Apa itu Multitasking?
Multitasking bisa diartikan dengan aktivitas manusia yang melakukan lebih dari satu kegiatan dalam kurun waktu yang sama. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang merasa mampu mengerjakan dua tugas di laptop sekaligus dengan membuka banyak tab. Hal ini terdengar seperti produktif, namun multitasking tidak sesederhana itu.
Cara Kerja Otak: Fokus tidak terbelah
Dalam materi perkuliahan yang sudah saya dapat, perhatian digambarkan seperti sorotan lampu. Cahayanya terang, tetapi hanya menyorot ke satu arah. Ketika ada tugas atau hal lain yang meminta perhatian, sorotan tersebut bukan terbelah menjadi dua. Ia hanya berpindah dari satu arah ke arah yang lain.
Maka perpindahan fokus inilah yang sebenarnya terjadi ketika kita merasa sedang multitasking. Otak hanya mengganti perhatian dengan cepat, bukan memproses dua hal sekaligus.
Contoh Sehari-hari
Contoh sederhananya adalah ketika kita membaca materi kuliah sambil menerima pesan. Maka ketika pesannya muncul, kita akan berhenti sebentar untuk membaca, memahami, dan membalas pesan tersebut, lalu kembali ke materi yang sedang disampaikan oleh dosen. Sekilas hal ini terasa sederhana.
Tetapi begitu kembali mendengarkan, ada momen yang membuat kita seperti kehilangan alur materi tersebut. Kita butuh beberapa detik untuk mengingat dosen sedang menjelaskan apa, sudah di bagian mana, atau apa kalimat yang sudah terlewatkan. Pikiran kita terasa seperti sedikit nge-blank karena otak harus berusaha mengingat alur yang sempat hilang saat kita berpindah fokus.
Selain itu dalam konteks belajar, multitasking juga membuat materi sulit dipahami secara mendalam. Ketika perhatian terbagi, maka informasi yang kita dapatkan tidak tersimpan dengan baik. Sehingga kita lebih cepat lupa dan harus mengulangnya dari awal.
Mengapa Beberapa Aktivitas Bisa Dilakukan Bersamaan?
Mungkin kalian berpikir seperti bisa berjalan sambil berbicara, makan sambil menonton TV, atau mandi sambil bernyanyi. Ini bukan multitasking yang sebenarnya, karena salah satu aktivitas nya bersifat otomatis sehingga tidak membutuhkan perhatian penuh.
Berbeda ketika kita melakukan dua aktivitas yang membutuhkan konsentrasi. Seperti menonton podcast sambil berbicara atau mengobrol dengan teman, setelah menjawabnya lalu lanjut mendengarkan podcast maka kita menjadi tidak yakin dengan bagian yang terlewat, melanjutkannya juga membuat kita merasa seperti ada hal yang terlewatkan dan hilang.
Perempuan dapat Multitasking
Ada anggapan bahwa perempuan lebih pandai multitasking dibandingkan dengan laki-laki. Opini ini sering muncul karena dalam keseharian, perempuan atau seorang ibu terlihat bisa mengurus banyak hal sekaligus. Tetapi sebenarnya yang terjadi adalah bukan kemampuan memproses dua tugas berat dalam satu waktu sekaligus, melainkan kemampuan yang dimiliki perempuan untuk mengelola perpindahan tugas dari satu ke yang lain lebih pandai dibandingkan laki-laki.
Penelitian melaporkan jika otak laki-laki dan perempuan dapat bereaksi dengan cara yang berbeda jika diharuskan untuk multitasking. Otak pria memerlukan banyak energi agar bisa tetap fokus dan menyelesaikan pekerjaannya ketika datang dalam jumlah banyak. Sedangkan perempuan tidak demikian. Teori lain juga menunjukkan kemampuan wanita yang bisa mengambil alih banyak pekerjaan dipengaruhi oleh keseimbangan hormon dan tubuh.
Multitasking Merusak Otak
Beberapa orang mungkin memiliki kebiasaan untuk melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu karena merasa itu adalah cara tercepat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Kita merasa ‘semakin banyak hal yang disentuh dalam satu waktu, semakin produktif kita.’ Padahal nyatanya saat perhatian kita terpecah, pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat justru menjadi lebih lama dan tidak efisien.
Berbagai penelitian membuktikan mengerjakan lebih dari satu tugas secara bersamaan justru malah tidak efisien. Selain menurunkan produktivitas. Jika dilakukan secara terus menerus dan terlalu sering, efek negatif dari multitasking adalah penurunan kemampuan memori khususnya short term memory. Bagian otak inilah yang pertama kali mengolah informasi yang masuk untuk disampaikan dalam ingatan, sehingga apabila sedang mengerjakan atau berpikir tentang beberapa hal dalam waktu bersamaan, maka bisa terjadi stimulasi berlebihan pada otak kita. Proses atensipun berpindah-pindah, akibatnya otak tidak dapat memilah mana informasi penting dan tidak penting
Kesimpulan
Multitasking adalah pekerjaan yang mengerjakan dua atau tiga tugas dalam waktu bersamaan. Dari penjelasan tentang cara kerja, perhatian, memori, dan kebiasaan kita dalam mengerjakan banyak hal sekaligus, terlihat bahwa multitasking sebenarnya tidak terjadi sebagaimana yang selama ini kita bayangkan. Saat melakukan multitasking, otak manusia bekerja dengan sistem fokus yang berpindah, bukan fokus yang berjalan bersama. Setiap kali perhatian teralihkan, ada memori yang terputus dan harus dibangun ulang. Proses inilah yang membuat pekerjaan menjadi lebih lambat, pemahaman berkurang, dan energi cepat habis. Meski multitasking sering dikaitkan dengan produktivitas, kenyatanyaannya justru membuat hasil pekerjaan kurang maksimal.
Anggapan bahwa perempuan lebih mampu melakukan multitasking juga tidak didukung oleh cara kerja otak. Baik laki-laki maupun perempuan tetap memiliki batasan yang sama ketika mengerjakan dua tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi secara bersamaan.
Pada akhirnya, fokus yang terjaga memberikan hasil yang jauh lebih baik dibanding membagi fokus atau perhatian. Mengurangi gangguan atau distraksi, menyusun prioritas, dan menyelesaikan satu tugas sebelum berpindah ke tugas lain merupakan cara yang lebih realistis dan sehat bagi otak. Produktivitas lahir dari perhatian yang utuh dan terjaga, bukan dari seberapa banyaknya tugas yang kita sentuh sekaligus. Dengan memahami hal ini, kita bisa bekerja lebih efektif tanpa membebani diri secara berlebihan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































