Survei nasional I-NAMHS 2022 mencatat satu dari tiga remaja (34,9%) mengalami persoalan kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, setara 15,5 juta remaja Indonesia. Survei ini meliputi remaja usia 10-17 tahun, akibatnya angkanya belum mewakili mahasiswa secara langsung. Akan tetapi, pola yang muncul patut dijadikan peringatan Masalah yang paling banyak dialami adalah gangguan cemas, dan penggunaan media sosial yang berlebihan disebut dapat memengaruhi kesehatan mental. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan dukungan atau konseling. Kesenjangan antara masalah dan layanan inilah yang menjadi pintu masuk pembahasan perencanaan sosial. Untuk kelompok mahasiswa, gambaran dari kampus juga serupa.
Sebuah studi di Universitas Gadjah Mada berdasarkan Survei Kesehatan Mahasiswa 2022 menemukan 98 dari 555 responden sudah mengalami masalah kesehatan mental, dengan perempuan lebih rentan. Peneliti juga meringkas bahwa dukungan kesehatan mental di kampus masih terbatas sehingga fasilitas dan perhatian perlu ditingkatkan. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 memperlihatkan prevalensi depresi nasional 1,4%, dengan kelompok usia 15-24 tahun menyumbang persentase terbanyak, yakni 2%. Pemerintah sendiri mengakui adanya masalah pada dasar perencanaan. Saat temuan I-NAMHS dipaparkan, disampaikan bahwa data yang tersedia sebelumnya tidak merepresentasikan Indonesia dan tidak berbasis diagnosis, sehingga perencanaan program dan advokasi kesehatan mental remaja menjadi tidak tepat sasaran.
Di tingkat kampus, program sering dimulai dari asumsi: seminar motivasi, poster kampanye, atau pengumuman layanan konseling. Niatnya baik, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan. Mahasiswa bisa saja enggan datang karena takut dicap lemah, jam layanan bentrok dengan kuliah, atau mereka lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya. Menariknya, survei I-NAMHS menemukan bahwa kebanyakan pengasuh remaja lebih memilih mengakses layanan kesehatan mental dari sekolah. Artinya, layanan yang melekat pada lingkungan sehari-hari lebih mungkin dipakai.
Di sinilah perencanaan sosial berperan. Langkah pertamanya bukan membuat program, melainkan asesmen kebutuhan: mendengar langsung dari kelompok sasaran.
1. Mendengar. Wawancara, diskusi kelompok terarah, atau survei singkat untuk menggali pengalaman nyata mahasiswa.
2. Memetakan masalah. Mengelompokkan temuan menjadi pola: pemicu stres, hambatan mencari bantuan, dan asal dukungan yang sudah ada.
3. Merumuskan sasaran. Menetapkan target yang jelas dan terukur.
4. Merancang program. Memilih bentuk intervensi yang sesuai dengan temuan.
5. Mengevaluasi. Menilai pengaruh dan memperbaiki program berdasarkan masukan peserta.
Strategi partisipatif seperti ini sudah diuji dalam riset. Studi pengembangan program EKSIS di Surabaya, contohnya, memulai dengan tahap kualitatif yang membuahkan 4 tema sebagai dasar diagnosis masalah sebelum program promosi kesehatan berbasis komunitas dirancang untuk menaikkan resiliensi remaja. Cara pandang ini mengubah label yang sering ditempelkan pada Gen Z, seperti “lemah” atau “terlalu sensitif”. Dalam kacamata perencanaan sosial, persoalannya bukan pada individu, melainkan pada sistem yang belum menyediakan ruang aman dan layanan yang mudah dijangkau. Program kesehatan mental yang baik tidak lahir dari asumsi, tetapi dari kesediaan mendengar. Ketika cerita mahasiswa menjadi dasar rancangan, program tidak hanya terlihat peduli di atas kertas, tetapi benar-benar dibutuhkan dan dipakai.
Oleh Christabel Adelin Ndraha, Mahasiswa Semester 3 Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Sumatera Utara Medan
Bahan Bacaan
Kompas.tv (13 Juli 2023). Profesor Psikologi Beri 3 Tips Jaga Kesehatan Mental Anak Muda Indonesia. https://www.kompas.tv/lifestyle/425238/profesor-psikologi-beri-3-tips-jaga-kesehatan-mental-anak-muda-indonesia
Mojok.co (2 November 2022). Survei: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Punya Masalah Kesehatan Mental. https://mojok.co/kilas/survei-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-punya-masalah-kesehatan-mental/
Jurnal Pengabdianmu, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (data I-NAMHS 2022). https://journal.umpr.ac.id/index.php/pengabdianmu/article/download/7050/4544
Gambaran Kesehatan Mental Mahasiswa UGM Berdasarkan Survei Kesehatan Mahasiswa 2022. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/252447
Pengembangan Program Promosi Kesehatan Berbasis Partisipatif Komunitas (EKSIS), UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/261307
Hubungan Kestabilan Emosi dengan Depresi, Kecemasan, dan Stres pada Mahasiswa, Universitas Katolik Soegijapranata (mengutip SKI 2023). https://e-conf.usd.ac.id/index.php/usdb/usdb2024/paper/download/4327/710
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































