Dalam kurun waktu terakhir, perhatian masyarakat tertuju pada kebijakan publik di bidang kesejahteraan masyarakat. Di tengah pemberlakuan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengelolaan anggaran menjadi sorotan publik. Sebagian anggaran justru dialokasikan di luar prioritas utama sehingga memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas anggaran. Kondisi ini mendorong perlunya pengkajian ulang terhadap pengalokasian anggaran dalam program ini khususnya terkait skala prioritasnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan gizi buruk dan stunting di Indonesia, khususnya bagi kelompok rentan. Program ini dilaksanakan dalam skala besar dengan pembiayaan bersumber dari APBN. Pelaksanaan program tersebut tentu membutuhkan anggaran yang besar. Dengan demikian, ketepatan perencanaan anggaran menjadi hal yang sangat krusial agar tujuan program dapat tercapai secara optimal.
Di tengah realisasi program tersebut, terdapat alokasi anggaran untuk pengadaan barang penunjang seperti sepeda motor listrik yang bernilai triliunan. Selain itu, anggaran untuk perlengkapan berupa kaos kaki juga mencapai nilai miliaran. Berdasarkan data yang beredar, anggaran pengadaan motor listrik mencapai Rp1,2 triliun untuk pembelian puluhan ribu unit guna mendukung kegiatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sementara Rp6,9 miliar untuk kaos kaki. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai skala prioritas anggaran dalam program tersebut akibat dari besarnya alokasi pada kebutuhan non-pangan.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penentuan skala prioritas anggaran dinilai belum optimal. Besarnya pengeluaran ke hal yang tidak berkaitan langsung dengan pangan menunjukkan bahwa tujuan utama yaitu pemenuhan gizi belum sepenuhnya menjadi fokus program. Padahal, sudah seharusnya anggaran lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pangan demi memujudkan tujuan awal program tersebut. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam penetapan prioritas anggaran.
Pola alokasi anggaran ini, berpotensi mengganggu secara keseluruhan efektivitas program tersebut. Hal ini karena alokasi dana yang tidak difokuskan secara langsung dengan pemenuhan gizi akan sulit untuk mencapai tujuan utama program yaitu mengatasi gizi buruk dan stunting di Indonesia. Tidak hanya itu, ketika anggaran dialokasikan pada kebutuhan non-pangan berpotensi mengurangi ketepatan alokasi anggaran, karena manfaatnya tidak secara langsung menyentuh kebutuhan gizi masyarakat. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka pencapaian tujuan program dapat terhambat.
Di lain sisi, kebutuhan penunjang yang menyerap anggaran besar memunculkan berbagai tanggapan dari publik mengenai urgensi pemanfaatannya dalam program berfokus pada pemenuhan gizi. Pada program tersebut, seharusnya setiap pos pengeluaran idealnya berkaitan langsung dengan peningkatan mutu pangan yang diperoleh masyarakat. Jika sebagian anggaran terserap pada aspek yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan makanan, akibatnya kemampuan fiskal untuk menunjang kualitas gizi akan lebih terbatas. Bergesernya fokus utama program akan terjadi apabila fenomena ketidakseimbangan dalam struktur pengeluaran terus dibiarkan. Program yang semula berfokus pada pemenuhan gizi berpotensi bergeser menjadi lebih menitikberatkan pada aspek administratif dan operasional. Hal ini menunjukkan pentingnya konsistensi antara tujuan program dan realisasi anggaran, agar pelaksanaan MBG tetap berada pada arah yang sesuai dengan sasaran utamanya.
Program MBG pada dasarnya memiliki tujuan baik untuk meningkatkan gizi masyarakat, serta tidak dapat dihindari akan kebutuhan operasional dalam pelaksanannya. Namun, penggunaan anggaran harus tetap memprioritaskan pada kebutuhan pangan sebagai inti program. Oleh sebab itu, diperlukan keseimbangan antara kebutuhan operasional dan tujuan utama agar program dapat berjalan secara efektif. Tanpa keseimbangan tersebut, program berisiko kehilangan fokus utama yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, program MBG memerlukan tindakan konkret dalam manajemen anggaran. Untuk memastikan kesesuaian dengan sasaran program yaitu pemenuhan kebutuhan pangan, perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap proses pengalokasian dana. Selain itu, transparansi dan pengawasan juga tidak kalah penting agar seluruh penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan secara jelas. Agar tidak melenceng dari tujuan awal, akuntabilitas penggunaan anggaran program MBG perlu diarahkan secara tepat sasaran. Penting untuk menentukan prioritas anggaran sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat nyata dari program ini. Hal tersebut diharapkan mampu membuat program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga memberikan dampak yang sesuai dengan tujuan utama yang ingin dicapai.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































