Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang masih beranggapan bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang berlebihan atau bahkan memalukan untuk dibahas. Akibatnya, tidak sedikit orang lebih memilih untuk diam dan memendam semuanya karena kekhawatiran akan dianggap lemah, terlalu sensitif, atau sekadar mencari perhatian. Analoginya, saat seseorang sedang sakit secara fisik, mereka akan mencari perawatan medis. Lantas mengapa ketika mental sedang tidak baik-baik saja, banyak orang justru harus menyembunyikan itu semua?
Lingkungan sosial di sekitar juga kerap kali menjadi alasan seseorang sulit terbuka mengenai kondisi mentalnya. Ungkapan-ungkapan meremehkan seperti, “Jangan lebay”, “Kamu kurang sholat dan bersyukur aja”, “Hidup orang lain lebih susah daripada kamu” masih sering terdengar. Meskipun terdengar sepele bagi beberapa orang, akan tetapi ucapan seperti itu bisa membuat seseorang merasa bahwa perasaan yang ia rasakan tidak valid. Akibatnya, banyak orang lebih memilih untuk memendam stres, cemas, dan kelelahan emosional sendirian karena kehawatiran akan penilaian negatif dari orang lain. Pada akhirnya, banyak orang yang terbiasa berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja, walaupun sebenarnya mereka sedang kesulitan menghadapi pikirannya sendiri.
Tak hanya itu, tekanan juga datang dari berbagai arah, mulai dari tuntutan akademik, ekspektasi keluarga, lingkungan pertemanan, sampai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Banyak orang merasa harus selalu terlihat kuat, produktif, dan bahagia agar dianggap baik-baik saja oleh lingkungan sekitarnya. Tanpa disadari, tuntutan seperti itu dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional. Namun sayangnya, ketika kondisi mental mulai terganggu, masih banyak orang yang memilih diam karena takut dicap berlebihan. Rasa takut terhadap penilaian orang lain inilah yang sering membuat seseorang ragu untuk mencari bantuan, padahal dukungan dan pertolongan yang tepat sangat penting untuk membantu kondisi mental menjadi lebih baik.
Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Pakerti & Ariana (2018) yang menjelaskan bahwa stigma terhadap kesehatan mental membuat banyak remaja enggan mencari bantuan profesional meskipun mereka sebenarnya membutuhkan bantuan tersebut. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan mental dan tingginya stigma diri berhubungan dengan rendahnya keinginan seseorang untuk mencari pertolongan professional. Padahal, pergi ke psikolog atau bercerita kepada orang yang dipercaya bukan berarti lemah. Justru hal tersebut bisa menjadi suatu langkah untuk lebih mengenal diri sendiri. Tidak semua luka bisa terlihat secara langsung dan tidak semua orang mampu menghadapi masalahnya sendirian.
Sudah saatnya bagi masyarakat untuk lebih peduli dan menghentikan anggapan bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang tabu. Mendengarkan tanpa menghakimi atau sekadar bertanya, “Apa kamu gapapa?” dapat memiliki dampak besar bagi seseorang yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Sayangnya, masih banyak yang meremehkan kondisi mental karena tidak terlihat secara fisik. Namun, kesehatan mental sangat berpengaruh pada cara seseorang berpikir, menjalani aktivitas sehari-hari, dan menghadapi tekanan hidup. Dengan terciptanya lingkungan yang lebih mendukung, orang yang sedang menghadapi kesulitan akan merasa lebih nyaman untuk berbagi cerita dan mencari bantuan tanpa rasa takut dihakimi. Karena pada akhirnya, kesehatan itu bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat merasa tenang dan baik dengan dirinya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































