Malam mulai larut ketika lampu kamar kos kecil itu masih menyala. Di depan laptop yang sudah beberapa kali hang, Rizky tetap berusaha menyelesaikan tugas kuliahnya. Sesekali ia melihat dompet tipis di atas meja, lalu menarik napas panjang. Besok uang makan harus kembali dihemat.
Bagi sebagian orang, kehidupan mahasiswa terlihat menyenangkan. Namun di balik senyum dan unggahan media sosial, banyak mahasiswa sedang berjuang diam-diam untuk bertahan hidup di tanah perantauan.
Menjadi mahasiswa bukan hanya soal datang ke kampus dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa harus menghadapi tekanan ekonomi, rasa kesepian, hingga tuntutan untuk tetap berprestasi di tengah keadaan yang sulit.
Rizky, mahasiswa semester enam di salah satu universitas negeri, sudah merasakan kerasnya hidup jauh dari orang tua sejak awal kuliah. Ia berasal dari desa kecil dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian, sementara ibunya berjualan kecil-kecilan di rumah.
“Kadang saya bingung harus bayar kos atau beli buku kuliah dulu,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Untuk membantu kebutuhan sehari-hari, Rizky bekerja sambilan pada malam hari sebagai penjaga warung kopi. Sepulang kerja, ia masih harus mengerjakan tugas hingga dini hari. Waktu istirahat menjadi sesuatu yang mewah baginya.
Meski begitu, Rizky mengaku tidak ingin menyerah. Baginya, pendidikan adalah harapan untuk mengubah keadaan keluarganya di masa depan.
“Orang tua sudah berjuang keras menyekolahkan saya. Saya tidak mau berhenti di tengah jalan,” katanya.
Fenomena mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah kini semakin banyak ditemukan. Tidak sedikit mahasiswa yang menjadi pengemudi ojek online, pelayan toko, hingga freelancer demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan.
Di sisi lain, tekanan akademik juga menjadi tantangan tersendiri. Tugas yang menumpuk, persaingan nilai, dan tuntutan organisasi sering kali membuat mahasiswa mengalami stres dan kelelahan mental.
Menurut beberapa dosen, mahasiswa saat ini dituntut untuk mampu bertahan dalam situasi yang kompleks. Mereka bukan hanya belajar teori di kelas, tetapi juga belajar menghadapi realitas kehidupan secara langsung.
Namun di balik segala kesulitan itu, kehidupan mahasiswa tetap menyimpan banyak harapan. Persahabatan, solidaritas antar teman, dan mimpi tentang masa depan menjadi alasan mereka terus bertahan.
Bagi Rizky, secangkir kopi hangat dan pesan singkat dari orang tua sudah cukup menjadi penyemangat untuk kembali menjalani hari.
Kehidupan mahasiswa memang tidak selalu tentang kesenangan dan kebebasan. Ada perjuangan yang sering tidak terlihat, ada air mata yang disembunyikan di balik tawa, dan ada mimpi besar yang terus diperjuangkan meski keadaan tidak mudah.
Di kamar kos sederhana dan di tengah tugas yang belum selesai, para mahasiswa sedang belajar menjadi kuat—bukan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi juga untuk menghadapi kehidupan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































