Satu dari tiga anak usia 10-17 tahun di Indonesia disebut memiliki masalah kesehatan mental, yang menjadi alarm serius bagi lingkungan sekitar. Salah satu faktor krusial yang mempengaruhi kondisi ini adalah interaksi dengan teman sebaya. Pertemanan yang seharusnya menjadi sumber dukungan emosional, sering kali justru berubah menjadi toxic friendship yang merusak kesejahteraan psikologis.
Dilema di tengah hubungan yang tidak sehat banyak mahasiswa terjebak dalam hubungan yang manipulatif, penuh kritik, dan mendominasi secara emosional. Meskipun dampak negatifnya nyata seperti stres kronis, kecemasan, hingga menurunnya motivasi belajar. Namun, memutus silaturahmi secara total sering kali sulit dilakukan karena adanya keterikatan emosional dan ketergantungan sosial.
Strategi penanganan secara psikologis untuk menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan menerapkan batasan personal boundaries, di mana menentukan batasan yang jelas berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang adaptif untuk melindungi kesejahteraan mental dari pengaruh luar yang negatif. Selain itu, menggunakan teknik grey rock dengan menjadi tidak
reaktif secara emosional terhadap perilaku teman yang toxic, sehingga ketegangan psikologis yang berkelanjutan dapat diminimalisir. Membangun kemandirian diri juga sangat krusial, karena memiliki kemandirian tinggi cenderung lebih tangguh dan tidak mudah terpengaruh oleh perilaku agresif teman-temannya. Yang sangat penting dukungan sosial yang sehat dari teman sebaya yang positif, karena interaksi tersebut terbukti dapat mengurangi gejala kecemasan serta depresi secara signifikan.
Kualitas hubungan sangat penting karna memiliki dampak kesehatan yang setara dengan berhenti merokok. Sebaliknya, hubungan yang buruk atau toxic dapat memicu isolasi sosial dan harga diri yang rendah, yang jika dibiarkan, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan fisik dan mental yang serius. Langkah ke depan adalah memilih teman dengan bijak berdasarkan kesamaan nilai yang positif. Sinkronisasi antara dukungan lingkungan, seperti program psikoedukasi di kampus atau sekolah, diperlukan untuk membantu individu keluar dari jeratan hubungan yang tidak sehat.
Selain itu, penguatan otonomi diri dan prinsip hidup yang kokoh menjadi fondasi utama agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan teman sebaya. Kita perlu melatih keberanian untuk bersikap asertif menyampaikan batasan diri dengan jujur tanpa harus menyakiti. Pada akhirnya, memprioritaskan kualitas hubungan di atas popularitas semu adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mental, di mana dukungan dari support group atau lingkungan yang hangat akan menjadi perisai yang melindungi kita dari dampak negatif toxic friendship.
Referensi :
● Awaliyah, L. N., dkk. (2025). Pengaruh Pertemanan Yang Tidak Sehat (Toxic Friendship) Terhadap Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa. Jurnal Inspirasi Pendidikan (AL FIHRIS).
● Hidayati, D. L., & Purwandari, E. (2023). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Kesehatan Mental di Indonesia: Kajian Meta-Analisis. GUIDENA.
● Kasingku, J. D., & Warouw, W. N. (2026). Peran Lingkungan Pertemanan Dalam Membentuk Kehidupan Remaja. Nusantara Hasana Journal.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































