Jakarta – Tiga negara di tiga benua berbeda—Venezuela, Jepang, dan California (AS) —hampir bersamaan diguncang gempa bumi yang menggemparkan dunia. Dalam hitungan jam setelah musibah tersebut, Ketua DPR RI melalui akun resmi Instagram @dpr_ri menyampaikan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) harus menjadi prioritas utama, termasuk saat terjadi bencana di luar negeri.
Dalam unggahan yang disertai gambar ilustrasi bertajuk “3 Negara Diguncang Gempa” tersebut, DPR RI menyoroti pentingnya penguatan sistem perlindungan WNI serta kesiapsiagaan menghadapi bencana. Meskipun Kementerian Luar Negeri telah memastikan tidak ada WNI yang menjadi korban, DPR RI menilai momentum ini perlu menjadi pengingat untuk terus memperkuat mitigasi bencana, sistem komunikasi darurat, dan perlindungan bagi WNI di luar negeri. Unggahan yang telah mendapat ratusan tanda suka dari warganet ini pun menuai beragam tanggapan dari publik.
Wawancara Eksklusif: “Kita Harus Bergerak dari Reaktif ke Preventif”
Dalam kesempatan terpisah, redaksi berkesempatan mewawancarai Bobi Yulianto SST.Par, S.H. , seorang aktivis yang dikenal sebagai pengamat kebijakan tenaga kerja luar negeri dan pemerhati diaspora Indonesia. Pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP GRIB Jaya dan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Organsasi Nusantara Jaya juga aktif dalam organisasi-organisasi bidang siber yang secara khusus melakukan pengontrolan berita-berita yang berhubungan dengan diaspora di luar negeri.
Bagaimana tanggapan Bapak atas pernyataan cepat DPR RI terkait gempa di tiga negara tersebut?
“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ketua DPR RI dan seluruh jajaran pimpinan serta anggota dewan yang terhormat, khususnya melalui akun @dpr_ri. Dalam hitungan jam setelah musibah, DPR RI sudah menyuarakan perlindungan WNI sebagai prioritas. Ini adalah sinyal politik yang sangat baik dan menggembirakan bagi seluruh diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia,” ujar Bobi Yulianto saat ditemui di Jakarta, Senin (29/6).
Menurutnya, pernyataan DPR RI yang menekankan bahwa momentum ini harus dijadikan pengingat untuk memperkuat mitigasi bencana dan sistem komunikasi darurat adalah langkah narasi yang tepat dan bertanggung jawab. “Saya melihat ini sebagai bentuk kewaspadaan kolektif yang tidak boleh berhenti di pernyataan saja. Tapi setidaknya, DPR RI telah membuka pintu untuk diskusi kebijakan yang lebih serius ke depan. Saya mengapresiasi itu,” tambahnya.
Apa yang Bapak harapkan dari pemerintah dan DPR RI ke depan?
Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP GRIB Jaya yang kerap bersinggungan dengan isu ketenagakerjaan dan perlindungan buruh migran, Bobi Yulianto menyatakan dukungan penuh kepada Pemerintah RI dan mendorong pengambilan langkah-langkah preventif serta strategis yang terkoordinasi erat dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara terdampak.
“Kita semua bersyukur tidak ada WNI yang menjadi korban. Namun, ucapan syukur tidak boleh membuat kita lengah. Justru di sinilah kita harus bergerak cepat menyusun strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Jangan sampai bencana berikutnya—di mana pun itu terjadi—kita kembali terkejut dan bergerak reaktif,” tegasnya.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Organisasi Nusantara Jaya, Bobi Yulianto mengusulkan tiga ide strategis yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan DPR RI:
1. Sistem Peringatan Dini Multikanal Nasional – Mengembangkan sistem notifikasi berbasis aplikasi atau media sosial yang terintegrasi untuk menyebarkan informasi cepat dalam bahasa Indonesia dan bahasa lokal, tidak hanya tentang bencana alam, tetapi juga situasi darurat lainnya.
2. Peran Atase dan Pelatihan Migran Pra-Pemberangkatan – KBRI didorong untuk memberdayakan atase ketenagakerjaan untuk memberikan pelatihan mitigasi bencana dasar bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebelum pemberangkatan.
3. Program ‘Rumah Aman Diaspora’ – Menginisiasi program untuk menjadikan kantor-kantor KBRI dan pusat komunitas Indonesia sebagai titik kumpul darurat yang dilengkapi dengan logistik dasar di kota-kota rawan bencana.
Selain itu, sebagai pemerhati diaspora yang juga aktif dalam organisasi-organisasi bidang siber yang mengontrol berita-berita terkait diaspora, Bobi Yulianto menyoroti pentingnya penguatan sistem data dan informasi. “Kami selama ini aktif memantau arus informasi dan pemberitaan yang beredar di kalangan diaspora untuk mencegah kepanikan, menyebarkan edaran resmi dari KBRI, dan memastikan bahwa setiap WNI mendapatkan informasi yang akurat dan tidak menyesatkan. Saya menawarkan kolaborasi antara pemerintah, DPR, dan organisasi sipil seperti kami untuk membangun sistem kewaspadaan nasional berbasis data yang terintegrasi,” jelasnya.
Pesan apa yang ingin Bapak sampaikan di akhir wawancara ini?
“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Ketua DPR RI dan seluruh anggota dewan yang telah dengan cepat merespons musibah ini dan menyuarakan perlindungan WNI. Semoga semangat ini terus berlanjut ke ranah kebijakan konkret. Pemerintah dan DPR perlu menjadikan peristiwa ini sebagai katalis untuk merevisi atau memperkuat Undang-Undang tentang Perlindungan Pekerja Migran dan meningkatkan anggaran kedaruratan di luar negeri. Jangan sampai ketika bencana datang, perlindungan kita hanya berjalan setengah hati,” ujarnya dengan tegas.
Harapan untuk Diaspora dan Solidaritas Kebangsaan
Kepada seluruh masyarakat Indonesia di tanah air dan diaspora di manapun berada, Bobi Yulianto mengajak untuk terus bersatu dan saling menguatkan. “Semoga masyarakat di wilayah terdampak diberi kekuatan, kesabaran, dan keselamatan. Negara harus hadir, cepat, dan tepat. Ini adalah komitmen kita bersama untuk Indonesia yang lebih kuat,” pungkasnya.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Nurdin
Tanggal: 29 Juni 2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































