Jember –Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Smart Urban Farming Berbasis Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Keluarga” pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Andi Kurniawan, S.P., M.Sc., Ph.D. bersama Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya Tahun 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik sederhana sebagai salah satu alternatif pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga. Melalui pemanfaatan lahan yang terbatas dan penggunaan bahan-bahan sederhana, metode ini diharapkan mampu menjadi solusi dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus memperkenalkan konsep urban farming yang mudah diterapkan oleh masyarakat.

Materi disampaikan oleh Andi Kurniawan, S.P., M.Sc., Ph.D. bersama satu perwakilan Tim KKN FBiPK Universitas Brawijaya. Dalam pemaparannya, Andi Kurniawan menjelaskan bahwa hidroponik tidak selalu identik dengan teknologi yang mahal dan rumit.
“Bapak, ibu, ketika kita membicarakan tentang hidroponik, mungkin pada umumnya asumsi yang terlintas di bayangan adalah mahal, rumit, dan hanya ada di perkotaan-perkotaan. Namun sebenarnya hidroponik itu memiliki beberapa jenis, salah satunya yakni wick system yang memanfaatkan gaya kapilaritas. Sistem ini sederhana, mudah dibuat, dan cocok untuk pemula. Bahkan dalam membuatnya kita bisa menggunakan bahan-bahan bekas yang ada di sekitar kita seperti wadah bekas cat, baskom bekas hajatan, maupun thinwall bekas yang biasanya kita buang. Selain bisa menggunakan barang yang ada di sekitar, sistem ini juga tidak memerlukan listrik. Oleh karena itu, budidaya tanaman menggunakan sistem ini sangat mudah untuk dilakukan,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, mayoritas peserta mengaku belum pernah mencoba metode budidaya menggunakan hidroponik, bahkan beberapa di antaranya baru pertama kali mengenal sistem tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Salah satu peserta menanyakan kemungkinan penggunaan kain dari baju bekas sebagai sumbu pada sistem wick. Tim pemateri menjelaskan bahwa hal tersebut memungkinkan selama bahan yang digunakan memiliki kemampuan menyerap dan merembeskan air melalui gaya kapilaritas. Pertanyaan lain juga muncul mengenai alternatif media tanam selain rockwool. Pemateri menjelaskan bahwa media tanam lain seperti serabut kelapa dapat digunakan dengan catatan media tersebut tetap memperoleh suplai air secara langsung tanpa terendam sepenuhnya.

Suasana praktik berlangsung interaktif dan penuh semangat. Salah seorang peserta menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut dengan mengatakan, “Wah, senang sekali diajari begini, Mbak.” Antusiasme masyarakat juga terlihat ketika beberapa peserta secara spontan membawa wadah thinwall bekas yang mereka miliki untuk memastikan apakah wadah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media hidroponik. Mereka bahkan langsung mempraktikkan cara melubangi wadah sambil berdiskusi dengan tim pelaksana mengenai teknik pembuatannya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai teknik budidaya hidroponik, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik secara langsung sehingga diharapkan mampu menerapkan metode tersebut secara mandiri di rumah. Pemanfaatan barang bekas sebagai media tanam serta penggunaan sistem yang tidak memerlukan listrik menjadikan teknologi hidroponik wick system lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui pengenalan budidaya sayuran mandiri untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) dengan mendorong pemanfaatan lahan pekarangan sebagai ruang hijau produktif yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Penggunaan wadah bekas sebagai media tanam, penerapan hidroponik sederhana yang hemat air, serta tidak memerlukan listrik juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan kembali barang bekas dan penerapan praktik budidaya yang lebih efisien serta ramah lingkungan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































