Pasuruan, NU Online – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menegaskan bahwa kekuatan agama Islam terletak pada aspek rasionalitas. Sebab itu, agama Islam dikawal dengan logika melalui ilmu kalam atau ilmu tauhid. “Agama ini dikawal dengan logika dengan ilmu kalam atau istilahnya ilmu tauhid. Jadi, sebetulnya yang menyelamatkan agama ini adalah ad-diin al-aqliyyun, sesuatu yang logis,” ujar Gus Baha pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (1/9/2025) dikutip NU Online Jatim. Gus Baha menjelaskan, Rasulullah SAW memiliki perilaku yang menunjukkan sisi kemanusiaannya (al-a\’raf al-basyariyah). Hal ini berbeda dengan Nabi Isa yang dalam kesempurnaannya justru dituhankan oleh sebagian pengikutnya. “Nabi Muhammad itu memperlihatkan sisi manusianya. Beliau makan, tidur, berinteraksi dengan manusia biasa. Itu maklumat bahwa Nabi Muhammad tidak akan pernah menjadi Tuhan. Itu penting agar umat tidak terjebak seperti umat Nabi Isa yang menuhankan nabinya,” terangnya. Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur\’an LP3IA Rembang, Jawa Tengah itu menyebutkan, Rasulullah SAW adalah nabi yang paling sedikit menampilkan mukjizat. Sebab, mukjizat kerap dianggap sebagai sihir oleh orang-orang kafir. “Ketika unta keluar dari batu, mukjizat Nabi Saleh malah dianggap sihir. Maka, Rasulullah mengutamakan dakwah dengan logika, bukan dengan mukjizat yang spektakuler,” tegasnya. Ia menyampaikan sebuah kisah dalam Shahih Bukhari tentang Zubair bin Muth’im, seorang musyrik cerdas yang diutus ke Madinah untuk membebaskan tawanan perang Badar. Saat Rasulullah SAW membaca surat At-Tur ketika shalat Maghrib, Zubair langsung tersentuh oleh logika dalam Al-Qur’an. “Di surat At-Tur, Allah berlogika: ‘Kalau kamu mengaku Tuhan, buktikanlah bahwa kamu pencipta langit dan bumi. Jangan seperti Fir’aun atau Isa yang dilahirkan di bumi’. Logika itu yang membuat Zubair bin Muth’im beriman saat itu juga,” jelasnya.
Pernyataan Gus Baha menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang menolak logika atau pemikiran ilmiah. Justru, Islam mendorong umatnya untuk berpikir dan mencari kebenaran melalui akal. Hal ini sejalan dengan banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk tafakkur (merenung) dan ta’akkul (menggunakan akal), seperti dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 dan QS. Yunus ayat 101.
Rasionalitas yang dimaksud Gus Baha bukan berarti menafsirkan agama secara bebas tanpa batas, tetapi menggunakan akal untuk memahami maksud wahyu secara bijak. Nabi Muhammad SAW pun mencontohkan sisi kemanusiaannya — makan, tidur, dan berinteraksi secara normal — untuk menegaskan bahwa beliau bukan Tuhan. Artinya, dalam Islam, akal memiliki peran penting untuk mengenali batas antara ketuhanan dan kemanusiaan.
Dalam konteks modern, pandangan ini sangat relevan. Banyak umat Islam, khususnya generasi muda, menghadapi tantangan antara keyakinan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan menekankan pentingnya aspek rasional, Islam justru bisa berdialog dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan nilai spiritualnya. Pemikiran seperti yang disampaikan Gus Baha menjadi pengingat bahwa Islam bukanlah agama yang anti-ilmu atau anti-rasionalitas, tetapi justru mendorong keseimbangan antara iman dan nalar.
Dari pandangan Gus Baha tersebut, dapat disimpulkan bahwa kekuatan Islam bukan hanya pada ibadah atau tradisi, tetapi juga pada cara berpikir rasional yang membimbing umatnya menuju kebenaran. Rasionalitas bukan ancaman bagi keimanan, melainkan jembatan antara ilmu dan keyakinan. Dengan memahami agama secara rasional, umat Islam dapat menjadi lebih terbuka, moderat, dan bijak dalam menghadapi perubahan zaman.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































