Ada satu gejala yang cukup akrab di kalangan anak muda hari ini. Mereka punya banyak mimpi, mengenal banyak peluang, dan cukup berani membayangkan masa depan yang tinggi. Ingin kuliah di kampus bagus, mendapat beasiswa, bekerja di perusahaan besar, punya usaha sendiri, mahir banyak hal, bahkan kalau bisa sukses sebelum usia 30 tahun.
Tidak ada yang salah dengan itu. Justru bagus.
Masalahnya muncul ketika ambisi yang besar tidak selalu berjalan seiring dengan kebiasaan sehari-hari. Targetnya tinggi, tetapi langkah pertamanya terus ditunda. Rencananya banyak, tetapi eksekusinya tipis. Semangat bisa muncul setelah menonton video motivasi, membaca kisah sukses, atau melihat pencapaian orang lain di media sosial. Sayangnya, semangat itu sering cepat menguap ketika berhadapan dengan rutinitas yang membosankan.
Fenomena semacam ini belakangan sering disebut lazy ambitious. Istilahnya memang terdengar bertabrakan. Bagaimana mungkin seseorang malas sekaligus ambisius? Namun kalau dipikir-pikir, justru di situlah letak paradoksnya. Seseorang bisa sangat ingin sukses, tetapi tidak cukup sabar menjalani proses menuju ke sana.
Tentu, istilah ini tidak boleh dipakai sembarangan untuk menyebut generasi muda sebagai generasi pemalas. Anak muda hari ini juga sedang tumbuh dalam budaya yang berbeda. Mereka mulai mempertanyakan anggapan bahwa sukses harus selalu identik dengan sibuk, pulang malam, kurang tidur, dan bekerja tanpa jeda. Mereka ingin tetap punya ruang untuk keluarga, pertemanan, kesehatan, dan kehidupan pribadi.
Itu bukan kemalasan. Itu bisa jadi bentuk kesadaran baru tentang hidup yang lebih seimbang.
Persoalannya adalah ketika gagasan “bekerja cerdas” berubah menjadi alasan untuk menghindari kerja. Ketika work-life balance dipakai untuk membenarkan kebiasaan menunda. Ketika keinginan untuk hidup lebih santai justru membuat seseorang enggan berhadapan dengan proses yang memang tidak selalu menyenangkan.
Di titik inilah dunia pendidikan perlu ikut bercermin.
Anak-anak sekarang hidup di zaman yang gemar mempertontonkan hasil. Kita melihat seseorang mendapat beasiswa, menjadi juara, membangun bisnis, mendapat pekerjaan bagus, atau viral karena karya tertentu. Yang jarang terlihat adalah proses panjang di belakangnya: berkali-kali gagal, memperbaiki karya, bangun pagi, berlatih, ditolak, mencoba lagi, lalu gagal lagi.
Kita sering melihat panggung, tetapi tidak melihat ruang latihannya. Karena itu, sukses mudah terlihat seperti sesuatu yang instan. Belajar ingin cepat pintar. Membuat konten ingin cepat viral. Berbisnis ingin cepat untung. Baru mencoba beberapa kali lalu gagal, semangat sudah turun.
Keinginan tumbuh cepat. Ketahanan menjalani proses belum tentu ikut tumbuh.
Sekolah sebenarnya punya peran penting di sini. Selama ini kita cukup rajin bertanya kepada murid, “Nanti ingin menjadi apa?” Pertanyaan itu penting, tetapi mungkin perlu diikuti pertanyaan lain yang lebih sederhana: “Apa yang sudah kamu lakukan untuk menuju ke sana?” Sebab mimpi besar tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kadang justru yang dibutuhkan adalah kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Murid tidak selalu kekurangan motivasi. Internet sudah penuh dengan motivasi. Yang lebih dibutuhkan justru kemampuan mengatur diri. Bagaimana memulai tugas ketika sedang tidak ingin. Bagaimana membagi pekerjaan yang besar menjadi bagian kecil. Bagaimana mengatur waktu. Bagaimana tetap menyelesaikan sesuatu ketika rasa bosan datang.
Pendidikan karena itu tidak cukup hanya mendorong anak agar berani bermimpi. Pendidikan juga perlu mengajarkan bagaimana bertahan dalam proses.
Sekolah jangan hanya memberi tenggat, tetapi juga membimbing murid mengelola tenggat. Jangan hanya memberi proyek, tetapi juga membantu mereka memahami tahapan kerja. Jangan hanya memuji hasil terbaik, tetapi juga menghargai perbaikan, revisi, dan usaha yang konsisten.
Disiplin juga perlu dijelaskan dengan cara yang lebih masuk akal. Disiplin bukan berarti hidup seperti mesin. Bukan pula berarti setiap menit harus produktif. Disiplin sesederhana kemampuan mengerjakan sesuatu yang memang perlu dilakukan, meskipun pada saat itu kita sedang tidak terlalu ingin melakukannya.
Pada saat yang sama, jangan pula kita mengganti fenomena lazy ambitious dengan budaya sibuk yang baru. Anak tidak harus punya jadwal penuh dari pagi sampai malam untuk disebut berprestasi. Istirahat tetap penting. Bermain, olahraga, membaca, mengobrol dengan keluarga, atau sekadar diam sebentar juga bagian dari hidup.
Yang perlu dipahami adalah perbedaannya. Istirahat berbeda dengan menunda. Bekerja cerdas berbeda dengan menghindari kerja. Hidup seimbang berbeda dengan takut menghadapi kesulitan.
Teknologi memang membuat banyak hal jauh lebih mudah. Kecerdasan buatan bisa membantu menemukan ide, mesin pencari bisa menyediakan informasi dalam hitungan detik, dan aplikasi bisa membantu mengatur pekerjaan. Namun ada satu hal yang tetap tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada teknologi: kemauan untuk menjalani proses. Justru ketika dunia semakin cepat, kemampuan bertahan menjadi semakin penting.
Mungkin lazy ambitious bukan tentang generasi yang tidak punya masa depan. Bisa jadi mereka justru punya terlalu banyak gambaran tentang masa depan, tetapi belum tahu bagaimana memulainya.
Maka mereka tidak selalu membutuhkan ceramah agar bermimpi lebih tinggi. Banyak dari mereka sudah punya mimpi besar. Yang dibutuhkan mungkin lebih sederhana: mulai.
Ingin menjadi penulis? Tulis satu halaman. Ingin mendapat beasiswa? Belajar hari ini. Ingin punya usaha? Mulai dari satu produk. Ingin nilai lebih baik? Buka buku sebelum panik menjelang ujian.
Tidak perlu langsung berlari. Tidak perlu pula sibuk agar terlihat hebat.
Yang penting, jangan hanya berdiri sambil membicarakan tujuan.
Mulailah melangkah.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































