Di bawah mentari Jakarta Timur yang terik pada Minggu, 4 Januari 2026 pukul 13.30 WIB, secercah harapan baru menyapa kontrakan sederhana di Jl. Kampung Sumur Selatan RT 6 RW 10, Klender, Kecamatan Duren Sawit. Ibu Sarmini, pedagang perabotan keliling berusia 50 tahun dengan pendidikan terakhir SD, menatap tak percaya tumpukan sapu, pel, sikat, sembako lengkap, hingga peralatan dapur mengilap senilai Rp 2,4 juta yang dibawa oleh mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Mahasiswi yang beranggotakan Saira Irawati, Qoirun Nisak, dan Siti Rahmia Nasywa, menyerahkan buah dakwah lapangan mereka yang telah dirintis sejak November 2025. Bukan sekadar bantuan, ini adalah kisah transformasi nyata: dari pendapatan harian Rp 20.000-35.000 dan kontrakan Rp 125.000 per bulan, menuju kemandirian ekonomi yang kokoh, lahir dari semangat Al-Maun yang hidup kembali di hati mahasiswa Muhammadiyah.
Bayangkan perjalanan epik mereka yang dimulai di pinggir Jalan Dermaga, Klender, pada Rabu, 24 Desember 2025 pukul 16.00 WIB. Di sana, di tengah hiruk-pikuk lalu lintas, ketiga mahasiswa mendekati Ibu Sarmini yang baru pulang berkeliling menjajakan dagangannya. Dengan hati penuh empati, mereka wawancara mendalam, menggali cerita pilu kehidupan sehari-hari: bagaimana ia berjuang memenuhi kebutuhan dasar sambil menanggung beban ngontrak di tengah Jakarta yang kejam. Kisah itu menjadi api penyemangat. Kembali ke kampus Fakultas Farmasi dan Sains UHAMKA, mereka susun proposal rapi pada 29 Desember 2025, lalu berlayar ke lautan fundraising dari 11 November 2025 hingga 1 Januari 2026. Dengan semangat gotong royong, dana terkumpul setelah biaya admin dipotong. Di toko-toko offline Jakarta, dari 30 Desember 2025 hingga 4 Januari, mereka belanja teliti: stok usaha untuk dagangan perabotan pembersih, sembako lengkap, hingga dana tambahan untuk kebutuhan lain seperti tunai, transportasi, dan media digital. Akhirnya, di hari puncak itu, pintu kontrakan terbuka lebar, menyambut transformasi yang tak terlupakan

Mengapa kisah ini begitu istimewa? Karena lahir dari darah Muhammadiyah yang mengalir deras, mengenang KH. Ahmad Dahlan yang meminjam ratusan gulden untuk wakaf, lalu menumbuhkannya menjadi ratusan perguruan tinggi dan ribuan sekolah dari infak kecil. Kemiskinan struktural Indonesia—masalah abadi sejak pra-kemerdekaan—menjadi panggilan suci. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Maun 1-3 yang mengutuk mereka yang menghardik anak yatim dan tak memberi makan orang miskin, serta QS. Al-Hadid 7 yang menjanjikan pahala besar bagi yang menafkahkan harta, mahasiswa ini menjawab dengan aksi. Mereka tak ingin Ibu Sarmini sekadar menerima belas kasihan; tujuan mulianya jelas—memberdayakan agar mandiri, tingkatkan pendapatan, tumbuhkan empati masyarakat, dan pupuk keadilan sosial. Prosesnya seperti simfoni dakwah: survei membuka mata, proposal jadi peta, fundraising uji kesabaran, pembelian jadi keringat nyata, dan penyaluran puncaknya adalah pelukan kebersamaan. Hasilnya? Stok usaha membuat dagangannya kini lebih kompetitif, sembako penuhi perut 1-2 bulan, peralatan ringankan beban rumah tangga. Rekap sempurna dengan sisa minim bukti akuntabilitas Muhammadiyah yang transparan

Di balik senyum Ibu Sarmini yang kini berseri, ada pelajaran abadi bagi generasi muda. Kegiatan ini bukan akhir, melainkan benih yang ditanam untuk panen berkelanjutan. Evaluasi dan pengawasan tentatif di lokasi yang sama akan memastikan kemandiriannya tumbuh, seperti pohon infak KH. Dahlan. Bagi mahasiswa Farmasi UHAMKA, ini pengalaman dakwah langsung yang mengubah teori kuliah menjadi aksi jalanan. Ukhuwah Islamiyah menguat, empati masyarakat mekar, dan lingkungan Klender tersentuh. Kritik membangun disambut, agar program ini berkembang lebih luas—bukan hanya satu keluarga, tapi gelombang perubahan sosial yang menyapu Jakarta Timur. Seperti kata laporan akhir mereka, semoga kegiatan serupa digelar berkala, menjadi teladan bagi civitas akademika Muhammadiyah dan umat secara keseluruhan. Di era digital 2026 ini, dakwah mahasiswa bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang menggetarkan hati, membuktikan bahwa tangan kecil bisa angkat beban besar jika diikat tali ukhuwah dan ikhlas karena Allah.
Dari dermaga Klender hingga kontrakan Sumur Selatan, perjalanan mereka adalah narasi hidup tentang transformasi. Ibu Sarmini kini melangkah lebih tegar, dagangannya tak lagi sepi, dapur mengepul harum. Mahasiswa pulang dengan hati penuh berkah, dosen bangga, dan semangat berbagi terus menyala. Ini bukan berita biasa, ini cerita Muhammadiyah yang terus ditulis oleh generasi muda—satu keluarga dhuafa pada satu waktu, menuju Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer












































































