telah berhasil kita bangun di bulan suci Ramadan lalu tidak boleh terhenti sekadar sebagai kegiatan insidental atau panggung seremonial semata. Teman-teman disabilitas dan anak jalanan ini sangat butuh support system yang nyata dan hadir secara kontinu.
Oleh karena itu, melalui dukungan penuh dan sinergi bersama BAZNAS RI, kami menghadirkan ‘Bina Cahaya Abinaya’ sebagai ikhtiar pendampingan yang berkelanjutan. Kami ingin mereka tahu dan merasakan bahwa mereka tidak pernah sendirian dalam proses hijrah dan perbaikan diri ini,” ujar Fadhel Moubharok Ibni Faisal.
Lebih lanjut, Fadhel menjelaskan bahwa metode yang digunakan dalam kegiatan di Taman Banyu Gemblinding nanti telah dimodifikasi secara khusus agar lebih ramah, inklusif, dan menyesuaikan dengan rentang konsentrasi para peserta.
“Pendekatan dakwah kita geser secara radikal dari yang sebelumnya didominasi oleh ceramah satu arah, menjadi pendekatan edutainment atau edukasi interaktif berbasis seni dan kearifan budaya. Besok, peserta akan diajak mengekspresikan emosi, menceritakan harapan, dan merumuskan komitmen perubahan mereka melalui media eco-art, pembuatan topeng karakter, hingga pementasan teater mini. Bagi penyandang disabilitas intelektual maupun kaum jalanan, ini adalah sarana healing psikologis dan penyampaian pesan dakwah yang jauh lebih efektif dan membekas di hati,” tambahnya.
Guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan optimal, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia telah menyiapkan infrastruktur pendampingan berupa sistem “Kakak Asuh”. Dalam sistem ini, setiap kelompok kecil peserta akan dikawal secara personal oleh relawan terlatih yang bertugas mengarahkan, memotivasi, dan menjadi teman diskusi mereka sepanjang acara.
Tidak hanya itu, panitia juga berkomitmen penuh pada pemenuhan aksesibilitas fisik dan komunikasi. Lokasi acara akan didesain ramah bagi pengguna kursi roda, dan sesi penyampaian materi akan dikawal langsung oleh tenaga Juru Bahasa Isyarat (JBI) profesional. Hal ini bertujuan agar peserta Tuli dan gangguan wicara dapat menyerap seluruh nilai keislaman serta instruksi lokakarya tanpa ada satu pun hambatan komunikasi.
Keberhasilan program yang membawa semangat dakwah transformatif ini tentu tidak lepas dari sinergi lintas sektor. Selain sokongan utama dari BAZNAS RI, perhelatan di Taman Banyu Gemblinding ini turut melibatkan kolaborasi erat dengan Pemerintah Desa setempat, Karang Taruna, dan berbagai organisasi pegiat inklusi di wilayah Sukoharjo. Ekosistem gotong royong ini sengaja diciptakan untuk membentuk jaring pengaman sosial yang kokoh di akar rumput. Sebagai penutup kegiatan nantinya, para peserta juga akan melakukan ikrar komitmen bersama dan menerima santunan tunai operasional yang diharapkan dapat meringankan beban ekonomi mereka.
Melalui perpaduan dakwah yang humanis, pendekatan seni yang kreatif, dan kepedulian sosial yang nyata, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia dan BAZNAS RI berharap “Bina Cahaya Abinaya” dapat menjadi model percontohan (best practice) pembinaan kelompok rentan di Indonesia. Sebuah gerakan nyata bahwa dakwah sejati tidak hanya menyentuh aspek ritual peribadatan di dalam masjid, tetapi juga turun ke jalan memanusiakan manusia, mengembalikan rasa percaya diri, dan merajut kembali harapan masa depan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan oleh keadaan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































