Menjelang akhir bulan, Wildan kembali menghitung sisa uang di dompetnya. Uang sebesar Rp250 ribu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga minggu ke depan.
Hidup jauh dari orang tua membuat Wildan harus belajar mandiri. Ia terbiasa mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar kos, serta berusaha menghemat pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Menurut Wildan, tantangan terbesar sebagai anak kos adalah membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Godaan diskon makanan, belanja daring, serta ajakan teman sering kali membuat pengeluaran membengkak.
“Kalau tidak mencatat pengeluaran, uang bisa habis tanpa terasa. Makanya saya selalu membuat daftar kebutuhan setiap awal bulan,” ujarnya.
Untuk menghemat pengeluaran, Wildan memilih memasak sendiri beberapa kali dalam seminggu. Cara ini dinilai lebih hemat dibandingkan membeli makanan setiap hari. Selain itu, ia juga memanfaatkan berbagai promo transportasi dan belanja untuk mengurangi biaya harian.
Bagi anak kos, bertahan di perantauan bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik setiap pengeluaran yang dihitung dengan cermat, terdapat proses belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Pengalaman mengelola keuangan selama merantau menjadi bekal berharga yang akan berguna hingga masa depan.
Kehidupan anak kos mengajarkan pentingnya mengatur keuangan secara bijak. Dengan perencanaan yang baik, disiplin dalam mengelola pengeluaran, serta kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, anak kos dapat bertahan di perantauan sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































