Setiap kali notifikasi muncul soal Ruben dan Sarwendah, jari-jari langsung bergerak sendiri. Klik. Scroll. Baca. Komen. Lalu share ke grup WhatsApp dengan caption “aduh drama banget.” Dan besoknya, kita melakukan hal yang sama lagi.
Tanpa sadar, kita sedang duduk di kursi penonton menyaksikan kehancuran sebuah keluarga seperti menonton episode sinetron favorit.
Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah bermula dari perselisihan soal nafkah dan pengasuhan anak pasca perceraian mereka di 2024 persoalan yang sejatinya sangat pribadi dan menyakitkan. Tapi karena keduanya adalah figur publik, semua itu tersaji terbuka di hadapan jutaan pasang mata. Pengacara bicara ke media. Potongan video live tersebar. Netizen menghakimi. Dan algoritma merayakannya.
Yang tidak pernah kita tanyakan adalah: siapa yang paling dirugikan dari semua keramaian ini?
Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menyoroti damak psikologis yang mungkin timbul pada anak-anak ketika sosok ayah terus menjadi bahan sindiran di lingkungan sekitar mereka. Anak-anak yang masih tumbuh. Yang suatu hari akan cukup besar untuk mencari nama orang tuanya di Google dan menemukan semua ini.
Tapi kita tetap scroll. Tetap komentar. Tetap share.
Ada yang salah dari cara kita mengonsumsi berita perceraian selebriti. Kita memperlakukan penderitaan nyata orang lain sebagai konten sesuatu yang bisa dikonsumsi, dikomentari, lalu dilupakan saat ada drama baru. Kita lupa bahwa di balik nama-nama yang viral itu, ada manusia sungguhan yang sedang menanggung salah satu momen paling berat dalam hidupnya.
Sarwendah sendiri mengakui bahwa masalah ini seharusnya bisa diselesaikan secara tertutup dan tidak mencuri perhatian pihak lain. Tapi di era media sosial, “tertutup” hampir tidak mungkin terutama ketika publik sudah terlanjur lapar akan kelanjutan ceritanya.
Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan “siapa yang salah antara Ruben dan Sarwendah” tapi kenapa kita begitu mudah menjadikan luka orang lain sebagai hiburan.
Menonton drama perceraian selebriti sambil berkomentar soal siapa yang lebih bersalah bukan bentuk kepedulian. Itu konsumsi. Dan selama kita terus mengkliknya, platform akan terus menyajikannya karena kita yang memintanya.
Penulis : Lia Anggi Noverida Hutabarat
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Medan Area
Artikel ini merupakan opini pribadi penulis.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































