BANDAR LAMPUNG – Setiap hari kita selalu menyaksikan ironi yang sama di berbagai sudut kota. Seperti seorang pengendara mobil yang membuang botol plastik bekas air mineral ke jalanan, seorang mahasiswa yang baru saja memberi edukasi tentang menjaga lingkungan meninggalkan sampah kertasnya begitu saja di bangku taman.
Secara kognitif, Masyarakat tidak mengalami kurangnya informasi tentang dampak atas sampah yang mereka buang begitu saja. Semua orang pasti tahu sampah itu buruk. Namun, mengapa lembaran brosur, spanduk ancaman pidana, hingga kampanye yang selalu diadakan setiap tahunnya seolah hanya angin lewat saja? Tentu jawabannya karena kenyamanan Masyarakat yang melebihi kesadaran. Ada satu titik di mana edukasi verbal tidak lagi mempan karena kita mengabaikan satu hal krusial, yaitu cara kerja psikologi manusia dalam merespons lingkungan fisiknya.
Untuk memahami alasan mengapa orang sulit untuk menghilangkan kebiasaan menyampah, kita harus membedakan dua sistem berpikir manusia yang dipopulerkan oleh psikolog Daniel Kahneman: System 1 (Kenyamanan/Otomatis): Sistem ini digerakkan oleh insting bertahan hidup yang paling purba: mencari jalan pintas, menghemat energi, dan menghindari kerepotan. System 2 (Kesadaran/Rasional): Sistem ini bekerja saat kita membaca brosur lingkungan, berpikir tentang banjir, atau merasa bersalah melihat penyu memakan plastik. Sistem ini butuh energi mental yang besar.
Ketika seseorang memegang bungkus makanan kosong di ruang publik, terjadilah “perang dingin” antara kedua sistem ini. Jika untuk membuang sampah secara benar seseorang harus berjalan 100 meter di bawah terik matahari, memilah jenis plastiknya, atau mengantongi sampah itu selama berjam-jam, maka System 2 yang rasional akan kelelahan. Otak secara otomatis beralih ke System 1: cari jalan paling nyaman, jatuhkan sampah saat tidak ada yang melihat. Kesadaran lingkungan runtuh seketika saat dihadapkan pada ketidaknyamanan fisik yang sepele.
Dalam psikologi lingkungan, kita mengenal istilah affordance— Sederhananya: setiap benda atau tempat punya “sinyal” yang ngasih tahu kita harus ngapain di sana. Lewat sudut jalan gelap, kotor, penuh sampah? Tanpa sadar otak kita mikir, “Oh, kayaknya buang sampah di sini juga nggak apa-apa.”Jadi bukan cuma soal niat baik atau buruk. Kadang lingkungan sekitar yang “ngundang” kita buat bertindak begitu, tanpa kita sadari.
Masalahnya, edukasi sering terjebak di sini. Kita bersusah payah memberikan edukasi, menempel poster di setiap sudut, tapi di sisi lain lingkungan kita tetap berantakan. Berdasarkan Broken Windows Theory, jika sebuah ruang publik dibiarkan memiliki satu titik kotor tanpa penanganan cepat, lingkungan tersebut sedang mengirimkan sinyal sosial yang kuat: “Di sini, abai adalah hal yang normal.”
Manusia cenderung menyesuaikan diri dengan norma sosial yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Ketika kenyamanan pribadi diperkuat oleh kondisi lingkungan yang juga kotor, rasa bersalah pun perlahan memudar. Pada titik ini, rasionalisasi bergeser menjadi pembenaran kolektif: “Toh, semua orang juga melakukannya.”
Oleh karena itu, solusinya bukanlah memperbesar volume ajakan ekologis yang terus kita sampaikan, melainkan membongkar struktur kenyamanan itu sendiri. Kita perlu bergeser dari strategi edukasi menuju strategi arsitektur perilaku melalui intervensi Nudge, yakni sentuhan halus yang mengarahkan pilihan tanpa memaksa. Prinsip dasarnya sederhana: jadikan tindakan menjaga kebersihan sebagai pilihan yang paling mudah, paling nyaman, dan paling minim usaha bagi masyarakat.Intervensi Jarak dan Visibilitas: Tempat sampah tidak boleh disembunyikan di pojok estetis yang sulit dijangkau. Mereka harus berada di jalur alami pejalan kaki.
Edukasi hanya menunjukkan ke mana arah yang seharusnya kita ikuti, sementara arsitektur lingkunganlah yang benar-benar menyediakan jalannya. Jika kita ingin memperbaiki perilaku “nyampah”, kita harus menghentikan pertaruhan antara kesadaran moral dan kenyamanan pribadi. Buang sampah pada tempatnya harus dibuat menjadi pilihan yang paling mudah, paling intuitif, dan paling nyaman dilakukan di ruang publik. Selama merawat bumi masih terasa merepotkan, kesadaran akan terus kalah.
Oleh: Siti Anita Rahmadani- UIN Raden Intan Lampung
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































