Keluarga merupakan lingkungan utama dalam membentuk kepribadian dan kesehatan mental anak. Dalam proses ini, peran orang tua sangat penting. Namun, di masyarakat, peran ayah sering kali dipahami hanya sebagai pencari nafkah, sehingga keterlibatannya dalam pengasuhan dan pendidikan anak menjadi terbatas.
Padahal, dalam kajian psikologi perkembangan, kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional anak. Anak yang mendapatkan perhatian dan keterlibatan ayah cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, emosi yang stabil, serta kemampuan sosial yang lebih sehat. Sebaliknya, kurangnya peran ayah dapat memicu berbagai masalah psikologis, seperti kecemasan dan rendahnya kepercayaan diri.
Dalam perspektif Islam, ayah memiliki tanggung jawab yang lebih luas sebagai qawwam, yaitu pemimpin yang bertugas melindungi, mendidik, dan membimbing keluarga. Hal ini sejalan dengan konsep maqāṣid al-sharī‘ah yang bertujuan menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan akal (ḥifẓ al-‘aql). Kesehatan mental anak menjadi bagian penting dari kedua aspek tersebut.
Di era modern, tantangan peran ayah semakin besar akibat tuntutan pekerjaan dan perubahan gaya hidup, sehingga interaksi dengan anak sering berkurang. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran ayah dalam menjaga kesehatan mental anak melalui perspektif maqāṣid al-sharī‘ah.
Pembahasan
1. Peran Ayah dalam Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, ayah memiliki peran yang sangat penting sebagai qawwam (pemimpin) dalam keluarga. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan tanggung jawab ekonomi, tetapi juga mencakup fungsi perlindungan, pendidikan, dan pembinaan moral anak. Ayah diharapkan menjadi figur teladan yang mampu memberikan arahan serta membentuk karakter anak sejak dini.
Nilai ini tercermin dalam Al-Qur’an melalui kisah Luqman yang memberikan nasihat penuh hikmah kepada anaknya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa ayah memiliki peran aktif dalam menanamkan nilai keimanan, akhlak, dan tanggung jawab.
2. Kesehatan Mental Anak dan Pentingnya Kehadiran Ayah
Kesehatan mental anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi bebas dari gangguan psikologis, tetapi juga mencakup kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan. Dalam konteks ini, kehadiran ayah memiliki peran yang sangat signifikan.
Anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah yang aktif cenderung memiliki rasa aman yang lebih kuat. Rasa aman ini menjadi dasar bagi berkembangnya kepercayaan diri dan kestabilan emosi.
Sebaliknya, kurangnya keterlibatan ayah sering dikaitkan dengan munculnya masalah seperti:
* Kecemasan
* Perilaku agresif
* Rendahnya kepercayaan diri
* Kesulitan mengontrol emosi
3. Analisis Maqāṣid al-Sharī‘ah terhadap Peran Ayah
Dalam perspektif maqāṣid al-sharī‘ah, tujuan utama syariat adalah menjaga kemaslahatan manusia melalui perlindungan terhadap lima aspek pokok, di antaranya jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan akal (ḥifẓ al-‘aql).
Dalam aspek ḥifẓ al-nafs, kehadiran ayah berfungsi memberikan rasa aman dan perlindungan emosional bagi anak.
Dalam aspek ḥifẓ al-‘aql, ayah berperan dalam:
* Memberikan pendidikan
* Memberikan arahan
* Membentuk pola pikir
* Menanamkan nilai moral
4. Tantangan Peran Ayah di Era Modern
Di era modern, peran ayah menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, seperti:
* Tuntutan pekerjaan yang tinggi
* Waktu bersama keluarga yang terbatas
* Perubahan gaya hidup
* Ketergantungan pada teknologi
Akibatnya, banyak ayah hadir secara fisik tetapi kurang terlibat secara emosional dalam kehidupan anak.
Oleh karena itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan harus dipandang sebagai kebutuhan mendasar, bukan sekadar pilihan.
Kesimpulan
Peran ayah dalam keluarga memiliki posisi yang sangat strategis, tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pelindung, dan teladan bagi anak.
Kehadiran ayah terbukti memiliki kontribusi besar terhadap kesehatan mental anak, terutama dalam membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta kestabilan emosi.
Dalam kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, peran ayah berkaitan erat dengan upaya menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan akal (ḥifẓ al-‘aql). Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab religius dalam mewujudkan kemaslahatan anak secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
• Abdullah Nashih Ulwan. (2012). Tarbiyatul Aulad fil Islam. Jakarta: Khatulistiwa Press.
• Zakiah Daradjat. (2005). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
• John W. Santrock. (2011). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill.
• Hurlock Elizabeth B.. (1999). Child Development. New York: McGraw-Hill.
• Ahmad Tafsir. (2010). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
• M. Quraish Shihab. (2002). Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
• Jalaluddin Rahmat. (2007). Psikologi Agama. Bandung: Mizan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































