Pendidikan tinggi di Indonesia dewasa ini kerap terjebak dalam pusaran pragmatisme akademik, di mana esensi proses pembelajaran direduksi menjadi sekadar akumulasi angka dalam bentuk Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Fenomena ini melahirkan sebuah kritisisme mendasar: apakah institusi pendidikan saat ini sedang mencetak pemikir yang tangguh, atau sekadar memproduksi pekerja mekanis yang patuh pada metrik kuantitatif semata? Kritik terhadap komodifikasi pendidikan ini menjadi sangat relevan jika kita menelaah realitas sosio-psikologis mahasiswa secara komprehensif. Mahasiswa sering kali mengalami alienasi dari hakikat belajar itu sendiri, terasing oleh birokrasi kampus yang kaku dan ekspektasi pasar kerja yang rigid.
Mengacu pada pandangan pedagogi kritis yang digagas oleh Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970), pendidikan yang berpusat pada sistem “bank” (banking concept of education)di mana mahasiswa diasingkan sebagai wadah pasif yang sekadar menerima deposit informasi dari otoritas akademik terbukti gagal menjawab tantangan eksistensial dan struktural kehidupan nyata. Pendidikan seharusnya melampaui transkrip nilai dan bertransformasi menjadi instrumen pembebasan kesadaran.
Dalam konteks kekinian, glorifikasi terhadap IPK yang sempurna menutupi fakta empiris bahwa kecerdasan kognitif hanyalah satu dimensi parsial dari resiliensi manusia. Laporan World Economic Forum (WEF) dalam The Future of Jobs Report (2023) secara eksplisit mengindikasikan bahwa lanskap profesional masa depan menuntut kompetensi yang jauh lebih multidimensional daripada sekadar kemampuan menghafal teori. Kompetensi seperti pemikiran analitis, pemecahan masalah yang lincah (agile problem solving), dan kecerdasan emosional menjadi fondasi utama.
Tuntutan ini menjelma menjadi beban ganda bagi generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen-Z), yang saat memasuki dunia kerja atau membangun loyalitas kerja jangka panjang sering kali harus berhadapan dengan realitas struktural yang menekan. Munculnya fenomena sandwich generation yang menuntut tanggung jawab finansial lintas generasi, menempatkan para pekerja muda dalam tekanan psikologis yang konstan. Dalam menghadapi dinamika organisasi semacam ini, deretan nilai A di kertas ijazah menjadi tidak relevan tanpa didampingi oleh kematangan emosional dan kelenturan psikologis (psychological flexibility) yang memadai.
Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus segera direkonseptualisasi sebagai ruang diskursus yang memfasilitasi penciptaan makna (meaning-making), bukan semata-mata balai pelatihan pra-kerja. Dalam tinjauan psikologis, proses penciptaan makna ini esensial bagi individu untuk merasionalisasi pengalaman, membangun harapan, dan mempertahankan identitas di tengah ketidakpastian.
Menurut kajian yang diterbitkan oleh Steger et al. dalam Journal of Counseling Psychology (2006) mengenai makna hidup, individu yang berhasil merumuskan tujuan hidupnya melalui interaksi sosial, refleksi, dan eksplorasi nilai-nilai personal terbukti memiliki tingkat kesejahteraan psikologis dan ketahanan mental yang jauh lebih superior. Kampus seharusnya menjadi katalisator bagi proses ini melalui perdebatan kritis di ruang kelas, dinamika politik organisasi kemahasiswaan, dan perbenturan ideologis yang konstruktif.
Bahkan, ketika mahasiswa mengkaji fenomena sosial melalui penelitian atau metodologi kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi seperti yang sering dikaji dalam literatur La Kahija (2017) mereka sejatinya tidak hanya sedang mengolah data analitik. Mereka sedang belajar mendalami narasi manusia, melatih empati, dan mengapresiasi kompleksitas realitas sosial, yang mana merupakan esensi sejati dari pendidikan kehidupan.
Lebih lanjut, dominasi orientasi hasil (result-oriented) sering kali mendistorsi aspek pembentukan karakter moral dan etika sosial. Sebuah studi komprehensif oleh Mulyasa dalam Jurnal Pendidikan Karakter (2021) memberikan penegasan empiris bahwa keberhasilan individu di ranah publik maupun profesional secara signifikan dideterminasi oleh kecerdasan emosional (EQ) dan keterampilan interpersonal, jauh melampaui metrik kecerdasan intelektual (IQ) standar. Kesimpulan ini beresonansi kuat dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang sebagaimana dielaborasi oleh Tilaar (2012) dalam kajian diskursus pendidikan nasional, menekankan pentingnya integrasi holistik antara cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik).
Pendidikan yang mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik hanya akan mereproduksi individu yang cerdas secara artifisial, namun gagap secara moral dalam merespons ketimpangan struktural, krisis empati, dan dilema etis di tengah masyarakat majemuk.
akhirnya, evaluasi kritis terhadap ekosistem pendidikan menuntut adanya pergeseran paradigma dari orientasi nilai menuju orientasi kehidupan secara utuh. Mahasiswa harus didorong untuk membangun kesadaran kritis bahwa mereka sedang merakit kerangka epistemologis untuk bertahan hidup, bukan sekadar memenuhi syarat administratif yudisium. Kegagalan akademis, penolakan institusional, maupun friksi sosial di lingkungan kampus sebaiknya tidak dimaknai sebagai defisit kompetensi yang memalukan.
Sebaliknya, hal tersebut harus dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang secara efektif mengkalibrasi ketangguhan mental individu. Jika institusi pendidikan dan civitas academica tidak segera mengembalikan esensi belajar sebagai upaya memanusiakan manusia yang seutuhnya, kita hanya akan terus terjebak dalam siklus mereproduksi sarjana yang kaya akan validasi di atas kertas, namun miskin makna saat dihadapkan pada panggung kehidupan yang sesungguhnya. Apakah kita siap untuk membongkar ilusi akademik ini dan mulai benar-benar belajar tentang kehidupan?
Ditulis Oleh : Nurul Aeni, Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang
Dosen Pembimbing: Thea Umbarasari, S.Pd., M.Pd.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































