Platform e-commerce di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan, dengan nilai transaksi nasional mencapai Rp453 triliun pada tahun 2023, naik 17% dari tahun sebelumnya. Dalam ekosistem digital ini, fenomena impulse buying atau pembelian impulsif menjadi salah satu perilaku konsumen yang paling strategis untuk dipahami oleh pelaku usaha. Impulse buying merupakan perilaku pembelian yang tidak direncanakan, terjadi secara spontan akibat dorongan emosional yang tiba-tiba dan kuat ketika konsumen terpapar pada stimulus tertentu (Wangi & Andarini, 2021). Diperkirakan perilaku ini menyumbang hingga 40% dari total transaksi online secara global.
Berbeda dari ritel konvensional, lingkungan e-commerce menyediakan jauh lebih banyak pemicu impulsif mulai dari notifikasi promosi real-time, tampilan rekomendasi produk otomatis, hingga mekanisme flash sale dengan hitungan mundur (Redine et al., 2023). Menariknya, sebagian besar pemicu ini merupakan hasil dari keputusan manajerial yang disengaja oleh pengelola platform. Artinya, perilaku impulse buying konsumen tidak sekadar muncul secara alamiah, melainkan juga dapat dirancang dan diperkuat melalui strategi manajemen yang tepat.
Penelitian ini bertujuan menganalisis dimensi-dimensi keputusan manajerial yang berpengaruh terhadap impulse buying pada e-commerce Indonesia dan mengukur besarnya pengaruh masing-masing dimensi tersebut, sehingga dapat memberikan rekomendasi strategis bagi manajemen platform e-commerce.
Impulse buying telah diteliti secara ekstensif dalam literatur perilaku konsumen. Redine et al. (2023) melalui tinjauan literatur sistematis atas 183 publikasi menemukan bahwa faktor lingkungan toko online—termasuk desain website, promosi penjualan, dan pengaruh sosial—merupakan anteseden terkuat impulse buying, mengalahkan faktor kepribadian individual. Temuan ini menegaskan peran sentral keputusan manajerial dalam membentuk perilaku impulsif konsumen.
Dari perspektif e-commerce Indonesia, Kusumasari (2022) menemukan bahwa variabel diskon berpengaruh signifikan terhadap impulse buying pengguna Shopee, sementara flash sale dan gratis ongkir secara parsial tidak selalu berpengaruh signifikan, namun secara simultan ketiganya tetap berpengaruh terhadap impulse buying. Wangi & Andarini (2021) memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa flash sale dan cashback berpengaruh positif signifikan terhadap impulse buying pengguna Shopee, khususnya ketika dikombinasikan dengan kemudahan transaksi.
Pada level yang lebih luas, Wang et al. (2022) dalam studi determinan impulse buying e-commerce dengan 425 responden menemukan bahwa faktor kognitif dan afektif dalam kecenderungan belanja impulsif—yang keduanya dapat diperkuat melalui desain lingkungan platform—menjadi prediktor terkuat. Yuniarti et al. (2021) melengkapi temuan ini dengan menunjukkan bahwa momen promosi besar yang diciptakan secara manajerial, seperti Harbolnas, menjadi katalis utama impulse buying di Indonesia karena mengkombinasikan urgensi waktu, diskon besar, dan emosi positif konsumen secara bersamaan.
Kerangka teoritis yang digunakan adalah Stimulus-Organism-Response (S-O-R) Theory, di mana stimulus berupa keputusan manajerial platform (desain, promosi, harga, personalisasi) memicu respons afektif konsumen yang berujung pada perilaku impulse buying. Berdasarkan tinjauan literatur, penelitian ini merumuskan empat hipotesis: (H1) strategi promosi digital, (H2) desain UI/UX, (H3) personalisasi konten, dan (H4) kebijakan flash sale masing-masing berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku impulse buying.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel dipilih melalui purposive sampling dengan kriteria: usia 18–45 tahun, pengguna aktif minimal satu platform e-commerce, dan telah bertransaksi minimal dua kali dalam tiga bulan terakhir. Dari 297 kuesioner yang disebar, 285 dinyatakan valid (tingkat kevalidan 95,9%). Instrumen diukur menggunakan skala Likert 5 poin dan telah melalui uji validitas serta reliabilitas dengan nilai Cronbach’s Alpha > 0,80 pada seluruh konstruk. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan perangkat lunak AMOS 24.
Profil responden didominasi perempuan (58,2%), kelompok usia 21–30 tahun (52,6%), dengan platform yang paling banyak digunakan adalah Shopee (71,2%) dan Tokopedia (63,5%). Hasil uji kesesuaian model menunjukkan indeks yang memadai: CFI = 0,946; TLI = 0,938; RMSEA = 0,068, sehingga model dapat diterima.
Seluruh hipotesis terdukung secara signifikan. Personalisasi konten (H3) menjadi faktor paling dominan (β = 0,42; p < 0,001), mengkonfirmasi temuan Wang et al. (2022) bahwa faktor afektif dan kognitif terkait relevansi produk merupakan prediktor terkuat impulse buying. Kebijakan flash sale (H4) menempati posisi kedua (β = 0,38; p < 0,001), sejalan dengan Yuniarti et al. (2021) dan Wangi & Andarini (2021) yang menemukan bahwa mekanisme urgensi waktu dan insentif harga efektif memicu pembelian impulsif di kalangan konsumen Indonesia.
Strategi promosi digital (H1) berpengaruh signifikan (β = 0,31; p < 0,001), mendukung temuan Kusumasari (2022) yang secara konsisten menemukan promosi penjualan sebagai pemicu impulse buying. Desain UI/UX (H2) berpengaruh paling kecil namun tetap signifikan (β = 0,27; p < 0,001), berperan lebih sebagai enabler daripada trigger langsung—konsisten dengan kesimpulan Redine et al. (2023) bahwa faktor lingkungan platform bekerja secara sinergis. Secara keseluruhan, model menjelaskan 61,4% varians perilaku impulse buying (R² = 0,614).
Keputusan manajerial pada platform e-commerce terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku impulse buying. Personalisasi konten merupakan faktor terkuat, diikuti kebijakan flash sale, strategi promosi digital, dan desain UI/UX. Temuan ini menegaskan bahwa impulse buying bukan semata fenomena psikologis individual, melainkan dapat direkayasa secara strategis melalui kebijakan manajemen platform yang tepat.
Implikasi manajerial utama: platform e-commerce perlu memprioritaskan investasi pada algoritma rekomendasi yang personal dan kontekstual, merancang mekanisme flash sale yang mengoptimalkan urgensi psikologis, serta mengintegrasikan promosi digital secara omnichannel. Penelitian lanjutan disarankan memperluas sampel ke luar Jawa dan menggunakan desain longitudinal untuk menangkap dinamika perilaku impulse buying dari waktu ke waktu.
Penulis : Shahnaz Zahira Virgi (Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang)
Dosen Pengampu : Nani, S.Sos., M.M
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































