Dalam hubungan percintaan harusnya berlandaskan pada rasa aman, nyaman dan dukungan emosional, akan tetapi semua hubungan belum tentu berjalan sehat. Dalam beberapa kasus hubungan yang bermula dari kasih sayang berubah menjadi sumber tekanan mental yang memberikan rasa sakit. Hal ini yang sering kita kenal dengan sebutan toxic relationship.
Toxic relationship adalah hubungan yang dipenuhi perilaku negatif seperti manipulasi, posesif berlebihan, kontrol emosional, merendahkan pasangan, hingga kekerasan verbal maupun fisik. Hubungan yang terjalin dengan perilaku negatif tentunya bukanlah hal yang baik karena hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang tanpa disadari.
Hubungan toxic tentunya menciptakan kondisi yang tidak aman dan nyaman secara emosional dan dapat memicu berbagai gangguan psikologis pada korban seperti perasaan takut dan cemas, gangguan emosional berkepanjangan, kehilangan kepercayaan diri, mengalami tekanan mental, penurunan produktivitas, kesulitan tidur atau bahkan insomnia, hingga menurunnya kondisi fisik.
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan yang tidak sehat ditandai dengan beberapa perilaku negatif berikut:
1. Pasangan terlalu ikut campur dan cenderung mengontrol sehingga pasangan merasa tertekan.
2. Playing victim atau menyalahkan dan merendahkan pasangan.
3. Manipulasi emosional seperti melakukan pengancaman akan pergi atau menyakiti diri sendiri.
4. Membatasi hubungan sosial dengan teman maupun keluarga.
5. Membuat pasangan selalu merasa bersalah
6. Tidak ada rasa aman dan nyaman dalam hubungan.
Banyak orang yang masih memilih bertahan dalam hubungan toxic karena rasa takut kehilangan, perasaan yang terlanjur bergantung pada pasangan, atau mengharapkan pasangan akan berubah. Padahal, hubungan yang sehat dapat membantu seseorang berkembang, bukan membuat kehilangan diri sendiri.
Hubungan yang sehat dapat terlihat dari komunikasi yang baik, saling menghargai satu sama lain, kepercayaan kepada pasangan, dukungan emosional. Apabila hubungan justru membuat seseorang merasa lelah mental, tidak ada ketenangan, dan tidak menjadi diri sendiri, maka mulailah untuk mengevaluasi hubungan tersebut.
Kesehatan mental dalam menjalin sebuah hubungan sama pentingnya dengan menjaga perasaan pasangan, karena cinta yang sehat bukan yang mengontrol dan mengendalikan melainkan yang akan mendukung seseorang untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.
Aulia, N., & Rahmasari, D. (2024). Mengenal perilaku toxic relationship dan dampak pada kesehatan mental dan fisik. INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling, 13(1), 45–56.
Fadilah, R., & Putri, A. (2024). Toxic relationship in Gen Z: Systematic literature review. Jurnal KonselingdanPendidikan,12(2),120–129.
Hasibuan, S., & Lestari, M. (2023). Dampak toxic relationship terhadap kesehatan mental. SAMMAJIVA: Jurnal Penelitian Sosial dan Humaniora, 2(3), 33–41.
Pratama, D., & Sari, I. (2024). Hubungan toxic relationship terhadap kesehatan mental pada remaja. Jurnal Mude, 5(1), 15–24.
Yuliana, F., & Kurniawati, E. (2022). Penerimaan diri korban toxic relationship dalam menumbuhkan kesehatan mental. Ghaidan: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 6(2), 88–97.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































