Jakarta — Di saat anak-anak semakin akrab dengan layar ponsel dan permainan daring, permainan tradisional perlahan kehilangan ruangnya. Engklek, Congklak, Gobak Sodor, hingga Bentengan yang dahulu menjadi simbol keceriaan masa kecil kini lebih sering dikenang daripada dimainkan. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan nilai kebersamaan, komunikasi, dan budaya sebagai identitas masyarakat Indonesia.
1. Dari Permainan Sehari-hari Menjadi Pemandangan Langka
Permainan tradisional sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Sebelum kehadiran gawai dan internet mendominasi aktivitas sehari-hari, anak-anak menghabiskan waktu luang mereka di halaman rumah, lapangan, atau lingkungan sekitar untuk bermain bersama teman-teman sebaya. Engklek, Congklak, Gobak Sodor, Bentengan, dan Lompat Tali menjadi permainan yang akrab dimainkan hampir di berbagai daerah.
Lebih dari sekadar hiburan, permainan tradisional berfungsi sebagai sarana belajar yang menyenangkan. Anak-anak belajar berinteraksi, berkomunikasi, menghargai aturan, hingga menyelesaikan konflik secara langsung saat bermain. Namun, perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola bermain generasi muda. Kini, banyak anak lebih memilih menghabiskan waktu dengan ponsel pintar dan permainan daring yang dianggap lebih praktis dan menarik.
Perubahan tersebut tidak hanya mengubah cara anak bermain, tetapi juga memengaruhi pola interaksi sosial mereka. Aktivitas bermain yang dahulu dilakukan secara berkelompok di ruang terbuka kini semakin jarang ditemukan. Akibatnya, permainan tradisional perlahan berubah dari aktivitas sehari-hari menjadi pemandangan yang semakin langka.
2. Lapangan Banteng dan Ruang Nostalgia Permainan Tradisional
Di tengah kekhawatiran akan semakin berkurangnya permainan tradisional, berbagai ruang publik mulai menghadirkan kembali permainan rakyat sebagai bagian dari kegiatan budaya masyarakat. Salah satunya terlihat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, yang beberapa kali menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan permainan tradisional oleh @komunitasbermain.
Kehadiran permainan tradisional di ruang publik seperti Lapangan Banteng menghadirkan suasana yang berbeda. Anak-anak, remaja, hingga orang tua dapat berinteraksi dan bermain bersama tanpa dibatasi usia maupun latar belakang. Permainan seperti egrang, lompat tali, dan tarik tambang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media yang menghubungkan berbagai generasi.
Bagi orang dewasa, kegiatan tersebut membangkitkan nostalgia masa kecil yang dihabiskan di lingkungan tempat tinggal mereka bersama teman-teman. Sementara bagi generasi muda, permainan tradisional menjadi pengalaman baru yang memperkenalkan bentuk hiburan sederhana yang tidak bergantung pada teknologi digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa permainan tradisional sebenarnya masih memiliki daya tarik dan mampu menciptakan ruang interaksi sosial yang hangat di tengah kehidupan masyarakat modern.
3. Lebih dari Sekadar Permainan Tradisional
Permainan tradisional memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Setiap permainan mengandung nilai pendidikan yang dapat membantu perkembangan sosial, emosional, maupun kognitif.
Permainan engklek, misalnya, melatih keseimbangan tubuh, ketelitian, dan kemampuan mengambil keputusan. Congklak mengajarkan strategi, kesabaran, serta kemampuan berhitung. Gobak sodor menumbuhkan kerja sama tim, komunikasi, dan kemampuan menyusun strategi kelompok. Bentengan mengajarkan solidaritas, kepemimpinan, serta kemampuan mengambil keputusan dengan cepat dalam situasi tertentu.
Sementara itu, egrang melatih keberanian, fokus, dan ketekunan. Lompat tali mengembangkan koordinasi gerak, ketangkasan, serta kemampuan bekerja sama dengan pemain lain. Nilai-nilai tersebut menjadikan Permainan tradisional sebagai alat pembelajaran yang menghibur dan membangun karakter anak.
Dalam perspektif komunikasi pembangunan, permainan tradisional dapat dipahami sebagai media komunikasi sosial yang memperkuat hubungan antarmanusia. Melalui permainan, anak-anak belajar berinteraksi secara langsung, membangun rasa kebersamaan, juga memiliki kesadaran akan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
4. Pelestarian Dimulai dari Lingkungan Pendidikan
Upaya pelestarian permainan tradisional tidak dapat dilakukan hanya melalui kegiatan budaya sesekali. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar permainan tradisional tetap dikenal oleh generasi muda. Salah satu contoh dapat ditemukan di lingkungan pendidikan, seperti di Sekolah Kelompok Bermain Balita TK Al Azhar 1.
Melalui berbagai kegiatan bermain yang disesuaikan dengan usia anak, sekolah berupaya mengenalkan permainan tradisional sebagai bagian dari proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya lokal dan membantu perkembangan sosial, motorik serta komunikasi melalui aktivitas bersama
Pentingnya peran sekolah karena anak anak menghabiskan waktu sebagian besar di lingkungan pendidikan. Ketika permainan tradisional diperkenalkan sejak usia dini, peluang untuk mempertahankan keberadaannya di masa depan akan semakin besar. Selain sekolah, keluarga juga memiliki peran penting dalam mengenalkan permainan tradisional kepada anak melalui aktivitas bermain di rumah maupun lingkungan sekitar.
5. Menjaga Warisan Budaya di Era Digital
Kemajuan teknologi memang tidak dapat dihindari. Namun, teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi pelestarian budaya. Media digital dapat dimanfaatkan kembali untukmemperkenalkan kepada generasi muda permainan tradisional melalui video edukasi, konten kreatif di media sosial, kampanye budaya, hingga festival permainan rakyat yang melibatkan masyarakat luas.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, pengembangan keterampilan sosial, serta pelestarian nilai budaya. Sehingga permainan tradisional harus dijaga agar tidak hilang oleh arus globalisasi dan cepatnya perkembangan teknologi.
6. Dari Nostalgia Menuju Aksi Nyata
Permainan tradisional bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan warisan budaya yang masih relevan untuk kehidupan masa kini. Nilai kebersamaan, kerja sama, komunikasi, dan sportivitas yang terkandung di dalamnya tetap dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat modern.
Fenomena permainan tradisional di ruang publik seperti Lapangan Banteng dan upaya pelestarian di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa permainan rakyat Indonesia masih memiliki peluang untuk bertahan. Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya rasa nostalgia, tetapi juga komitmen bersama dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk terus memperkenalkan dan melestarikannya.
Dengan demikian, permainan tradisional tidak hanya akan menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi juga tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia bagi generasi yang akan datang.
Penulis: Rika Sri Wahyuni, Adinda Syaharani Putri, Agritha Khairunnisa
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































