Di warung kopi, obrolan itu biasanya lebih jujur daripada rapat resmi. Duduk santai, kopi hitam tanpa diaduk, gorengan tinggal remah, dan merokok sambil bercerita mengalir apa adanya. Di sini nggak ada pencitraan, nu aya mah ngan realita kehidupan.
Sekarang ini, prestasi posisinya kayak pemanis. Ada ya bagus, nggak ada juga nggak masalah. Yang benar-benar dihitung justru relasi. Bukan soal seberapa pintar, tapi seberapa dekat. Bukan nanya “kamu bisa apa?”, tapi “kamu lewat siapa?”
Coba bayangin satu jabatan diisi orang yang bukan bidangnya. Hari pertama masih pede. Hari kedua mulai sering tanya. Hari ketiga, yang ditanya malah bingung, ini atasan apa lagi magang. Akhirnya bawahan yang kerja serius, atasan yang belajar pelan-pelan.
“Nya kitu kaayaanana”
Setiap ada info lowongan kerja, obrolannya juga khas. Jarang bahas syarat atau keahlian. Langsung saja, “Masuknya lewat siapa?”
Kalau jawabannya, “Lewat jalur tes,” biasanya cuma dibalas anggukan sambil senyum tipis,
“Oh… sing sabar we.”
Artinya jelas: jalur umum itu berat, bro.
Proses rekrutmen tetap berjalan rapi. Ada seleksi tes tulis, ada sesi wawancara, ada pengumuman. Lengkap, kelihatan profesional. Tapi hasilnya bikin kaget. Karena sering kali, siapa yang lolos sudah ketebak dari awal. “Teu anéh”
Relasi sebenarnya nggak salah. Semua orang punya. Tapi kalau relasi dijadikan satu-satunya modal, sementara kompetensi cuma sebatas pelengkap, di situlah masalah mulai muncul. Yang paham kerjaan disuruh maklum, yang kurang paham disuruh memimpin.
Dan saat hasilnya berantakan, kita di warung cuma bisa senyum kecil, aduk kopi pelan-pelan, lalu nyeletuk,
“Ya pantes… wong asupna lain kusabab bisa.” ☕😌
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































