Pagi di Desa Ulee Rubek Timu berjalan seperti biasa. Aktivitas warga dimulai dari hal-hal sederhana, menyapu halaman, menyiapkan sarapan, hingga berbincang ringan di beranda. Namun, di balik rutinitas itu, ada satu prosesi yang kerap hadir diam-diam, menyertai momen penting dalam kehidupan masyarakat.
Bagi warga Desa ini, peusijuk bukan sekadar tradisi. Ia adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam berbagai momen baru, baik yang bersifat pribadi maupun sosial. Setiap kali seseorang memulai sesuatu yang baru seperti membangun rumah, membeli kendaraan, hingga melepas perahu ke laut. Peusijuk hampir selalu hadir sebagai langkah awal yang penuh harapan.
“Biasanya dilakukan saat orang membeli sesuatu yang baru, seperti rumah, mobil, atau ketika perahu mau ke laut,” ujar muzzakir (50), seorang guru yang juga berperan sebagai Tuha Peut di Desa Ulee Rubek Timu.

Bagi masyarakat Aceh, memulai sesuatu tidak hanya soal kesiapan materi. Ada keyakinan bahwa setiap langkah baru perlu diawali dengan doa agar membawa keselamatan, keberkahan, dan kebaikan. Karena itulah, peusijuk tetap dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Prosesi peusijuk berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Tuan rumah biasanya mengundang Teungku atau tokoh agama untuk memimpin doa, Sebelum prosesi dimulai, keluarga menyiapkan berbagai perlengkapan, seperti bulukat (hidangan khas berbahan dasar ketan) serta daun peusijuk yang terdiri atas tujuh jenis. Semua perlengkapan itu disiapkan dengan penuh perhatian, karena masing-masing memiliki nilai simbolis tersendiri.
Setelah semuanya siap, prosesi dimulai dengan pembacaan doa. Dalam suasana khidmat, Teungku memercikkan air yang telah diramu dengan bahan-bahan tertentu sambil melantunkan doa-doa. Momen ini menjadi inti dari peusijuk: sebuah permohonan kepada Tuhan agar apa yang sedang dimulai senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
“Maknanya untuk mengambil berkat atau meminta doa,” jelas Muzzakkir.
Tidak ada kemewahan yang ditonjolkan dalam tradisi ini. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatannya. Peusijuk mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu hadir dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam niat baik dan doa yang tulus. Setiap percikan air, setiap untaian doa, menjadi simbol harapan bagi masa depan yang lebih baik.
Tradisi ini juga menunjukkan eratnya hubungan antara agama, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh. Peusijuk bukan hanya ritual adat, melainkan juga sarana untuk mempererat silaturahmi. Saat prosesi berlangsung, keluarga, tetangga, dan kerabat biasanya turut hadir. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan moral sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, banyak tradisi lokal yang mulai ditinggalkan. Namun, peusijuk di Ulee Rubek Timu masih tetap bertahan. Tradisi ini terus dijalankan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menariknya, anak-anak muda di desa ini pun masih ikut ambil bagian dalam pelaksanaannya.
“Masih ikut serta, karena ini tradisi turun-temurun,” tambah Muzzakkir.
Keterlibatan generasi muda menjadi tanda bahwa peusijuk masih memiliki tempat di hati masyarakat. Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga belajar memahami makna di balik setiap prosesi. Dengan cara inilah, tradisi tetap hidup bukan sekadar dikenang, tetapi juga dijalankan.
Bagi masyarakat Ulee Rubek Timu, peusijuk adalah pengingat bahwa setiap awal sebaiknya dimulai dengan doa, rasa syukur, dan harapan. Tradisi ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara warisan leluhur dan kehidupan modern.
Di desa kecil ini, peusijuk mungkin tampak sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan nilai yang begitu besar. Ia mengajarkan tentang pentingnya memohon restu, menjaga kebersamaan, dan menghargai warisan budaya. Selama nilai-nilai itu terus dihidupkan, peusijuk akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.
Peusijuk memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya dilakukan sebagai simbol adat, tetapi juga sebagai bentuk ikhtiar batin. Masyarakat meyakini bahwa setiap langkah baru akan terasa lebih tenang jika diawali dengan doa dan harapan baik. Karena itu, peusijuk selalu hadir dalam berbagai peristiwa penting, baik yang bersifat pribadi maupun sosial.
Dalam pelaksanaannya, suasana peusijuk biasanya berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Kerabat, tetangga, serta tokoh masyarakat berkumpul untuk menyaksikan prosesi tersebut. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud dukungan dan doa bersama. Momen ini juga menjadi ajang mempererat hubungan antarwarga, karena tradisi tidak hanya dirawat melalui upacara, tetapi juga melalui kebersamaan.
Bulukat yang disiapkan dalam prosesi pun memiliki makna tersendiri. Ketan yang lengket melambangkan eratnya hubungan kekeluargaan, persatuan, serta harapan agar rezeki dan keberkahan selalu melekat dalam kehidupan. Sementara itu, tujuh jenis daun peusijuk menjadi simbol kesejukan, ketenteraman, dan keselamatan bagi orang yang menerima peusijuk.
Bagi generasi muda, keterlibatan dalam tradisi ini menjadi cara belajar memahami identitas budaya mereka. Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut membantu persiapan, mulai dari menata perlengkapan hingga mengikuti jalannya prosesi. Dari situlah nilai-nilai seperti rasa hormat, kebersamaan, dan penghargaan terhadap warisan leluhur ditanamkan secara alami.
Di tengah modernisasi, keberadaan peusijuk menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Justru, tradisi dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan modern, selama masyarakat masih memandangnya sebagai bagian penting dari jati diri. Peusijuk menjadi bukti bahwa nilai-nilai lama tetap relevan, terutama dalam mengajarkan pentingnya doa, rasa syukur, dan kebersamaan.
Di tengah kehidupan modern yang terus berkembang, keberadaan tradisi seperti peusijuk menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak boleh melupakan akar budayanya. Tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta keyakinan bahwa setiap langkah besar dalam hidup perlu diawali dengan doa. Bagi generasi muda, peusijuk bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga identitas budaya yang patut dijaga dan diteruskan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































