Sentimen Agama dalam Manajemen Impresi Politik: Temuan di Pilkada Serentak 2024 Sumatera Utara
Medan, 23 Desember 2025 – Provinsi Sumatera Utara (Sumut), dengan keberagaman etnis dan agama yang tinggi—mayoritas Muslim, signifikan Kristen di wilayah Batak dan Nias, serta minoritas Buddha dan Hindu—baru saja menyelesaikan Pilkada serentak 2024 pada 27 November lalu. Meliputi Pilgub serta pemilihan di 33 kabupaten/kota, kontestasi ini menunjukkan adanya temuan sentimen agama yang memengaruhi manajemen impresi politik, meski secara keseluruhan berlangsung relatif kondusif berkat pengawasan ketat.
Fenomena ini menggarisbawahi bagaimana elemen identitas agama masih dimanfaatkan untuk membentuk citra kepemimpinan lokal, meskipun tidak semasif pilkada sebelumnya.
Manajemen Impresi Politik dan Temuan Sentimen Agama
Manajemen impresi politik, mengacu pada teori dramaturgi Erving Goffman, melibatkan strategi kandidat untuk menyajikan citra ideal di hadapan publik melalui kampanye dan media sosial. Di Sumut yang heterogen, sentimen agama berpotensi menjadi alat mobilisasi, terutama di daerah dengan komposisi pemilih berbasis identitas sosial.
Pada Pilkada 2024, survei Litbang Kompas dan analisis pasca-pemungutan suara menemukan bahwa sentimen identitas, termasuk agama, memainkan peran dalam pola dukungan pemilih. Khusus di Pilgub, kemenangan telak Bobby Nasution-Surya (sekitar 64%) atas Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala dipengaruhi oleh persepsi bahwa pasangan tersebut lebih mewakili identitas sosial masyarakat Sumut, dengan pembagian suara yang masih mengikuti garis etnis-agama historis (misalnya, dukungan kuat di wilayah Batak Kristen dan Muslim mayoritas).
Temuan ini terlihat dari:
Pola sebaran suara: Dukungan Bobby-Surya dominan di wilayah Tapanuli, Nias, dan Labuhan Batu, yang mencerminkan konvergensi identitas agama dan etnis, mirip dengan pola Pilpres 2024.
Survei pemilih: Sebagian responden masih mempertimbangkan faktor agama dan etnis dalam memilih, meski isu substantif seperti pembangunan lebih dominan.
Pengawasan Bawaslu: Meski tidak ada laporan masif pelanggaran SARA eksplisit, Bawaslu Sumut mencatat potensi sentimen primordial di beberapa kabupaten/kota, yang berhasil diredam melalui deklarasi damai.
Deklarasi kampanye damai tanpa politik identitas agama oleh Kanwil Kemenag Sumut pada September 2024 turut meredam eskalasi, melibatkan partai, KPU, dan tokoh masyarakat.
Dampak terhadap Citra Kepemimpinan Lokal
Temuan sentimen agama ini memberikan dampak ganda. Di satu sisi, membantu membangun citra pemimpin sebagai “mewakili mayoritas” atau “inklusif lintas identitas”, seperti pada kemenangan Bobby-Surya yang meraup dukungan luas di 30 dari 33 wilayah. Citra inklusif ini memperkuat legitimasi, menghindari polarisasi terbuka.
Di sisi lain, risiko tetap ada:
Polarisasi tersirat: Pembagian suara berbasis identitas dapat melemahkan kohesi sosial jangka panjang.
Marginalisasi minoritas: Kelompok kecil merasa kurang terwakili jika impresi politik terlalu bergantung pada sentimen mayoritas.
Degradasi fokus substantif: Isu agama menggeser perhatian dari program riil seperti ekonomi dan infrastruktur.
Namun, Pilkada 2024 di Sumut menunjukkan kemajuan, dengan minim kasus hoaks SARA yang memicu konflik, berkat netralitas tokoh agama dan pengawasan proaktif.
Menuju Kepemimpinan yang Inklusif
Temuan sentimen agama di Pilkada Sumut 2024 menjadi pengingat bahwa manajemen impresi politik harus lebih berorientasi pada kompetensi dan rekam jejak, bukan identitas primordial. Keberhasilan meredam polarisasi melalui sinergi Kemenag, Bawaslu, dan masyarakat patut dijadikan teladan.
Pemimpin lokal terpilih diharapkan membangun citra melalui program merata dan dialog antaragama, memperkuat Pancasila sebagai perekat kebhinekaan. Refleksi ini penting untuk pilkada mendatang, agar demokrasi Sumut semakin matang dan harmonis.
Artikel ini bertujuan mendorong diskusi publik tentang pentingnya demokrasi inklusif di tengah keberagaman Sumatera Utara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































