Di banyak ruang kelas akhir sekolah menengah, pengumuman SNBT biasanya menjadi garis akhir yang ditunggu-tunggu. Namun bagi Abyan Fadhlan Abrar, atau yang akrab disapa Byan, murid kelas XII C MAN 1 Yogyakarta, hasil itu justru menjadi titik singgah sementara sebelum ia kembali melangkah lebih jauh.
Byan dikenal sebagai sosok yang menggambarkan dirinya dengan tiga kata sederhana: artistic, sleepyhead, dan idealis. Di balik pilihan kata yang terdengar ringan itu, ia sedang menjalani proses panjang mencari arah hidup yang paling sesuai dengan dirinya. Sejak kecil, ia tidak pernah benar-benar terpaku pada satu cita-cita yang tetap. Keinginannya berubah-ubah, tetapi ada satu benang merah yang selalu sama: ingin melakukan sesuatu yang disukai dan memberi dampak baik bagi orang lain.
Dua bidang yang kemudian menarik perhatiannya “Ilmu Komunikasi dan Hukum” tumbuh dari dua ruang berbeda. Ketertarikan pada hukum lahir dari lingkungan keluarga yang mayoritas berlatar belakang pendidikan hukum, sehingga bidang itu cukup dekat dalam kesehariannya. Sementara Ilmu Komunikasi tumbuh dari pengalaman selama berproses di MAN 1 Yogyakarta, terutama ketika ia aktif dalam Mansa Journalist. Dari sana ia mulai mengenal dunia komunikasi secara lebih nyata, tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai praktik menyampaikan gagasan, mengolah informasi, dan memahami cara pesan bekerja di masyarakat. Setelah melalui pertimbangan bersama keluarga, ia akhirnya memilih Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta sebagai tujuan pada SNBT karena merasa sesuai dengan minat, kemampuan, dan pengalaman yang ia jalani.
Proses menuju SNBT tidak berjalan ringan. Tantangan terbesar bukan hanya pada materi pelajaran, tetapi pada menjaga konsistensi semangat belajar di tengah perjalanan panjang yang melelahkan. Ia menyadari bahwa motivasi sering naik turun, dan di titik itu dukungan teman-teman menjadi penting karena mereka saling menguatkan dalam perjuangan menuju kampus impian masing-masing. Dalam proses itu, ia belajar bahwa bertahan sering kali lebih sulit daripada sekadar memulai.

Ketika pengumuman SNBT keluar dan ia dinyatakan diterima di Ilmu Komunikasi UPN Yogyakarta, ia menyambutnya dengan rasa syukur. Namun di saat yang sama, keputusan baru mulai muncul. Ia merasa masih ingin mencoba peluang lain yang lebih menantang, meskipun sudah memiliki tempat yang aman. Dari situlah ia memutuskan untuk mengikuti Ujian Mandiri Universitas Gadjah Mada dengan pilihan Fakultas Hukum. Keputusan itu dipengaruhi oleh keyakinannya bahwa UGM memiliki lingkungan akademik yang kuat untuk berkembang, serta dorongan dari latar belakang keluarga yang juga dekat dengan dunia hukum. Baginya, selama peluang masih ada, tidak ada alasan untuk tidak mencoba, karena setiap kesempatan memiliki nilai yang patut diperjuangkan.
Dalam proses persiapan itu, ia tidak membiarkan tekanan menjadi beban yang berlebihan. Saat merasa lelah, ia memilih berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan usaha. Ia juga tidak terlalu memikirkan ekspektasi orang lain, karena menurutnya setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda dan tidak selalu bisa dibandingkan. Sikap itu membuatnya tetap fokus pada proses yang ia jalani sendiri.
Lingkungan MAN 1 Yogyakarta menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Ia merasa banyak terbantu, baik dalam hal informasi pendidikan, pilihan studi, maupun dukungan dari guru dan teman-teman. Madrasah baginya bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang yang membentuk cara berpikir dan mental dalam menghadapi proses seleksi yang kompetitif.
Meski belum menetapkan arah karier secara pasti, ia memiliki ketertarikan pada dunia pengacara atau diplomat. Lebih dari itu, ia berharap ilmu yang kelak dipelajari dapat digunakan untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang belum mendapatkan hak dan keadilan secara semestinya.
Ketika seluruh perjalanan itu dirangkum, ia menggambarkannya seperti menonton sebuah film yang sangat bagus, tetapi tidak ingin menontonnya lagi. Ada rasa bangga, lelah, dan campuran emosi yang membuatnya cukup dikenang tanpa perlu diulang. Di titik itu, perjalanan Byan bukan hanya tentang dua kampus atau dua jurusan, tetapi tentang keberanian untuk tetap mencoba meski sebenarnya sudah berada di posisi yang aman.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































