Scroll sebentar di TikTok atau Instagram, dan hampir pasti kamu akan menemukan konten soal belanja, liburan, atau gaya hidup yang terlihat “terjangkau” karena ada fitur cicil 0% atau pinjaman cair dalam hitungan menit. Buat mahasiswa, tawaran seperti ini jelas menggoda, apalagi kalau uang bulanan sudah habis di pertengahan bulan, tapi kebutuhan atau keinginan masih panjang.
Pinjaman online (pinjol) dan layanan beli sekarang bayar nanti (paylater) memang bukan hal baru. Tapi popularitasnya di kalangan mahasiswa Indonesia belakangan ini melonjak tajam. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2023, kelompok usia 19-34 tahun mendominasi pengguna pinjol di Indonesia, dan sebagian besar dari mereka masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka menggunakannya?”—tapi “apakah mereka paham risikonya?”
Mengapa Mahasiswa Begitu Mudah Tergoda?
Kalau dipikir-pikir, ada beberapa alasan masuk akal kenapa pinjol dan paylater jadi pilihan mahasiswa. Pertama dan paling utama: kebutuhan finansial yang nyata. Tidak semua mahasiswa punya orang tua yang bisa mentransfer kapan pun diminta. Biaya kos, makan, transportasi, hingga keperluan kuliah seperti buku atau laptop semua butuh dana yang kadang tidak sinkron dengan jadwal kiriman uang dari rumah.
Kedua, tekanan sosial dan gaya hidup konsumtif yang diperkuat media sosial. Seeing is believing atau dalam hal ini, seeing is wanting. Ketika teman-teman posting liburan ke Bali atau makan di restoran kekinian, ada dorongan psikologis untuk “ikutan” meski secara finansial belum siap. Paylater hadir sebagai solusi instan yang tampak tidak berbahaya: “nanti bayarnya, sekarang nikmatin dulu.”
Ketiga, kemudahan proses pengajuan yang benar-benar tidak ada duanya. Tidak perlu jaminan, tidak perlu riwayat kredit, tidak perlu bertemu petugas bank. Cukup selfie, upload KTP, dan dana bisa langsung masuk rekening. Proses yang semudah memesan ojek online ini membuat batas antara “butuh” dan “ingin” jadi kabur.
Keempat, dan ini yang paling krusial rendahnya literasi keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2022 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68%, artinya masih banyak yang belum benar-benar paham cara kerja produk keuangan. Mahasiswa pun tidak terkecuali: banyak yang tidak tahu perbedaan bunga flat dan bunga efektif, atau tidak sadar bahwa denda keterlambatan bisa berlipat ganda dalam waktu singkat.
Risiko yang Sering Diabaikan (sampai Akhirnya Terasa)
Masalah mulai muncul ketika cicilan menumpuk lebih cepat dari kemampuan membayar. Ini yang disebut debt snowball effect, utang kecil yang tidak segera dilunasi bisa bertumbuh menjadi beban finansial serius karena bunga dan denda yang terus berjalan.
Beberapa risiko konkret yang perlu dipahami:
Bunga tinggi dan denda keterlambatan: Bunga pinjol bisa mencapai 0,4% per hari artinya dalam sebulan bisa 12% dari pokok pinjaman. Bandingkan dengan KPR bank yang biasanya di kisaran 10-12% per tahun.
Gagal bayar dan penagihan agresif: Beberapa pinjol ilegal menggunakan metode penagihan yang tidak etis, termasuk menghubungi kontak di ponsel peminjam. Ini bukan mitos, sudah banyak laporan resmi ke OJK soal hal ini.
Dampak pada kesehatan mental: Tekanan cicilan yang menumpuk bisa memicu kecemasan, gangguan tidur, bahkan depresi. Penelitian dari Universitas Indonesia (2021) menunjukkan korelasi signifikan antara stres keuangan dan penurunan prestasi akademik mahasiswa.
