Bagi sebagian murid, memilih perguruan tinggi sering kali dimulai dari nama besar kampus. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rifo Rijal Al Hakim, murid kelas XII F MAN 1 Yogyakarta. Baginya, yang terpenting bukanlah gengsi kampus, melainkan kesesuaian jurusan dengan minat dan cita-cita. Prinsip itulah yang mengantarkannya diterima di Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Prinsip tersebut lahir dari proses pencarian yang cukup panjang. Awalnya, ia berencana memilih kampus-kampus yang masuk jajaran sepuluh besar nasional. Namun, setelah mempelajari berbagai pilihan, ia menyadari bahwa kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh nama besar perguruan tinggi. Kurikulum yang sesuai dengan tujuan belajarnya justru menjadi pertimbangan utama. “Kalau menurut saya, kita harus idealis terhadap jurusan impian, tetapi realistis dalam memilih kampus,” ujar Rifo.
Keputusan memilih UPI pun tidak datang sejak awal. Rifo mengaku baru mulai melirik kampus tersebut setelah berdiskusi dengan seorang temannya yang sedang menempuh pendidikan di Bandung. Dari berbagai informasi yang diperolehnya, ia melihat bahwa kurikulum Ilmu Komputer di UPI selaras dengan bidang yang ingin ia dalami.
Ketertarikan Rifo terhadap dunia komputer sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di kelas X. Saat itu ia mulai mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Informatika. Pengalaman tersebut membuka wawasannya bahwa dunia komputasi sangat luas dan terus berkembang. “Aku hidup di tengah perkembangan teknologi. Dari situ aku merasa ingin terus belajar supaya suatu saat bisa memberikan manfaat melalui bidang ini,” tuturnya.
Ketertarikannya semakin mengarah pada bidang keamanan siber. Awalnya, Rifo justru lebih menyukai pengembangan web (web development). Namun, ketika mempelajari cara membangun sebuah website, ia menyadari bahwa setiap sistem memiliki celah keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ia bahkan mencontohkan bagaimana sebuah situs sekolah pernah diretas dan disalahgunakan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa membangun teknologi saja belum cukup. Teknologi juga harus dilindungi. “Saya tertarik mempelajari cybersecurity. Saya ingin menjadi orang yang membantu mengamankan sistem agar tidak mudah diserang,” jelasnya.
Keinginannya untuk mendalami dunia teknologi semakin kuat ketika mengikuti ajang Samsung Solve for Tomorrow. Bersama timnya, Rifo mengembangkan gagasan aplikasi yang membantu penyandang tunanetra berlatih yoga melalui teknologi koreksi gerakan dan panduan suara. Meskipun timnya hanya berhasil mencapai babak semifinal, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam. “Melalui kegiatan itu saya sadar bahwa teknologi bisa digunakan untuk membantu banyak orang. Itu yang membuat saya semakin yakin memilih Ilmu Komputer,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan cita-citanya, Rifo mempersiapkan diri menghadapi SNBT sejak jauh hari. Ia mengikuti bimbingan belajar dan aktif mengikuti berbagai try out dari beragam lembaga. Menurutnya, belajar bersama teman menjadi cara yang paling efektif.
Biasanya, Rifo dan teman-temannya belajar pada sore hingga malam hari di sebuah kafe. Suasana santai justru membuat diskusi menjadi lebih hidup. Ketika ada soal yang sulit, mereka bisa saling bertanya dan bertukar cara berpikir sehingga materi lebih mudah dipahami.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapinya bukanlah soal-soal ujian, melainkan rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri. “Kadang saya kurang percaya diri. Untungnya selalu ada teman-teman yang memberikan semangat,” katanya.
Selain itu, ia juga harus pandai mengatur waktu. Ajakan bermain dari teman sering datang di tengah masa persiapan ujian. Rifo belajar menyeimbangkan waktu antara belajar, beristirahat, dan bersosialisasi agar target belajarnya tetap tercapai.
Kini, Rifo menatap masa depan dengan visi yang jelas. Ia bercita-cita menjadi profesional di bidang cybersecurity yang mampu melindungi sistem digital sekaligus menciptakan solusi teknologi yang inovatif dan beretika. Ia ingin berkarier sebagai security consultant, cyber forensic, atau penetration tester, profesi yang berperan penting menjaga keamanan dunia digital yang semakin kompleks.
Di akhir perjalanannya, Rifo menyimpan sebuah prinsip sederhana yang selalu ia pegang. “Berani bermimpi, berani bertindak, berani bertanggung jawab.”
Baginya, mimpi tidak cukup hanya dibayangkan. Mimpi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan disertai keberanian untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. Prinsip itulah yang mengantarkannya menemukan jalan menuju jurusan yang benar-benar sesuai dengan passionnya. Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memilih kampus terbaik, tetapi juga memilih tempat yang tepat untuk bertumbuh.
Penulis : Malya Adzillina Silmi, S.Si. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































