Dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah, persoalan kehilangan orang tua tergambar melalui pengalaman tokoh “aku” yang harus kehilangan ibunya sejak usia dini. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman traumatis yang membekas dalam kehidupannya karena ibu merupakan sosok yang tidak hanya memberikan kasih sayang, tetapi juga berperan sebagai pelindung, pendidik, dan tempat bergantung bagi seorang anak.
Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut:
“Aku berumur kira-kira 4 tahun, tatkala aku ditimpa malapetaka. Ibu yang kucintai, ibu yang wajib menjaga dan mendidik diriku, terpaksa menutupkan mata.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh “aku” mengalami kehilangan yang sangat besar pada masa kanak-kanak. Pada usia yang masih sangat muda, seorang anak umumnya masih membutuhkan perhatian, bimbingan, serta kasih sayang dari orang tua untuk menunjang proses tumbuh kembangnya. Kehilangan ibu tidak hanya menimbulkan kesedihan emosional, tetapi juga menyebabkan hilangnya figur yang berperan penting dalam pembentukan karakter, pendidikan, dan rasa aman dalam kehidupan anak. Oleh karena itu, kehilangan orang tua pada usia dini dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kondisi psikologis dan sosial seorang anak.
Meskipun demikian, tokoh “aku” tidak digambarkan menyerah pada keadaan. Ia tetap berusaha menjalani kehidupannya dan menghadapi berbagai tantangan yang muncul setelah kepergian sang ibu. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehilangan orang tua dapat menjadi ujian hidup yang berat, tetapi juga dapat membentuk ketangguhan serta kemampuan seseorang untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan.
Persoalan yang diangkat dalam novel ini masih relevan dengan realitas kehidupan masa kini. Salah satu contohnya terlihat pada kisah Atan, seorang anak asal Sulawesi Selatan yang menjadi perhatian publik setelah kehilangan ibunya saat merantau di Ternate. Setelah sang ibu meninggal dunia, Atan harus menjalani kehidupan seorang diri tanpa kehadiran keluarga dekat yang dapat mendampinginya. Kondisi tersebut semakin sulit karena keberadaan ayahnya tidak diketahui, sehingga ia kehilangan dua figur utama yang seharusnya memberikan perlindungan dan dukungan dalam hidupnya.
Kasus Atan menunjukkan bahwa kehilangan orang tua tidak hanya berdampak pada aspek emosional berupa kesedihan dan rasa kehilangan, tetapi juga berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup anak. Anak yang kehilangan orang tua sering kali menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan ekonomi, kurangnya pendampingan dalam pendidikan, hingga minimnya dukungan sosial. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan mental dan masa depan anak apabila tidak diimbangi dengan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Pengalaman Atan memiliki kesamaan dengan tokoh “aku” dalam Kehilangan Mestika. Keduanya harus menghadapi kehidupan setelah kehilangan sosok ibu yang menjadi sumber kasih sayang dan perlindungan. Meskipun berada dalam konteks yang berbeda, kedua kisah tersebut memperlihatkan bahwa kehilangan orang tua merupakan peristiwa yang dapat mengubah arah kehidupan seorang anak. Namun, di balik kesulitan yang dihadapi, keduanya juga menunjukkan pentingnya ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Dengan demikian, novel Kehilangan Mestika tidak hanya menyajikan kisah pribadi tokohnya, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai pentingnya peran orang tua dalam kehidupan anak. Novel ini mengingatkan pembaca bahwa kehadiran orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional, sosial, dan pendidikan anak. Selain itu, karya ini juga menegaskan perlunya dukungan dari keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar bagi anak-anak yang mengalami kehilangan orang tua agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































