Menjadi sutradara sebuah pementasan teater bukan hanya soal mengatur adegan di atas panggung. Lebih dari itu, peran tersebut menuntut kemampuan memimpin, berkomunikasi, dan menyatukan banyak kepala dengan berbagai karakter dan pemikiran. Pengalaman inilah yang saya rasakan ketika dipercaya oleh rekan-rekan mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang untuk menjadi sutradara dalam pementasan teater pada Festival Drama Warisan Tahunan (DRAWATA).
Kepercayaan tersebut tentu bukan tanggung jawab yang ringan. Bersama tim yang terdiri atas aktir, kru, dan berbagai divisi pendukung, saya harus memastikan seluruh proses berjalan dengan baik hingga hari pertunjukan tiba. Beruntung, perjalanan ini mendapat arahan dan bimbingan langsung dari dosen yang memiliki pengalaman luas di bidang teater, yaitu Welcy Fine, S.S., M.Hum. Kehadiran beliau menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga dalam memahami bagaimana sebuah pertunjukan teater dibangun secara profesional.
Proses produksi dimulai dari pemilihan naskah yang tepat, dilanjutkan dengan sesi reading untuk memahami karakter dan alur cerita, hingga penyusunan blocking yang menentukan pergerakan para aktor di atas panggung. Namun, di balik tahapan teknis tersebut, ada pekerjaan yang jauh lebih menantang: membangun kerja sama antar anggota tim dan menciptakan suasana yang solid di tengah perbedaan pendapat yang sering muncul selama proses kreatif berlangsung.

Sebagai sutradara, saya belajar bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, melainkan oleh kekompakan seluruh tim. Dalam perjalanan latihan, berbagai persoalan teknis kerap muncul, mulai dari kendala jadwal, keterbatasan fasilitas, hingga perubahan-perubahan yang harus dilakukan secara mendadak. Tidak jarang pula terjadi konflik internal yang menguji kesabaran dan kemampuan komunikasi setiap anggota tim. Pada titik inilah saya menyadari bahwa tugas seorang sutradara bukan hanya memberikan instruksi, tetapi juga menjadi penengah, pendengar, sekaligus motivator bagi seluruh anggota produksi.
Pengalaman ini mengajarkan saya banyak hal yang tidak selalu ditemukan di dalam ruang kelas. Kesabaran, tanggung jawab, kemampuan menyelesaikan masalah, serta pentingnya membangun kepercayaan antaranggota tim menjadi pelajaran berharga yang saya peroleh selama proses tersebut. Setiap tantangan yang muncul justru memperkuat rasa kebersamaan dan memperlihatkan bahwa sebuah karya pertunjukan hanya dapat terwujud melalui kerja sama yang baik.
Pada akhirnya, pementasan teater di DRAWATA bukan hanya menjadi ajang menampilkan karya seni, tetapi juga ruang pembelajaran tentang kepemimpinan dan solidaritas. Bagi saya, keberhasilan sebuah pertunjukan bukan semata-mata diukur dari tepuk tangan penonton, melainkan dari proses panjang yang berhasil dilalui bersama. Dari ruang latihan hingga panggung pertunjukan, setiap langkah menjadi bukti bahwa kerja keras, kekompakan, dan semangat kebersamaan mampu mengubah berbagai tantangan menjadi sebuah karya yang membanggakan.
Oleh: Viswanathan Adianto Fazah
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 31 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)






































