Cianjur, 28 Maret 2026 — Tradisi halalbihalal keluarga besar almarhum Bapak Marma Sasmita kembali digelar dengan penuh kehangatan pada Sabtu (28/3/2026). Kegiatan tahunan ini tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi sekaligus edukasi lintas generasi bagi seluruh anggota keluarga.
Almarhum Bapak Marma Sasmita diketahui memiliki 13 orang anak, terdiri dari delapan laki-laki dan lima perempuan, yakni Unayah, Ojam, K. Nuryana, Rahmat Hidayat, Sri Mulyati, Lilis Yustikawati, Usep Supianda, Dasep Mulyana, Edi Hidayat, Agus Mustopa, Dede Mulyana, Acep Mulyadi, dan Ela Gartika. Seluruhnya kini telah berkeluarga, bahkan sebagian telah memiliki cucu, sehingga jumlah keluarga besar telah mencapai lebih dari 100 orang yang tersebar di berbagai daerah dengan beragam profesi.
Tradisi halal bihalal ini telah berlangsung sejak Bapak Marma Sasmita masih hidup. Pada masa itu, kegiatan diisi dengan pembelajaran berbicara di depan umum bagi anak-anak, mulai dari penyampaian pidato hingga ungkapan perasaan. Nilai tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk keberanian dan karakter generasi penerus.
Semasa hidupnya, Bapak Marma Sasmita dikenal sebagai sosok ayah yang tegas, berwibawa, dan pekerja keras. Ia menanamkan nilai kesederhanaan, melarang kesombongan, serta menekankan pentingnya pendidikan. Bahkan, dalam keterbatasan ekonomi, ia rela menjual hasil bumi hingga aset demi pendidikan anak-anaknya. Pesan yang terus dikenang adalah, “Mama tidak akan mewariskan harta, tetapi ilmu.”
Pelaksanaan Bergilir, Tetap Hangat dan Penuh Makna
Pasca wafatnya Bapak Marma Sasmita, tradisi ini tetap dilaksanakan secara rutin setiap tahun, umumnya pada H+5 Idulfitri. Lokasi kegiatan dilakukan secara bergiliran sesuai kesepakatan keluarga.
Tahun ini, kegiatan dilaksanakan di Kampung Cikondang, Desa Pamoyanan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, bertempat di kediaman Lilis Yustikawati bersama suaminya Sumarna. Sekitar 50 anggota keluarga hadir, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat meskipun tidak seluruh anggota dapat berkumpul.
Peran Aktif Generasi Cucu
Seluruh rangkaian acara dipandu oleh generasi cucu. Bertindak sebagai pembawa acara adalah Rizal Nurharkat. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Deden.
Sambutan tuan rumah disampaikan oleh Sumarna, kemudian dilanjutkan dengan amanat keluarga oleh K. Nuryana sebagai sesepuh sekaligus anak laki-laki tertua. Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi serta memastikan tradisi halalbihalal tetap berlangsung di masa mendatang.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Asep Rahmawan, anak dari Unayah, yang mewakili empat keluarga yang tidak dapat hadir. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin serta berbagi kabar bahwa dirinya baru saja mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah SDN Cimaskara, Kecamatan Cibinong.
Momen reflektif hadir melalui sambutan lintas generasi yang disampaikan oleh Arsala Generaldi (Agan), putra dari Sri Mulyati. Ia mengajukan pertanyaan yang menggugah kepada seluruh hadirin mengenai keberlanjutan tradisi ini di masa depan. Suasana pun menjadi haru, diiringi linangan air mata sebagai bentuk harapan agar tradisi tetap terjaga.
Penguatan Nilai Spiritual dan Kepedulian
Acara dilanjutkan dengan tausiah oleh Dede Mulyana yang menekankan pentingnya rasa syukur, empati, serta kebahagiaan dalam keluarga. Nilai-nilai tersebut menjadi penguat hubungan antaranggota keluarga di tengah dinamika kehidupan masing-masing.
Pada sesi hiburan, Agus Mustopa menghadirkan suasana berbeda dengan mengajak anak-anak berkumpul. Ia kemudian menginisiasi kegiatan berbagi kepada anak-anak yang hadir, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Momen ini menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus bentuk kebahagiaan yang dibagikan bersama.
Keluarga menegaskan bahwa kegiatan berbagi tersebut bukanlah ajang pamer, melainkan bagian dari tradisi kebersamaan yang tumbuh secara alami dalam momentum Idul fitri.
Perpisahan Penuh Haru
Acara ditutup dengan musafahah, saling memaafkan, serta sesi foto bersama di depan spanduk halalbihalal yang didesain oleh Febry Try Casstap. Namun, momen paling mengharukan terjadi saat perpisahan.
Satu per satu anggota keluarga berpamitan untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing. Suasana yang semula meriah perlahan berubah menjadi haru. Tangis kebahagiaan dan kerinduan menyatu dalam momen tersebut.
Perjalanan pulang sebagian keluarga, termasuk penulis, menempuh rute Cianjur Selatan menuju Bandung melalui jalur Ciwidey. Perjalanan tersebut diwarnai pemandangan alam yang indah, hamparan kebun teh, serta medan jalan yang menantang namun dapat dilalui dengan aman.
Tradisi halal bihalal keluarga besar Bapak Marma Sasmita tidak hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga warisan nilai kehidupan yang terus dijaga—mengikat generasi demi generasi dalam satu ikatan silaturahmi yang kuat dan abadi.
Penulis: Dasep Mulyana
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