Skor kredit rusak sejak dini: Gagal bayar di usia muda bisa merusak skor kredit yang akan berdampak pada akses ke produk keuangan formal di masa depan termasuk KPR atau pinjaman usaha.
Kasus Nyata: Ketika Angka Jadi Peringatan
Pada akhir tahun 2022, publik dikejutkan oleh berita dari Institut Pertanian Bogor (IPB): sebanyak 311 mahasiswa aktif dilaporkan terjerat pinjaman online. Modusnya cukup mengkhawatirkan, sebagian mahasiswa tidak menyadari mereka sedang mengajukan pinjaman karena diminta tolong teman untuk “numpang akun” atau tergiur skema investasi bodong yang mengharuskan mereka mendaftar ke platform pinjol tertentu. Total kerugian yang dilaporkan mencapai lebih dari Rp2,1 miliar (CNN Indonesia, 2022).
Kasus IPB ini bukan yang pertama, dan tentu bukan yang terakhir. Di berbagai kota lain, laporan mahasiswa yang terjerat pinjol dengan alasan mulai dari bayar UKT, beli gadget, hingga biaya hidup terus bermunculan. Yang menarik atau lebih tepatnya miris, adalah bahwa sebagian besar kasus berasal dari penggunaan yang awalnya terasa “wajar”: cicil HP, beli baju, atau sekadar nutup defisit akhir bulan.
Pada sisi paylater, OJK mencatat peningkatan signifikan pengaduan terkait fitur ini, khususnya dari kalangan usia muda. Salah satu pola yang sering teridentifikasi: pengguna mengaktifkan paylater di beberapa platform sekaligus (marketplace, aplikasi perjalanan, platform fashion), sehingga cicilan yang masing-masing terasa kecil justru menumpuk menjadi beban bulanan yang besar.
Tidak Selalu Hitam Putih
Perlu jujur juga: tidak semua penggunaan pinjol dan paylater berakhir buruk. Ada mahasiswa yang berhasil menggunakannya dengan bijak, misalnya untuk membeli laptop yang mendukung perkuliahan ketika ada promo cicilan 0%, atau menutup kebutuhan mendesak sementara menunggu transfer orang tua yang tertunda. Dalam kondisi seperti ini, layanan keuangan digital justru berfungsi sebagaimana mestinya: sebagai jembatan finansial jangka pendek.
Keberadaan pinjol legal dan paylater dari perusahaan teknologi finansial (fintech) yang terdaftar di OJK juga memberikan akses keuangan kepada kelompok yang sebelumnya tidak terlayani oleh perbankan tradisional. Ini adalah bagian dari agenda inklusi keuangan yang sesungguhnya penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
Yang membedakan antara pengguna yang aman dan yang terjerat bukan hanya semata-mata produknya, tapi pemahaman dan kedisiplinan dalam menggunakannya. Pisau dapur bisa dipakai memasak atau melukai; pinjol dan paylater pun demikian.
Literasi Keuangan: Bekal yang Sering Dilupakan
Di era ketika aplikasi pinjaman bisa diunduh semudah aplikasi game, kemampuan mengelola keuangan bukan lagi pilihan, ini sudah jadi kebutuhan hidup. Ironinya, literasi keuangan masih jarang masuk dalam kurikulum formal perkuliahan, padahal mahasiswa adalah kelompok yang paling rentan sekaligus paling aktif menggunakan layanan keuangan digital.
Memahami pinjol dan paylater bukan berarti harus menghindarinya sepenuhnya. Tapi sebelum klik “ajukan sekarang”, ada baiknya tanya dulu: apakah ini keputusan yang dibuat dengan pikiran jernih, atau karena tekanan sesaat? Apakah kamu sudah hitung angkanya dengan benar, atau hanya lihat cicilan bulanannya saja?
Kebebasan finansial di masa depan dimulai dari keputusan keuangan yang cerdas hari ini termasuk keputusan untuk tidak berutang ketika sebenarnya tidak perlu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































