PEKANBARU — Di tengah arus globalisasi dan gempuran budaya asing yang kian masif, upaya mempertahankan identitas bangsa menjadi sebuah keharusan. Menyadari hal tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dari Prodi Teknik Informatika menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk “Bela Negara! Benteng Negara! Melalui Cinta Bahasa Indonesia” yang ditujukan kepada para pemuda di lingkungan masyarakat Komplek BMP di RW 14 Kelurahan Sialang Sakti.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026 ini bertujuan untuk menanamkan kembali semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda, tidak melalui angkat senjata, melainkan melalui penggunaan dan pelestarian Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Mengubah Paradigma Bela Negara
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Kegiatan, Neisya Anwar Putri, menekankan bahwa konsep bela negara di era modern telah berkembang.
“Bela negara hari ini tidak selalu berarti maju ke medan perang. Bagi kita, para pemuda dan mahasiswa, wujud nyata dari bela negara adalah menjaga benteng kebudayaan dan identitas kita, yaitu Bahasa Indonesia. Ketika kita bangga dan menggunakannya dengan baik, kita sedang merawat persatuan bangsa,” tegasnya di hadapan puluhan pemuda yang hadir.
Sosialisasi ini dikemas dengan cara yang interaktif dan menarik. Para mahasiswa UMRI tidak hanya memberikan materi satu arah, tetapi juga mengajak peserta berdiskusi mengenai fenomena pergeseran bahasa di kalangan gen-Z, seperti maraknya penggunaan bahasa gaul atau istilah asing yang kerap menggerus eksistensi bahasa ibu.
Antusiasme Pemuda Setempat
Rangkaian acara diisi dengan berbagai sesi, mulai dari pemaparan materi tentang sejarah Sumpah Pemuda, pentingnya Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu dari Sabang sampai Merauke, hingga kuis kebahasaan yang disambut antusias oleh para peserta.

Salah satu tokoh pemuda setempat, mengungkapkan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa UMRI. “Awalnya kami kira bela negara itu materinya hanya soal militer atau baris-berbaris. Ternyata, lewat bahasa pun kita bisa menunjukkan kecintaan pada negara. Kegiatan ini sangat membuka wawasan kami agar tidak malu menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dan sopan di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Bahasa sebagai Benteng Terakhir
Melalui program sosialisasi ini, mahasiswa UMRI berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya Bahasa Indonesia semakin meningkat. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin jiwa dan karakter bangsa.
Sebagai penutup, acara diakhiri dengan deklarasi bersama oleh para mahasiswa dan pemuda setempat untuk terus menjadikan Bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat ini menjadi bukti bahwa semangat Bela Negara akan terus hidup, mengalir lewat kata-kata, dan kokoh menjadi Benteng Negara yang tak tertembus zaman.
Anggota Kelompok : Muhammad Raditya Hermanda , Neisya Anwar Putri, Rhendi Mahendra, Ega Abelano Pranata , Muhammad kelvin, Angga Dana Pratama , Faren Rhafi Fareza , Zacky Azmiadi
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































