Pernah terpikir kalau warna makanan yang kita makan bisa “pindah” ke tubuh kita? Kedengarannya berlebihan, tapi dalam kasus wortel, hal ini secara ilmiah memang bisa terjadi. Wortel mengandung pigmen alami berwarna oranye terang yang disebut β-karoten, salah satu jenis karotenoid yang larut dalam lemak.
β-karoten berfungsi sebagai provitamin A, artinya senyawa ini akan diubah oleh tubuh menjadi vitamin A sesuai kebutuhan. Namun, ketika konsumsi β-karoten jauh melebihi kapasitas metabolisme tubuh dan terjadi secara terus-menerus, kelebihannya tidak langsung dibuang. Pigmen ini justru akan terakumulasi di jaringan lemak dan lapisan kulit, terutama pada telapak tangan, telapak kaki, dan area wajah. Kondisi ini dikenal sebagai karotenemia.
Secara visual, karotenemia menyebabkan warna kulit tampak kekuningan hingga oranye, tetapi tidak bersifat patologis. Berbeda dengan ikterus (penyakit kuning), karotenemia tidak memengaruhi warna sklera mata dan tidak berkaitan dengan gangguan fungsi hati. Fenomena ini murni disebabkan oleh akumulasi pigmen pangan, bukan penyakit metabolik.
Dari sudut pandang ilmu pangan, kasus ini menunjukkan bahwa pigmen alami tidak hanya berperan dalam meningkatkan daya tarik visual bahan pangan, tetapi juga memiliki bioavailabilitas tinggi dalam tubuh manusia. Karotenoid dari wortel, labu, dan ubi jalar relatif stabil selama proses pencernaan dan mudah diserap bersama lemak, sehingga efek akumulasinya lebih nyata dibanding pigmen lain.
Dengan demikian, “tubuh berubah warna” akibat wortel bukanlah mitos, melainkan bukti bahwa apa yang kita konsumsi benar-benar berinteraksi langsung dengan sistem biologis tubuh. Meski aman, kondisi ini menegaskan pentingnya prinsip konsumsi seimbang, bahkan untuk bahan pangan yang dikenal sangat sehat.
Daftar Pustaka
Britton, G., Liaaen-Jensen, S., & Pfander, H. (2009). Carotenoids: Nutrition and Health. Basel: Birkhäuser Verlag.
Rodriguez-Amaya, D. B. (2016). Food Carotenoids: Chemistry, Biology and Technology. Chichester: John Wiley & Sons.
Sizer, F. S., & Whitney, E. (2017). Nutrition: Concepts and Controversies. Boston: Cengage Learning.
Institute of Medicine. (2001). Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic, Boron, Chromium, Copper, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon, Vanadium, and Zinc. Washington, DC: National Academies Press.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































