JAKARTA – Perjalanan seorang guru SD yang terus belajar hingga meraih gelar doktor demi menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didiknya.
Bel masuk baru saja berbunyi di SDN Lenteng Agung 07 Jakarta. Di ruang kelas, suasana belajar terlihat berbeda. Beberapa siswa tampak aktif berdiskusi dan mengikuti arahan guru dengan antusias. Bagi mereka, belajar bukan hanya mendengarkan penjelasan di depan kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Guru yang memandu proses belajar itu adalah Dr. Tatang, M.Pd., seorang guru SD sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak 1989. Setelah lebih dari tiga dekade mengajar, ia berhasil meraih gelar doktor. Namun baginya, gelar tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk menjadi guru yang lebih baik bagi peserta didiknya.
Awal Pengabdian di Dunia Pendidikan
Keinginan Dr. Tatang untuk menjadi seorang guru telah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP. Ia terinspirasi oleh sosok guru yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mampu membentuk karakter peserta didik. Keinginan tersebut kemudian membawanya mengabdikan diri di dunia pendidikan hingga lebih dari tiga dekade.
Kariernya dimulai sebagai guru di sekolah swasta sebelum akhirnya lolos seleksi CPNS dan mengajar di SDN Lenteng Agung 07 Jakarta. Selama puluhan tahun mengajar, ia menyaksikan berbagai perubahan dalam dunia pendidikan. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa seorang guru harus terus belajar dan beradaptasi agar mampu memberikan pembelajaran yang relevan bagi peserta didik.

Belajar Tidak Mengenal Usia
Keinginan untuk terus berkembang mendorong Dr. Tatang melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Menjalani kuliah sambil mengajar dan mengurus keluarga tentu bukan hal mudah. Namun, kerja keras dan dukungan keluarga membuatnya mampu menyelesaikan pendidikan dengan predikat cum laude dan IPK 4,00.
“Perasaan yang saya rasakan adalah kebahagiaan dan rasa syukur yang sangat mendalam. Pencapaian ini bukanlah hasil dari usaha saya seorang diri, tetapi merupakan puncak dari kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak henti-hentinya,” ungkapnya.

Mengajar dengan Cara yang Berbeda
Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan doktor kemudian diterapkannya di ruang kelas. Salah satunya melalui pendekatan deep learning, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami materi secara lebih mendalam, bukan sekadar menghafal.
Selain itu, Dr. Tatang juga mengembangkan bahan ajar Bahasa Indonesia berbasis budaya Betawi. Cerita rakyat, pantun, hingga permainan tradisional seperti galasin dan yeye dimanfaatkan sebagai media belajar agar materi terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
“Murid-murid di Jakarta hidup dikelilingi oleh budaya Betawi, sehingga materi yang disisipi unsur budaya tersebut terasa lebih akrab dan menarik bagi mereka,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Kepuasan Seorang Guru
Bagi Dr. Tatang, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari nilai akademik peserta didik. Ia merasa bangga ketika melihat perubahan sikap dan semangat belajar anak-anak di kelas.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika seorang siswa yang sebelumnya sering tidak masuk sekolah mulai rajin hadir dan menunjukkan peningkatan prestasi setelah mengikuti pembelajaran yang lebih interaktif.
Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang jika diberikan pendekatan belajar yang tepat.
Terus Belajar untuk Pendidikan Indonesia
Dr. Tatang berharap dunia pendidikan Indonesia terus berkembang, terutama dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Menurutnya, guru harus terus belajar, terbuka terhadap inovasi, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Teruslah belajar dan jangan pernah berhenti meningkatkan kualitas diri. Guru adalah fondasi bagi peradaban bangsa. Dengan terus belajar, ilmu dan pengalaman yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi kemajuan dunia pendidikan,” pesannya.
Perjalanan Dr. Tatang membuktikan bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran di depan kelas. Menjadi guru berarti terus belajar, beradaptasi, dan memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Gelar doktor yang diraihnya bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk terus berkarya dan menginspirasi.
Oleh: Muhammad Ilham Putra
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































