Nama dua warga Pontianak, Kalimantan Barat, Daris Cahyo Adi dan Salwa Maziah Annajah, diukir pada bodi satelit milik perusahaan antariksa Amerika Serikat, Astranis.
Ukiran nama tersebut menjadi bagian dari program yang memungkinkan masyarakat mengabadikan identitas mereka pada wahana antariksa yang akan diterbangkan ke orbit. Nama Daris dan Salwa tercantum bersama puluhan nama lain dari berbagai negara.
Astranis merupakan perusahaan teknologi satelit yang berbasis di San Francisco, California. Perusahaan itu mengembangkan satelit komunikasi untuk menyediakan layanan konektivitas di berbagai wilayah dunia.
Bagi Daris, momen tersebut memiliki makna tersendiri. Selama beberapa tahun terakhir, ia aktif mengembangkan berbagai proyek yang berkaitan dengan teknologi peroketan dan kedirgantaraan melalui Tim Mengangkasa Rocketry.
Nama Daris mulai dikenal setelah terlibat dalam pengembangan Roket Nusantara, sebuah proyek roket amatir yang digagas bersama rekan-rekannya. Proyek tersebut mendapat perhatian publik setelah berhasil melakukan penerbangan uji hingga mendekati ketinggian satu kilometer. Pencapaian itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan komunitas peroketan amatir di Indonesia.
Berangkat dari ketertarikan terhadap dunia antariksa, Daris dan timnya berupaya membuktikan bahwa pengembangan teknologi roket tidak hanya dapat dilakukan oleh lembaga besar atau institusi pemerintah. Melalui pendekatan berbasis komunitas, mereka mengembangkan sistem roket secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia serta pengetahuan yang dipelajari secara berkelanjutan.
Sementara itu, Salwa Maziah Annajah memiliki minat pada bidang sains dan teknologi. Ia pernah mengikuti sejumlah kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Meski tidak terlibat langsung dalam pengembangan satelit Astranis, keduanya menilai pengalaman tersebut memiliki makna tersendiri. Nama yang diukir pada bodi satelit akan ikut berada di luar angkasa selama masa operasional wahana tersebut.
Fenomena pengiriman nama ke luar angkasa bukan hal baru dalam industri antariksa. Sejumlah perusahaan dan lembaga antariksa sebelumnya juga pernah membuka program serupa sebagai bentuk partisipasi publik dalam misi ruang angkasa.
Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya akses terhadap informasi dan teknologi membuat ketertarikan generasi muda Indonesia terhadap bidang antariksa semakin berkembang. Berbagai komunitas, kompetisi, dan kegiatan edukasi bermunculan untuk memperkenalkan teknologi roket, satelit, serta eksplorasi ruang angkasa kepada masyarakat.
Daris mengatakan pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi antariksa kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurut dia, keterlibatan publik dalam berbagai program antariksa dapat menjadi sarana untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Meski hanya berupa ukiran nama pada bodi satelit, momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi dua anak muda asal Pontianak yang memiliki ketertarikan pada dunia sains dan eksplorasi antariksa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































